
Di saat Tasya akan ke toilet, ia samar-samar mendengar suara seseorang sedang membicarakan sesuatu ketika langkahnya semakin dekat, ia mengenali pemilik suara itu.
Ia menutup mulutnya ketika mendengar Meili menanyakan tentang kehamilan pada kakaknya, seseorang tidak mungkin bertanya tentang itu jika tidak ada penyebabnya kan?
Tasya kemudian mengurungkan niatnya yang ingin pergi ke toilet.
Hingga di saat Jessy naik ke atas podium pun ia tak pernah melepaskan pandangannya, ia pun juga menatap ke arah Nathan yang berjarak beberapa meter di depannya.
Ia tidak berani bercerita pada Mira, sebelum yang ia memastikan sendiri.
Tapi setelah acara usai, ia melihat Jessy sama seperti biasanya. Apalagi melihat keluarga Nathan yang juga begitu menyayangi kakaknya.
Jika benar kakaknya hamil? Apa itu anak dari Nathan?
Tentu saja Tasya tidak percaya jika Nathan melakukan itu, ia laki-laki yang selalu menghargai perempuan setahu nya.
"Kak!" panggil Tasya pada Jessy.
Jessy langsung menoleh ke arah Tasya.
"Tasya mau bicara sama kakak." ucapnya ragu-ragu.
Setelah itu kedua putri Danu beranjak dari sana.
Nathan yang melihat kepergian istrinya sebenarnya ingin mencegahnya, namun ia terjebak dalam perbincangan orang tuanya.
*
__ADS_1
*
Di sinilah mereka sekarang, di halaman belakang sekolah.
"Ada apa?" tanya Jessy langsung.
Tasya kemudian menatap bola mata kakaknya. "Apa benar kakak sedang hamil?" tanya nya lirih namun masih bisa di dengar oleh Jessy.
Jessy menaikkan sebelah alisnya merasa aneh. Kemudian ia terkekeh, bahkan Tasya sekarang heran melihat reaksi kakaknya.
"Kenapa sih, hari ini banyak banget yang tanya gue hamil?" kata Jessy. "Memang ada yang di rugikan kalau gue hamil?" tanyanya sarkas.
Tanpa sadar Tasya mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan Jessy.
Rugi?
"Udah, nggak ada yang di bicarain lagi kan?" Jessy berniat beranjak pergi, tidak ada niatan untuk menjelaskan apa yang ia sendiri masih belum tau. Lagi pula kalaupun ia hamil memang apa masalahnya.
"Tunggu!" cegah Tasya yang menghentikan langkah Jessy. "Apa kakak tidak kasian membohongi Kak Nathan." Ada rasa marah di setiap kata yang terlontar.
Jessy kembali menoleh pada adik tirinya.
"Kalau kakak memang tidak serius dengan perjodohan kakak, kenapa tidak melepaskan Kak Nathan saja. Dia laki-laki yang baik, berhak mendapatkan pendamping hidup yang baik pula." Tasya mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
Jessy tersenyum miring, ia bersendekap menunggu kata apa lagi yang akan di katakan oleh adik tirinya.
"Kenapa kakak tidak memilih saja bersama laki-laki yang kakak cintai dan --"
__ADS_1
"Dan lo bisa sama Nathan!" sela Jessy, yang seketika membuat Tasya bungkam seketika. Mendengar apa yang di lontarkan Tasya membuat ia teringat saat waktu adiknya itu memberikan kado di hari ulang tahun suaminya, dan sekarang ia bisa menyimpulkan jika adiknya itu menyukai suaminya. Terlihat jelas dari sorot mata Tasya saat ini.
"Lo suka sama Nathan, dan berharap gue pergi dari dia." Lagi-lagi Jessy tersenyum sinis. "Jadi ini sifat asli lo, akhirnya muncul juga!"
"Maksud kakak apa?" Tasya tidak mengerti.
"Meskipun gue anggep lo adek, tapi gue tau sebenernya lo nggak pernah suka sama gue."
"Jangan pikir selama ini gue nggak tau apa yang lo lakuin di belakang gue."
Sontak saja itu membuat tubuh Tasya menegang.
"Selama ini lo yang bilang sama Papa kalau lo nggak mau satu sekolah sama gue, lalu lo yang selalu ngadu tentang kesalahan gue." Jessy selama ini hanya diam karena masih menghormati Mira sebagai ibu sambungnya. Hingga ia tidak pernah mempermasalahkannya.
Karena yang sebenarnya, Tasya memang meminta Danu untuk tidak menyekolahkan mereka di sekolah yang sama. Ia tahu jika kakaknya bisa melampaui apa yang ia capai, dan itu terbukti sejak mereka satu sekolah.
Tasya menggigit bibirnya kuat-kuat, ia tidak menyangka jika kakaknya mengetahui apa yang selama ini ia lakukan.
Awalnya Tasya tidak berniat seperti itu, tapi melihat papa sambungnya yang tidak begitu dekat dengan kakaknya ia mencoba meminta apa yang ia rasa menjadi hambatan.
Jessy menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. "Dan satu lagi, gue harap lo jangan pernah ngurusin hidup gue." Setelah itu ia pergi dari sana. Meninggalkan Tasya yang hanya terdiam, hingga kemudian hanya tangisan yang terdengar dari gadis cantik itu.
...----------------...
...Udah gereget belom? 🤭...
...Eits, tunggu dulu masih belum kelar nih gelombangnya. Masih ada lanjutannya lagi 😁...
__ADS_1