Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Baby Boy?


__ADS_3

Dokter terus melakukan tindakan pada Mariam. Wanita tua itu tiba-tiba mengalami peningkatan detak jantung yang cukup pesat dan itu tidak baik.


Suasana di dalam ICU begitu menegangkan, apalagi setelah beberapa saat melakukan tindakan detak jantung Mariam seketika melemah.


Bukan hanya di dalam ruangan ICU saja yang begitu menegangkan, namun di luar ruangan juga terjadi hal yang sama.


Semua orang terlihat panik melihat keadaan itu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nggak!" Jessy mulai meracau ketika melihat layar monitor samping Mariam menunjukkan garis lurus, dan ia tau artinya itu apa. Tapi ia menolak jika sampai itu benar-benar terjadi.


Bahkan ingin sekali ia lari masuk ke dalam, dan mencoba memaksa agar neneknya untuk membuka mata kembali. Namun percuma saja karena itu tidak akan di izinkan oleh perawat.


"Aaaaa!" teriak Jessy frustasi.


Nathan langsung saja mendekap istrinya. Ia sendiri juga merasakan apa yang istrinya rasakan.


"Aku nggak mau nenek pergi."


"Aku nggak mau nenek ninggalin aku."


"Kenapa semua orang yang aku sayang selalu ninggalin aku."


Tangisnya pecah seketika, tidak ada yang bisa menenangkan Jessy meskipun itu Nathan.


Hingga beberapa saat kemudian penglihatannya terasa memutar, kakinya terasa begitu lemas hingga tidak mampu lagi untuk menopang berat tubuhnya.


Dan di detik berikutnya, ia hanya mampu mendengar suara semua orang yang memanggil namanya namun ia tidak dapat membuka matanya.


Beberapa bulan kemudian.

__ADS_1


Gadis cantik dengan perut sedikit buncit terlihat keluar dari area pemakaman, rutinitas yang sekarang ia lakukan setiap dua minggu sekali.


Suami tampannya yang tadi keluar lebih dulu, segera menghampirinya. "Sudah selesai?" tanya Nathan.


Jessy menganggukkan kepalanya dengan senyum cantik di bibirnya. "Iya"


Mereka kemudian berjalan menuju ke mobil, untuk pergi ke rumah Mami Nilam.


Di dalam perjalanan, tak henti-hentinya salah satu tangan Nathan mengusap perut istrinya. Itu adalah kebiasaan barunya setelah mengetahui bahwa buah cintanya telah tumbuh di rahim Jessy.


"Baby boy gimana kabarnya hari ini?" tanya nya.


Jessy yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas, padahal mereka ketika periksa kandungan sepakat tidak menanyakan jenis kelamin bayi mereka namun suaminya itu selalu saja menyebut anak mereka dengan sebutan baby boy. Karena Nathan yakin jika anak mereka nanti adalah seorang jagoan.


"Sayang kenapa selalu saja menyebutnya baby boy? Bagaimana kalau dia baby girl?" Jessy menatap penuh selidik ke arah suaminya yang sedang menyetir mobil.


Nathan menoleh sekilas ke arah istrinya dengan senyum tampan yang masih saja selalu mempesona. "Tidak apa-apa, kalau cewek juga aku suka. Tapi aku yakin kalau dia adalah jagoan," ucapnya yakin. "Kalau boleh kembar aku juga tambah senang," setelah itu ia tertawa.


Kembar?


Yang benar saja, karena sudah jelas kalau anak mereka itu hanya satu bukan kembar.


"Pasti seru kalau punya anak kembar ya?" Nathan yang tiba-tiba berangan angan.


"Nggak usah ngadi ngadi deh!"


"Serius!"


"Satu aja belum keluar, kenapa malah mikir kembar!" sungut Jessy tidak habis pikir.

__ADS_1


"Kalau begitu, setelah baby boy lahir kita langsung maraton buat adik kembar untuk baby boy." Nathan yang semakin kemana mana pikirannya.


Mata Jessy mendelik seketika. "Hamil saja sendiri."


*


*


Ternyata rencana mereka yang ingin ke rumah Mami Nilam berubah haluan, mereka memutuskan untuk menemui Meili terlebih dahulu.


Mobil Nathan terparkir di depan rumah makan milik Mariam dulu.


Ketika Jessy baru masuk, ia langsung di sambut oleh suara cempreng Meili. "Aaaaaa ... bumil datang juga!" antusiasnya dan segera memeluk Jessy.


Jessy hanya bisa berdecak. "Lo kayak nggak pernah ketemu gue deh," katanya sembari melepaskan pelukan Meili yang membuatnya engap. Tapi tak di pungkiri, itu adalah salah satu yang membuatnya rindu jika lama tidak bertemu sahabatnya itu.


Meili memperlihatkan deretan gigi putihnya mendengar ucapan sahabatnya.


Beberapa saat kemudian kedua gadis itu sudah terlihat duduk di lesehan dan di temani beberapa makanan ringan juga minuman, sedangkan Nathan ia duduk bersama para sahabatnya yang saat itu juga sedang berada di sana.


"Gimana ponakan aku sekarang?" Meili sesekali mengusap perut Jessy.


"Baik, cuma kadang kalau malam dia masing sering ngerjai Papanya." Jessy tersenyum saat mengingat ia yang tiba-tiba terbangun tengah malam dan meminta suaminya itu untuk memasak makanan untuknya.


Meili juga tertawa mendengar itu, ternyata cowok yang dulu terkenal datar nyatanya bisa bertekuk lutut atas nama cinta. Apalagi di saat istrinya sedang hamil, bertambah pula kebucinannya.


"Tadi habis ke makam?" Meili yang tau kebiasaan sahabatnya.


Tawa yang tadi terlihat di wajah Jessy, kina perlahan luntur.

__ADS_1


...----------------...


...Nah, bentar lagi end nih. Setelah ini kita lihat nasib papa Danu ya 🤭...


__ADS_2