
Tidak lama dari kedatangan Jessy, rupanya mobil Nathan terlihat memasuki rumah Mariam. Bedanya jika tadi Jessy datang dengan keadaan kesal, tapi Nathan terlihat tenang seperti biasa.
"Nek," Nathan menghampiri Mariam yang masih bersantai di teras kemudian mencium punggung tangannya.
"Apa kamu mau bertemu istrimu?" tebak Mariam. Ia curiga jika cucunya sedang bertengkar dengan suaminya, tapi ia tidak mau ikut campur. Karena itu sudah di luar hak nya sekarang.
Nathan menganggukkan kepalanya dengan senyuman tampan nya.
"Mungkin dia sedang di kamar," ujar Mariam. "Sebelum kamu masuk, tolong singkirkan dulu motor kurang ajar itu dari depan pintu." pinta Mariam.
Nathan kemudian menoleh pada motor istrinya yang terparkir sembarangan, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat itu. Tapi kemudian ia membawa banteng ke garasi.
"Istrimu kelihatannya sedang konslet!" Mariam memutar telunjuknya di samping kepalanya. "Mungkin obatnya sedang habis," imbuhnya kemudian tertawa.
Nathan yang mendengar ucapan Mariam hanya ikut tersenyum. "Kalau begitu Nathan masuk dulu Nek," pamitnya dan di angguki Mariam.
Nathan berjalan ke arah kamar istrinya berada. Saat di depan pintu, Nathan memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi hingga beberapa kali ia mengetuk tidak ada sahutan atau tanda-tanda pintu itu akan terbuka.
Akhirnya Nathan memilih untuk masuk ke dalam kamar istrinya, dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah baju Jessy yang berserakan.
Setelah masuk Nathan kembali menutup pintu kamar. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan istrinya, namun tidak ada.
Hingga di detik berikutnya, ia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. "Di sana rupanya!" gumamnya.
Nathan kemudian memutuskan untuk menunggu Jessy, tapi sebelum itu ia mengambil seragam bahkan dalam*n Jessy yang berserakan. Kemudian ia taruh kedalam keranjang baju kotor yang berada di depan pintu kamar mandi.
Tidak ada rasa canggung ketika Nathan memegang baju istrinya yang terbilang privasi itu.
__ADS_1
Dengan santainya Nathan berbaring di ranjang Jessy, sontak saja aroma parfum yang biasa di gunakan Jessy langsung tercium oleh indra penciuman nya. Wangi vanila yang begitu lembut.
Di dalam kamar mandi Jessy masih menikmati acara berendam nya, dengan memejamkan mata menikmati aroma terapi yang bisa menenangkan pikiran nya.
Pikiran yang sedari tadi mengusik hatinya, hingga membuatnya merasa kesal tanpa sebab.
Bukanya ia tidak menyadari apa yang menjadi penyebab kekesalannya, hanya saja ia mencoba mengingkarinya.
Setelah Jessy merasakan air berendam nya mulai dingin, ia memutuskan untuk mengakhirinya.
Handuk putih menjadi pembungkus tubuh rampingnya. Bahkan handuk itu tidak bisa menutupi bentuk tubuhnya secara sempurna. Hanya sebatas dada dan di bawah bok*ng seksinya yang dapat tertutup.
Kemudian ia menyambar handuk kecil yang akan ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Ternyata cowok tuh sama saja," gerutunya sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Rasa kesalnya tiba-tiba muncul kembali. "Sok kecakepan!" umpatnya sembari keluar dari kamar mandi.
"Kalau aja bukan gue yang di jodohin, mana ada gadis lain yang mau."
"Di cari hingga ke ujung langit dan bumi pun nggak ada cewek secantik gue." Jessy terus saja mengomel, meluapkan aap yang ada di hatinya.
Sedangkan Nathan yang memperhatikan tingkah istrinya, hanya tersenyum miring. "Benarkah?" ucapnya yang mengagetkan istrinya.
"Astaga!" pekik Jessy dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak seketika, mendapati suaminya yang sedang berbaring di ranjangnya.
Dan rasa kesal itu semakin menjadi setelah melihat wajah suaminya. "Mau apa lo kesini?" ketusnya. Jessy seakan lupa jika dirinya sekarang hanya memakai handuk yang membelit tubuhnya.
Nathan semakin tersenyum melihat sikap istrinya yang terlihat kesal terhadapnya. Ia kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke arah Jessy. "Kenapa lo tadi justru pergi?"
__ADS_1
Jessy tau apa yang di maksud suaminya. "Memangnya kenapa?" yang di balas Jessy dengan sebuah pertanyaan.
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, istrinya ini memang sangat keras kepala. "Gue tadi--"
"Gue nggak butuh penjelasan dari lo," sela Jessy. "Lagi pula bukan urusan gue," imbuhnya dengan nada suara yang masih terdengar ketus.
"Benarkah?" Nathan tersenyum tipis. "Bukannya karena lo cemburu kan! Jadi lo pergi," ujarnya.
"Nggak ada yang seperti itu," sangkal Jessy. "Cepat pergilah, gue mau ganti baju." usir nya.
Hingga sesaat kemudian Jessy terdiam, dia mencoba mencerna kata-kata terakhirnya.
Ganti baju!
Dan benar saja, ketika matanya mengarah pada tubuhnya ia baru menyadari keadaanya sekarang. Matanya pun membulat sempurna.
"Astaga!" pekiknya dalam hati.
Rasanya ingin sekali berlari dari hadapan suaminya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia kemudian mencoba bersikap sebiasa mungkin, meskipun wajahnya sekarang memerah menahan malu.
Nathan yang mengetahui kesadaran istrinya, hanya bisa melipat bibirnya kuat-kuat agar tidak tertawa. Hingga dia kemudian berdehem untuk mengalihkannya. "Ada apa?" Pura-pura tidak mengerti.
Jessy hanya melengos dan beranjak dari sana, sepertinya suaminya itu tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dengan santainya Jessy mengambil baju dan perlengkapannya, kemudian ia menoleh ke arah suaminya. "Kenapa masih di sini?"
"Memangnya kenapa? meskipun lo telanj*ng di depan gue juga tidak dosa." ujarnya, tapi kemudian Nathan berjalan menuju pintu kamar Jessy. Ketika akan menutup pintu ia menoleh pada istrinya. "Lumayan juga," katanya dengan senyum di bibirnya. Setelah itu dia keluar dari kamar Jessy.
Jessy yang mendengarnya hanya bisa terdiam, dan di detik berikutnya. "Nathan,,!" teriaknya.
__ADS_1