Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Butik


__ADS_3

"Maaf Nek, jadi merepotkan!" Meili merasa tidak enak. Di acara sarapan pagi itu ia baru bertemu dengan Mariam.


Wanita tua itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Nenek malah senang kamu mau tinggal di sini. Rumah ini jadi rame."


"Iya Meili, anggap aja rumah sendiri." Jessy menimpali. Ia sendiri baru menyadari, di balik senyum yang selalu terlihat di wajah sahabatnya ternyata menyimpan banyak luka.


Sedangkan Nathan ia hanya diam saja menyimak percakapan para wanita itu. Tapi sejujurnya ia masih sedikit kesal dengan istrinya, karena merasa telah di kerjai. Namun begitu ia bisa apa, bukankah wanita selalu benar!


Hingga siang hari tiba, ternyata Meili sedang demam. Dengan terpaksa Jessy pergi sendiri untuk mencari gaun.


Padahal tadi ia berencana akan pergi bersama Meili untuk membeli gaun yang akan digunakan di acara prom night lusa.


"Kok sendiri?" Nathan melihat istrinya yang hanya sendirian.


"Meili sedang demam."


"Nggak di bawa ke rumah sakit?"


"Dia nggak mau, tapi tadi udah aku kasih parasetamol."


"Terus sekarang gimana?"


"Ya kita pergi berdua saja."


"Ok."


Kemudian Nathan mulai melajukan mobilnya, tujuan hari ini adalah ke butik langganan Mami Nilam.


"Sayang, apa aku nggak jadi ikut aja ya?" Jessy mulai ragu. "Nanti kalau Meili masih sakit, aku sendirian dong."


"Terserah kamu saja, tapi kamu nggak nyesel kalau nggak ikut. Kan itu acara terakhir kamu di SMA!" ujar Nathan.


Jessy rasanya semakin dilema. "Ya sudah kalau begitu tetap beli saja, untuk pergi tidaknya lihat nanti saja." finalnya.


Karena jalan yang begitu lenggang, mereka akhirnya sampai di butik lebih cepat dari biasanya.


Di dalam butik tentu mereka mendapat pelayanan yang terbaik, karena para pegawai tau jika mereka anak dan menantu dari pelanggan tetap di sana.


Tidak beberapa lama, salah satu pegawai yang bertugas melayani datang dengan membawa beberapa gaun. "Silahkan!" Mempersilahkan Jessy untuk memilih dan mencobanya.


"Sayang, yang ini bagaimana?" tanya Jessy mencoba gaun bewarna merah nyala. Lengan pendek dengan bagian bahu sedikit terbuka, tentu saja itu membuatnya semakin mempesona.


Mata Nathan melotot melihat itu, cantik! Tentu saja. Tapi ia tidak rela jika sampai semua mata para lelaki tertuju pada istrinya. "Yang lain saja."


Jessy menurut saja, hingga kemudian ia kembali berdiri di hadapan Nathan dengan gaun bewarna hitam. "Yang ini bagaimana?"

__ADS_1


Lagi-lagi Nathan menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju, karena gaun yang ini tanpa lengan dan panjang baju sedikit lebih pendek dari pada yang tadi. "Yang lain saja."


Jessy kembali menuruti perkataan suaminya, namun ia sudah mulai merasa sedikit kesal. Dan untuk sekian kalinya ia mencoba gaun, namun Nathan masih saja tidak setuju. "Ya sudah kalau begitu, nggak usah beli baju saja." finalnya, tentu saja dengan raut wajah kesal dan bibir yang mengerucut maju.


Nathan menelan saliva nya susah payah, jika begini bisa timbul perang dunia ke empat. Batinnya.


"Sayang, coba kamu pilih sekali lagi mungkin yang terakhir akan cocok." bujuk Nathan.


"Nggak mau, nanti ujung-ujungnya nggak cocok lagi."


"Coba dulu saja, siapa tau nanti cocok."


"Kalau nggak coco?"


"Iya kita cari sampai ketemu yang cocok."


Setelah itu Jessy kembali ke ruang ganti, mencoba gaun berikutnya. "Sayang yang ini bagaimana?" Ia memakai gaun bewarnah putih.


"Bagus," jawab Nathan. Ia hanya memilih jalan aman, tapi selain itu gaun itu juga sudah terlihat cocok dengan istrinya.


"Tapi kayaknya aku kelihatan gendutan deh kalau pakai yang ini, aku ganti aja ya!" Jessy kembali ke ruang ganti meninggalkan suaminya yang terbengong.


Tak lama ia kembali lagi dengan gaun warna peach. "Kalau yang ini bagaimana?"


"Kamu dari tadi bagus-bagus aja, sebenarnya kamu itu serius nggak sih." Jessy melihat suaminya dengan jengkel.


"Astaga," batin Nathan.


"Tapi kamu memang terlihat cantik dengan gaun itu, bahkan akan jauh lebih cantik kalau tidak memakai apa-apa." ujar Nathan tanpa sadar. Padahal niatnya tadi hanya ingin menyenangkan hati istrinya, namun mulutnya bablas begitu saja.


"Sayang!" teriak Jessy dan langsung kembali ke kamar ganti. Kenapa suaminya itu tidak tau malu sekali, bahkan penjaga toko yang menemaninya sampai menahan senyum.


*


*


Sesampainya di rumah Jessy langsung berjalan menuju kamar Meili dengan satu paper bag di tangannya.


"Meili!" panggil Jessy dari luar kamar. Namun tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya ia memutuskan untuk membukanya.


Setelah pintu kamar terbuka, benar saja Meili sedang tertidur. Jessy menaruh paper bag yang ia bawa di samping ranjang, tadi ia sengaja membalikan Meili gaun yang sama dengannya hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil.


"Masih demam," gumam Jessy setelah ia menempelkan punggung tanganya ke kening Meili. "Lebih baik panggil Dokter saja." Ia kembali keluar karena tidak mau mengganggu tidur Meili.


"Bagaimana keadaan Meili?" tanya Nathan begitu Jessy masuk ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Masih demam, nanti panggil Dokter saja."


"Mungkin itu lebih baik."


"Ya sudah, aku mau mandi." Jessy berjalan ke arah kamar mandi, tapi belum sempat ia menutup pintu suaminya begitu saja menerobos masuk.


"Ayo mandi bareng?" ajak Nathan dengan seribu rencana di pikirannya.


"Nggak, mandi sendiri-sendiri. Nanti lama kalau sama kamu," jelas saja Jessy sudah hafal dengan tingkah suaminya.


"Memang lama kenapa?" Nathan tersenyum miring, ia mulai berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Karena --"


Klek.


...Area Terlarang Gengs 😁...


Nathan sudah berhasil mengunci kamar mandi. "Ayo," ia membawa istrinya di bawa shower. Dan di detik berikutnya mereka sudah basah terkena air. "Kamu harus tepati janji yang semalam sayang," bisik nya.


Bibirnya begitu saja menyambar bibir istrinya, dan tanpa di sadari Jessy pakaiannya perlahan lolos dari tubuhnya.


Tubuh Jessy bahkan sudah menegang di buatnya, sentuhan dari suaminya sungguh bisa membuatnya bisa melupakan akal sehatnya.


"Sayang, kamu sudah sangat menginginkannya." Posisi wajah Nathan sekarang tepat berada di depan dada istrinya, dan ia bisa melihat niple dari istrinya sudah mengeras.


Jessy hanya mengahlikan pandangannya, jika begini ia sudah di pastikan kalah oleh permainan suaminya.


"Ahh." Tanpa sadar Jessy meremas kepala Nathan dan semakin menekannya, ketika suaminya itu melahap dadanya dengan rakus.


Hingga beberapa saat, setelah Nathan puas menikmati dua bulatan. Wajah Nathan terus turun hingga tepat di depan daerah terlarang istrinya.


Jessy menggelengkan kepala melihat itu, meskipun ia dan suaminya sudah sering melakukannya tapi tetap saja ia merasa malu jika seperti ini.


"Jangan di tutupi," Nathan menyingkirkan tangan istrinya yang berusaha menutupi. "Aku ingin mencobanya!" Entah apa yang mendorongnya untuk melakukan itu.


Ia mengangkat sebelah kaki istrinya dan ia letakkan di pundaknya, dan di detik berikutnya ia melancarkan apa yang dia ingin kan.


"Jang -- Akhh." Terlambat sudah, suaminya sudah memulai permainannya. Rasanya tiba-tiba seperti ada aliran listrik yang mengaliri seluruh tubuhnya, bahkan ia hanya bisa menggambarkan rasa itu. Luar biasa.


Dan di kamar mandi itu hanya terdengar suara merdu mereka yang saling barsautan untuk mencari indahnya surga dunia.


...----------------...


...Pak suami........ 🥰...

__ADS_1


__ADS_2