
Kejadian di mana Tasya mengungkapkan perasaannya kepada Nathan tadi pagi, nyatanya bukan hanya Meili yang mengetahui itu. Karena ternyata Raka juga mengetahuinya.
Raka tahu bagai mana rasanya jika cinta tak terbalas, karena ia juga pernah merasakannya. Dan itupun ia merasakannya saat perasaanya di tolak oleh Tasya. Cinta yang ia pendam mulai melihat Tasya pertama kali menjadi murid baru di sekolah itu.
Satu tahun ia sudah memendamnya, hingga kemudian ia memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di hatinya. Namun sayang, cintanya tak terbalas.
Dan terakhir ia mengungkapkannya kembali di acara pertunangan Jessy, dan lagi-lagi jawaban Tasya masih sama.
Di saat itulah, Raka mulai mengikhlaskan cintanya pergi. Apalagi ia mulai menyadari jika Tasya memendam rasa terhadap sahabatnya sendiri. Nathan.
Kini rasa itu sudah pergi tak tersisa, yang ada hanya rasa sebatas teman tidak lebih.
Ketika jam istirahat, Raka berpamitan kepada yang lainnya untuk pergi ke toilet. Tapi ternyata langkahnya menuju ke arah kelas Tasya, ia hanya ingin melihat kalau gadis itu baik-baik saja.
Saat sudah di ambang pintu, ternyata Raka melihat Tasya yang menangis di bangkunya. Ia berjalan menghampiri.
Tasya mengangkat pandangannya ketika ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Wajah cantiknya sudah di penuhi air mata.
"Apa sesakit ini?" Tasya sembari mengusap air matanya. Namun cairan bening itu masih tidak mau berhenti.
"Gue sudah lupa rasanya," jawab Raka.
Tangis Tasya semakin pecah mendengar jawaban Raka, seseorang yang pernah berada di posisinya sekarang. "Maaf," lirih nya.
Raka mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Tasya. "Tidak ada yang perlu di maafkan, perasaan seseorang tidak bisa di paksakan." tuturnya memberi pengertian. Karena dirinya pun pernah belajar untuk melupakan rasa sakit itu.
Sedetik kemudian tiba-tiba Meili masuk saja ke dalam kelas. "Ups, sorry!" ucapnya. Ia merasa hadir di saat yang tidak tepat, ia kemudian pergi dari sana. Pergi dengan membawa luka di hatinya.
__ADS_1
Baru saja ia merasakan indahnya jatuh cinta, namun kini ia harus merasakan sakit juga karena cinta.
Tanpa terasa mata Meili meneteskan cairan bening begitu saja ketika mengingat apa yang tadi ia lihat. Raka begitu tulus menenangkan Tasya. "Ternyata aku memang cengeng," ucapnya sambil mengusap air matanya dengan kasar. Ia bahkan tertawa getir.
Saat jaraknya sudah semakin dekat dengan keberadaan Jessy, Meili menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mencoba menetralkan perasaanya yang tadi sampat kacau.
"Maaf lama," ucapnya dengan tersenyum seperti biasanya. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang habis menangis, lalu langsung duduk di samping Jessy.
"Tadi gue pesenin bakso, soalnya yang lainnya lagi antri." Jessy memberitahu. Ia malas sekali jika harus berdesak-desakan.
"Ok," sahut Meili bersiap untuk memakan baksonya.
Tidak lama setelah itu Raka datang lalu duduk di sebelah Meili seperti biasanya.
"Lo boker? Lama amat ke toilet!" cibir Ariel.
Kepala Ariel seketika mendapat pukulan dari Reza. "Woy, lagi makan!" Bisa bisanya sahabatnya itu berbicara hal seperti itu. Tapi Ariel hanya tertawa menanggapi ocehannya.
Sedangkan Raka hanya diam seperti biasanya tidak menanggapi hal yang menurutnya tidak penting.
Suasana di meja mereka biasanya akan ramai dengan suara Meili yang terus mencari perhatian pada Raka, tapi kali ini gadis itu hanya diam menikmati bakso yang kuahnya tamapk merah karena sambal.
"Meili, sudah!" Jessy yang terus memperhatikan Meili memasukkan sambal ke dalam mangkok baksonya. "Nanti sakit perut!" ingatkan nya. Ia bergidik ngeri, bakso Meili bahkan seperti sambal yang di kasih bakso.
Meili hanya tertawa mendengar ucapan Jessy. "Tenang saja, aku kuat makan pedas." Padahal, bibir dan wajah Meili sudah mulai memerah karena rasa pedas yang mulai menjalar.
"Tumben hari ini nggak berisik?" sindir Reza.
__ADS_1
"Iya, bisanya Kak Raka mau makan? Kak Raka mau minum?" Ariel menirukan gaya Meili ketika merayu Raka.
Meili yang sedang melahap bakso, kemudian mengangkat pandangannya. Dan terlihat Ariel, Reza, Nathan juga Jessy menoleh ke arahnya.
Ia kemudian tersenyum, lalu menoleh ke arah Raka. "Kak Raka mau aku suapin?" bertepatan makanan Raka yang baru datang. Nada suaranya pun masih sama seperti biasanya.
Raka menatap ke arah Meili, baru kali ini ia menatap lekat wajah Meili. Dan ia bisa melihat, jika tatapan Meili tidak seperti biasanya yang selalu berharap ia membalas perhatian yang di berikan Meili.
Sewaktu di kelas tadi, Raka sempat melihat mata Meili yang kecewa melihatnya bersama Tasya.
Karena tidak mendapat jawaban, Meili melanjutkan memakan makanannya. "Ya sudah kalau tidak mau."
Semua yang di sana sedikit heran melihat Meili, tidak biasanya gadis itu cepat menyerah.
"Meili!" kesal Jessy. Ia kesal karena Meili masih saja menambahkan sambal ke dalam mangkuknya. "Cabai mahal Meili, nanti mamang bisa rugi."
"Nanti aku akan bayar lebih untuk sambalnya," tukas Meili.
Padahal maksud Jessy tadi hanya bercanda, karena ingin Meili berhenti. Tapi sepertinya Meili memang benar-benar aneh.
"Jangan makan sambal lagi!" untuk pertama kalinya Raka memberi perhatian pada Meili.
Seketika Meili menoleh ke arah Raka. Bibirnya kemudian melengkung begitu saja membentuk sebuah senyuman. "Terima kasih atas perhatiannya." Namun mata Meili masih saja tetap sama. Kemudian ia melanjutkan makannya lagi hingga tandas tak tersisa.
Mungkin dengan itu cara Meili mengobati rasa sakitnya.
...----------------...
__ADS_1
...Selamat hari Ibu, buat Mommy Mommy yang terhebat π©βπ§βπ¦...