
Malam hari, di rumah besar dan mewah milik keluarga Danu hanya terlihat Tasya seorang diri yang sedang duduk di pinggir kolam renang. Seperti sebelumnya, Danu dan Mira sedang berada di luar kota untuk mengurusi pekerjaannya.
Tak jauh berbeda dengan Jessy, Tasya juga sedang merasakan indahnya jatuh cinta dan itu juga dengan laki-laki yang sama. Suami Jessy, Nathan.
Jika perasaan Jessy terbalas oleh Nathan, lain lagi dengan Tasya.
Meskipun ia mempunyai rasa terhadap Nathan, tapi nyatanya ia hanya mampu memendamnya sendiri. Tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya.
Cintanya untuk sekarang masih ia simpan sendiri, mungkin di saat ia mempunyai keberanian ia akan mengungkapkannya. Hanya melihat foto Nathan yang berada di ponselnya sudah mampu untuk membuatnya tersenyum. Foto yang ia ambil secara diam-diam ketika Nathan sedang bermain futsal di sekolah.
Selama ia menjadi wakil ketua OSIS, di situlah ada perasaan yang menyusup di hatinya. Di tambah interaksi yang sering di lekukannya selama kegiatan OSIS.
Rasa cintanya yang besar terhadap Nathan, ia sampai melupakan bagaimana seandainya jika cintanya tidak terbalas? Bagai mana rasa sakit yang nanti harus ia terima!
Bahkan ia menolak perasaan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, dan lebih memilih mempertahankan rasa cintanya yang tidak tau akan berakhir seperti apa.
"Sayang!" panggil seseorang.
Sontak saja suara yang sangat ia kenali itu mengejutkannya. Tasya segera menyimpan ponselnya dan beranjak dari sana untuk menghampiri kedua orang tuanya yang baru pulang. "Ma, Pa." ia kemudian berhambur memeluk Mira dan Danu bergantian.
"Kenapa lama sekali?" keluhnya setelah pelukan itu terlepas.
Mira dan Dan hanya tersenyum mendengar putrinya yang mengeluh. "Maaf sayang," Mira yang juga menyesal meninggalkan putrinya. "Tapi kami punya sesuatu untuk kamu." Mira memberikan paper bag pada Tasya yang di terimanya dengan bahagia. Seperti biasa, ketika ia pergi keluar kota bersama suaminya makan akan selalu memberikan oleh-oleh untuk putrinya.
"Wah sepatu." Tasya dengan antusias mengeluarkan oleh-oleh nya yang ternyata sepatu dari paper bag.
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Danu.
Tasya menganggukkan kepalanya. "Iya Pa," sahutnya. Tapi kemudian matanya tidak sengaja melihat masih tersisa satu paper bag di tangan Mira. "Itu apa Ma?"
"Ini buat kakak kamu sayang, besok Mama akan memberikannya." Jawab Mira. Ia sendiri tidak lupa untuk memberikan anak sambungnya oleh-oleh. Apalagi rasa bersalah karena tidak bisa menjenguknya ketika Jessy sakit, karena Tasya memberitahunya ketika ia baru saja sampai di kota tujuan.
Tasya hanya tersenyum mendengar itu. Ia sendiri ketika kakaknya sakit tidak berani untuk menjenguknya, mengingat hubungannya selama ini tidak terlalu dekat. Apalagi ia pernah berprasangka pada kakaknya itu.
__ADS_1
Lain Tasya lain pula Jessy. Malam ini ia mencoba untuk memejamkan matanya, tapi matanya sama sekali tidak mau terpejam. Ia sudah mencari posisi tidur ternyaman nya, tapi itu masih tidak membuatnya untuk terlelap.
"Kenapa tidak bisa tidur?" Jessy sendiri juga merasa aneh. Padahal malam ini sudah sangat larut, tapi ia tidak bisa untuk tidar. Ia merasa ada yang kurang, tapi entahlah ia tidak tau.
Hingga beberapa saat kemudian, Jessy memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan pergi ke balkon kamarnya. Mungkin sedikit menikmati udara malam akan membuatnya mengantuk setelah ini.
Berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan langit yang begitu indah dengan di hiasi ribuan bintang. Mungkin salah satu bintang yang bersinar di sana adalah sosok ibunya.
"Ma," lirihnya. Untuk malam ini tidak ada kesedihan ketika ia memanggil ibunya. Bahkan bibirnya tanpa terasa membentuk lengkungan senyuman.
Tanpa di sadari seseorang masuk ke dalam kamarnya, dan membawa segelas susu hangat. Ia kemudian berjalan ke arah Jessy, sebelum menghampiri ia menaruh gelas yang berada di tangannya dimeja belakang tepat Jessy berdiri.
"Kenapa belum tidur?" Jessy tersentak kaget merasakan ada tangan kokoh yang melingkar di perutnya, dan ia tahu itu pemilik suara yang seharian ini mengisi pikirannya.
Ingin sekali Jessy menoleh ke arah suaminya, tapi wajah suaminya terlalu dekat dengan wajahnya. Karena posisi Nathan sekarang yang menyandarkan dagunya di pundak Jessy. Dan itu membuat detak jantung Jessy kembali berdetak dengan cepat.
"Lo kesini?" Bukannya menjawab, Jessy justru memberikan pertanyaan kembali pada Nathan. Karena dia pikir, suaminya itu malam ini tidak akan kembali setelah pulang dari counter. Ia bahkan melirik ke bawah yang ternyata mobil suaminya sudah terparkir, entah bagaimana ia bisa tidak menyadarinya.
Nathan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jessy. "Memangnya kenapa?" tanyanya menggoda. "Gue takut ada seseorang yang nggak bisa tidur kalau nggak gue peluk," terangnya.
"Ck," Jessy berdecak kesal untuk menutupi rasa malunya. Ia ingin melepaskan pelukan suaminya, tapi Nathan justru memeluknya dengan erat.
"Sudah malam, jangan tidur malam-malam. Lo baru aja sembuh," Nathan mengingatkan.
Perhatian seperti inilah yang membuat Jessy semakin melayang kedalam rasa cinta untuk suaminya. "Gue nggak bisa tidur," jujurnya.
"Mungkin karena nggak ada lo!" batin Jessy.
Nathan kemudian melepaskan pelukannya, dan mengambil gelas yang tadi ia bawa. "Minumlah, biar sedikit hangat. Udaranya sangat dingin," ia menyerahkan segelas susu itu pada Jessy.
Jessy langsung saja meminumnya hingga tandas. "Terima kasih," setelah gelas itu kosong tak tersisa. Ia kemudian menaruh kembali di meja.
"Apa manisnya pas?" tanya Nathan. Tapi tatapannya tertuju pada pinggir bibir Jessy yang terdapat sisa susu yang tadi di minumnya.
__ADS_1
"Iya, seperti buatan Nenek." jawabnya dengan tersenyum, karena rasanya memang sama seperti buatan Mariam.
"Benarkah?" Nathan memastikan.
Jessy menganggukkan kepala, tapi ia sedikit salah tingkah ketika mendapati suaminya yang terus saja menatapnya dalam.
Tanpa terasa Nathan dengan perlahan mengikis jarak di antara mereka. Dan itu membuat Jessy semakin berjalan mundur, jangan lupakan juga Jessy yang sekarang semakin di buatnya gugup.
"Apa boleh gue coba?" Nathan tetap menatap dalam mata Jessy.
Jessy melirik ke arah gelas yang tadi sudah kosong. "Ta-tapi sudah habis," jawabnya terbata.
Melihat senyuman aneh di wajah suaminya, Jessy semakin di landa rasa panik.
Nathan begitu saja menarik pinggang Jessy agar tidak dapat lagi menghindar darinya. Dengan gerakan cepat Nathan sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Cup.
Mata Jessy membulat, ketika suaminya berhasil mengecup samping bibirnya.
Nathan kemudian menjauhkan wajahnya, dan mencecap bibirnya sendiri. Ia mencari tahu rasa apa yang tadi ia dapatkan. "Memang benar manis, seperti orang yang meminumnya." ujarnya dengan tersenyum tampan.
Belum sempat Jessy tersadar dari keterkejutannya, kini suaminya sudah menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamar.
"Ayo tidur, sudah malam." Nathan membantu Jessy berbaring begitu juga dirinya, dan tidak lupa juga memberikan pelukan hangat untuk sang istri.
"Oh ya, tadi Mami memberitahu kalau besok acara pernikahan Sofiana." Nathan yang hampir lupa. Ia tadi sempat mampir ke rumahnya setelah pulang dari counter, dan mendapatkan berita itu dari Mami Nilam.
Jessy yang hampir saja memejamkan matanya, kini terbuka kembali. Ia kemudian mengangkat wajahnya hingga bisa melihat wajah suaminya yang juga menatapnya. "Benarkah?" Jessy sedikit terkejut, karena terakhir kali yang ia dengar Sofiana menolak perjodohan itu. Bahkan itu juga yang membuatnya cemburu kala itu, karena menyangka Sofiana adalah kekasih Nathan. "Apa kita akan ke sana?"
"Iya, makanya sekarang cepat tidur." Nathan memberi kecupan di kening Jessy, dan kemudian ikut memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, sudah terdengar dengkuran halus dari sepasang suami istri itu. Yang menandakan dua insan itu sudah terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
...----------------...
...Aku nggak bisa double up, tapi aku kasih part yang panjang aja ðŸ¤....