
...Part bagian ini radak anget ya, jadi untuk yang umur 17 ke bawah skip dulu ðŸ¤. Yang penting aku dah ingetin ya😅...
Setelah acara pernikahan Sofiana selesai, Jessy dan Nathan memutuskan pulang terlebih dahulu. Karena sudah terlalu lama mereka berada di sana. Sebenarnya sudah sedari tadi mereka akan pulang, tetapi waktu mereka berpamitan kepada semua keluarga, dengan kompak keluarga Nathan menahan mereka agr lebih lama lagi.
"Lo istirahat aja kalau capek!" Di sela-sela Nathan mengemudikan mobilnya ia memperhatikan Jessy yang sedari tadi menyandarkan punggungnya.
Jessy kemudian menoleh ke arah suaminya, ia tersenyum melihat Nathan yang begitu perhatian terhadapnya. "Iya," sahutnya. Ia memang merasakan sangat lelah. Selama di acara tadi semua kerabat Nathan bergantian mengajaknya mengobrol, dan ia tak sampai hati jika menolaknya.
Nathan juga tersenyum ke arah istrinya, ia juga melihat perubahan pada Jessy. Jika dulu istrinya itu adalah singa betina, maka kini sudah berubah menjadi kucing yang jinak.
Nathan mengusap pucuk kepala Jessy sebelum gadis itu menyandarkan kembali kepalanya dan mulai memejamkan matanya.
Tanpa mereka sadari, rasa cinta yang mereka miliki mampu untuk merubah sikap keduanya.
Mungkin di awal-awal mereka merasa terbebani dengan status mereka sebagai suami istri di usia mudah, tapi kini itu semua telah berubah. Mereka mulai nyaman untuk menjalaninya.
Tak lama mobil yang di kendarai Nathan, sampai di halaman rumah Mariam. Rumah Mariam tampak sepi, mungkin nenek istrinya itu masih berada di rumah makannya.
Hingga Nathan sudah mematikan mesin mobilnya, rupanya istrinya itu terlalu nyaman di dunia mimpinya hingga tidak menyadari jika mereka sudah sampai.
Karena Nathan tidak mau mengganggu tidur sang istri, ia memutuskan lebih dulu keluar dari mobil. Dan tubuh Jessy melayang begitu saja, saat Nathan menggendongnya.
Di saat Nathan berjalan menuju kamar sang istri, ia tak berhenti menatap wajah ayu yang kini sama sekali tidak terganggu dalam gendongannya. Bahkan Jessy semakin menyusupkan wajahnya ke dada bidang Nathan.
"Benar-benar seperti kucing yang menggemaskan." Nathan terkekeh setelah mengatakan itu. Meskipun ia menggendong Jessy dengan berjalan menaiki tangga, namun ia sama sekali tidak merasa kesusahan.
Ketika sampai di kamar, Nathan menutup pintu kamar Jessy dengan sebelah kakinya. Ia langsung membaringkan tubuh langsing itu di ranjang.
Melihat wajah damai Jessy ketika tidur, Nathan sejenak berpikir, betapa tangguhnya istrinya itu selama ini. Menghadapi semua masalah yang ia dapat seorang diri. Karena Nathan yakin melihat sikap papa mertuanya terhadap Jessy, tidak mungkin istrinya itu akan berbagi keluh kesahnya kepada papa Danu.
__ADS_1
Jessy sedikit menggeliat ketika ia Nathan merapikan anak rambutnya yang berantakan. Ia sedikit membuka matanya meskipun masih berat. "Apa sudah sampai di rumah?" tanya Jessy dengan bergumam.
Nathan menganggukkan kepalanya "Hm."
Mata Jessy dengan perlahan terpejam kembali, dan itu membuat Nathan lagi-lagi tertawa. "Hei, apa nggak mau ganti baju dulu?" ia rasa tidur dengan gaun seperti itu mungkin tidak akan nyaman.
Mata Jessy kembali terbuka, namun hanya setengahnya saja. "Nanti saja!" sahutnya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya dari pada mengganti baju.
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang terlintas di otak Nathan. "Apa lo mau gue bantu ganti baju?" dengan tersenyum penuh arti ia mencoba ingin mengerjai istrinya.
Dan di luar dugaan, ternyata Jessy menganggukkan kepalanya. Entah Jessy sadar atau tidak dengan jawabannya itu. Tapi bagi Nathan, mungkin dewi fortuna sedang berpihak padanya dan jelas saja itu membuatnya tersenyum lebar.
Nathan sedikit ragu ketika ia akan memulai aksinya, karena ia yakin istrinya memberi persetujuan padanya itu pasti di alam bawah sadarnya. "Tapi bukankah jawaban orang yang seperti ini adalah jawaban yang paling jujur!" Nathan mencari pembenaran.
Lagi pula Jessy adalah istrinya, dan semua yang ada pada tubuh istrinya adalah miliknya. Jadi apa salahnya jika ia melihatnya, bukankah ia juga pernah melihat pemandangan indah itu satu kali! Meskipun tidak sengaja?
Meskipun ia sudah memantapkan niatnya, namun ia tetap saja merasakan jantungnya yang semakin berdetak dengan cepat.
Dengan perlahan tangan kokoh itu menarik ke bawah ketika mendapatkan resleting gaun Jessy. Sebenarnya itu pekerjaan gampang, tapi bagi Nathan rasanya lebih menegangkan dari pada menghadapi ujian.
Hingga beberapa saat resleting itu akhirnya terbuka sempurna. Dan Nathan membalikkan tubuh Jessy kembali. Ia sesekali melihat mata Jessy yang masih terpejam, ia takut jika mata indah itu tiba-tiba terbuka dan langsung berteriak karena terkejut akibat aksinya.
Karena istrinya masih tidak terganggu dengan ulahnya, di detik berikutnya Nathan mulai menurunkan gaun Jessy. Tidak ada hambatan saat gaun itu engan perlahan mulai turun.
Nathan hanya bisa menelan saliva nya dengan kasar ketika bahu itu mulai terlihat, dan seperti sebelumnya begitu putih dan mulus.
Hingga gaun itu tiba di atas dada, Jessy menggeliat kembali. Ia merasa tubuh atasnya sedikit dingin. Karena itu ia perlahan mulai membuka matanya, hingga pertama kali yang ia lihat adalah wajah suaminya.
Jessy awalnya bingung, melihat tatapan suaminya yang tidak seperti biasanya. Bahkan tatapan itu seperti tertuju?
__ADS_1
Mata Jessy seketika terbuka sempurna, saat menyadari sesuatu.
"Ma-mau apa?" tanya Jessy terbata. Bahkan kini tangannya ia silangkan di atas dadanya.
Bukan hanya Jessy yang terkejut, Nathan pun sama terkejutnya karena sang istri tiba-tiba terbangun. Padahal sudah setengah jalan.
Tanpa aba-aba Nathan langsung saja menyatukan bibirnya, pemandangan yang tadi sempat ia lihat sudah membuat tubuhnya sedikit memanas.
Jessy tidak bisa menghindar saat suaminya itu tiba-tiba menyerangnya. Hingga lambat laut ia mulai terbuai. Nathan begitu pintar membuatnya mengarungi rasa luar biasa itu.
Tidak seperti sebelumnya, kini Nathan lebih berani untuk menyentuh istrinya. Tanpa Jessy sadari tangan kokoh itu, mencari sesuatu untuk ia genggam, dan di saat ia mendapatkannya, itu terasa pas di tangan.
"Ungh," satu lenguhan keluar dari mulut Jessy ketika ia merasakan salah satu asetnya di remas oleh sang suami. Ada rasa yang berbeda, tapi itu membuatnya semakin melupakan segala hal.
Setelah berhasil membuat bibir istrinya sedikit membengkak, kini bibir itu mulai turun untuk merasakan leher putih Jessy.
"Akh," Jessy memekik saat Nathan dengan sengaja memberikan tanda kepemilikannya.
Nathan menjeda aktivitasnya, ia melihat wajah istrinya yang sekarang memejamkan mata merasakan apa yang baru saja ia lakukan dengan nafas memburu seperti dirinya.
Jessy perlahan membuka matanya, hingga matanya kini terkunci oleh suaminya yang juga sedang menatapnya dalam. Ia merasakan sesuatu yang masih belum ia pahami, namun itu membuatnya semakin melayang.
Sudah kepalang tanggung, Nathan kembali mendekatkan dirinya kembali. Namun baru saja bibir itu mendarat.
"Apa kalian sedang membuat adonan?" Mariam yang sedari tadi mengetuk pintu tapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Ia ingin menanyakan langsung tentang sakit Jessy kemarin. Ia khawatir jika Jessy sampai mempunyai penyakit parah. Tapi lihatlah kini, ia di buat kesal karena sedari tadi berteriak tapi tidak ada yang membukakan pintu. Padahal ini baru menjelang malam, tidak mungkin kan jika mereka tidur.
...----------------...
...Astaga, kenapa Nenek ganggu aja. Padahal readers kan kepingin ngelihat mereka belah duren ðŸ¤. ...
__ADS_1