Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Terjawab Sudah


__ADS_3

Nathan yang berada di luar pintu kamar istrinya hanya bisa tersenyum mendengar teriakan Jessy. Istrinya yang semakin kesal karena sikapnya.


Hingga kemudian senyum tampan itu tiba-tiba hilang dari wajah tampan Nathan, saat ia merasakan sesuatu. Tangannya bergerak begitu saja menyentuh di mana letak jantungnya berada.


Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. "Gue kenapa?" gumamnya.


Entah perasaan apa yang Nathan rasakan sekarang, yang jelas ia merasakan sesuatu yang berbeda. Apalagi pemandangan indah yang baru saja di suguhkan oleh istrinya. Sebagai lelaki normal tentu saja pemandangan luar biasa itu sedikit mengganggu pikirannya.


"Sial," umpat Nathan. Ia menyunggar kasar rambutnya, pikirannya tiba-tiba saja berkelana kemana-mana.


Beberapa hari kemudian.


Sikap Jessy terhadap Nathan masih sama seperti terakhir obrolan meraka di dalam kamarnya. Ia masih saja ketus, dan ia tidak membiarkan Nathan untuk bicara terhadapnya. Di rumah maupun di sekolah ia tetap menghindari Nathan.


Bahkan Jessy harus berbohong ketika Mami Nilam menyuruhnya untuk berkunjung, ia beralasan sedang banyak tugas dari sekolah, hingga tidak bisa membuatnya kemana-mana.


Seperti saat sekarang ini, meskipun Nathan sedang menunggunya mengerjakan hukuman karena terlambat masuk sekolah, tapi Jessy sama sekali tidak berbicara dengannya.


Padahal biasanya istrinya itu akan selalu protes jika ia menghukum nya. Dan hukuman kali ini adalah membersihkan perpustakaan.


"Lo di tunggu Mami di rumah," Nathan membuka percakapan. Karena sudah beberapa hari ini Mami Nilam terus saja bertanya kapan menantunya itu akan mengunjunginya.


Jessy yang sedang membersihkan rak buku hanya diam dan melanjutkan tugasnya. Dia tidak ada niatan untuk menyahuti ucapan Nathan.


Nathan menghembuskan nafasnya pelan. Sikap istrinya masih saja ketus sejak kejadian itu, tapi ketika ia ingin menjelaskannya, Jessy tidak mau mendengarkannya.


Jessy terkejut ketika tiba-tiba Nathan mengambil kemoceng yang ada di tangannya. Dan kemudian ia menatap tajam ke arah Nathan. "Sebenernya mau lo apa sih!" ketus Jessy. "Gue harus balik ke kelas habis ini."


Nathan tidak mendengarkan protes yang di ucapkan istrinya, ia hanya menatap dalam lensa mata bewarna biru itu. "Lo masih marah dengan kejadian saat itu?"


Jessy segera mengalihkan pandangannya. "Tidak."


Nathan menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. Ia kemudian mengikis jarak dengan istrinya, hingga membuat Jessy bersandar di rak buku.


Mata Jessy melotot melihat tindakan suaminya. Mentang-mentang di perpustakaan tidak ada murid lain selain mereka, suaminya itu bisa bertindak seenaknya.


"Kenapa?" Nathan mulai menyadari jika istrinya mulai kesal.


Pertanyaan suaminya semakin membuat Jessy geram. Jelas saja tindakan yang di dilakukannya salah, tapi masih saja bertanya. "Minggir nggak!" Jessy mencoba keluar dari kungkungan tangan Nathan. Tapi suaminya itu sepertinya tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. "Semakin lama gue ngeliat lo, maka semakin gue benci." ucap Jessy yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


Melihat sikap istrinya tidak membuat Nathan marah, ia justru tersenyum tipis. "Semakin lo benci, maka akan gue rubah rasa benci lo menjadi cinta." balas Nathan.


"Dasar gil*," umpat Jessy.

__ADS_1


*


*


Meili heran melihat wajah sahabatnya. Sedari tadi setelah menyelesaikan hukuman dari suaminya Jessy terlihat semakin tidak bersahabat. Rasa penasaran sebenarnya mulai merasukinya, tapi ia lebih memilih mengunci rapat mulutnya. Karena beberapa hari kemarin saat ia bertanya perkembangan hubungannya dengan suaminya, Meili justru mendapat semburan maut dari Jessy.


Meili kemudian menoleh ke arah Tasya. Dan lagi-lagi ia harus menghembuskan nafasnya kasar. Lain Jessy lain pula Tasya, jika Jessy sedang marah itu akan terlihat dari ucapan, raut wajah juga tindakannya.


Sedangkan Tasya, gadis itu entah marah atau bagaimana. Yang jelas, sahabatnya itu hanya diam dan menghindar. Dan hanya berbicara jika di tanya.


Saat bel pulang sekolah Meili menghampiri Jessy. "Jessy tunggu sebentar ya! Perutku lagi mules nih!" Setelah berkata seperti itu Meili langsung pergi meninggalkan Jessy.


"Dasar," sungut Jessy.


Setelah jam istirahat tadi Meili bilang pada Jessy jika ia ingin bermain ke rumahnya. Meskipun Jessy sudah menolaknya, tapi bukan Meili namanya jika tidak bisa memaksa Jessy. Kebetulan juga Meili juga tidak membawa mobil.


Hingga setengah jam berlalu tidak ada tanda-tanda kedatangan Meili kembali dari toilet.


"Tuh anak, nyetor apa kesedot wc sekalian?" gerutu Jessy. Ia kemudian beranjak dari sana. Jessy memutuskan untuk menunggu saja di parkiran.


Di parkiran pun hanya tinggal beberapa kendaran yang berada di sana.


"Lo!" Jessy tersentak kaget ketika Nathan tiba-tiba mencekal tangannya. "Lepas!" Jessy menyentakkan tangannya, tapi Nathan justru menariknya.


"Gue nggak mau," Jessy yang masih mencoba melepaskan diri. "Lepas! Kalau nggak--"


"Aaaaa!" teriak Jessy ketika Nathan begitu saja menggendongnya. Bahkan cara menggendong suaminya tidak kalah dengan cara memanggul beras. "Turunin gue!"


Nathan tidak memperdulikan teriakan istrinya, ia langsung saja memasukkan Jessy ke dalam mobilnya. Dan ia segera berjalan memutari mobil menuju pintu sampingnya.


Tanpa aba-aba Nathan mengemudikan mobilnya, perlahan mobil itu melaju keluar dari area sekolahan.


Di dalam mobil, tidak ada percakapan. Tentu saja Jessy masih marah dengan tindakan suaminya yang sedang memaksanya untuk ikut dengannya.


Nathan hanya melirik sekolah ke arah istrinya yang sedang membuang muka ke arah jendela, tapi ia hanya membiarkannya saja.


Tidak lama mobil Nathan memasuki pelataran rumahnya.


Deg.


Jantung Jessy seketika berdebar. Dari dalam mobil, ia dapat melihat gadis yang beberapa waktu lalu di peluk suaminya kini sedang bercengkerama dengan ibu mertuanya dan Oma di teras rumah.


Ada rasa tidak nyaman di hatinya melihat itu, dan tanpa sadar Jessy meremas rok sekolahnya.

__ADS_1


"Ayo turun!" Nathan yang melihat istrinya justru melamun. "Apa mau gue gendong lagi?" tanya Nathan dengan senyum tampan nya.


"Nggak," jawab Jessy cepat. Dan kemudian ia turun dari mobil.


Mami Nilam yang menyadari kedatangan menantunya, jelas saja membuatnya senang. Begitu pun Oma yang beberapa hari ini juga merindukan cucu menantunya.


"Sayang, kamu datang!" Nilam langsung menghampiri Jessy dan memeluknya.


"Maaf Mi, Jessy baru sempat kesini." ucapnya tidak enak. Bahkan wajah masam beberapa detik yang lalu sekarang juga tidak terlihat.


Nilam mengurai pelukannya, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa sayang, Mami mengerti." ujarnya sembari mengusap rambut Jessy penuh kasih sayang.


Perlakuan Nilam jelas saja membuat senyum cantik Jessy terbit di bibirnya. Jessy kemudian berjalan menghampiri Oma dan mencium punggung tangannya. "Bagaimana kabar Oma?"


"Baik, kamu sendiri bagaimana? Apa Nenek kamu juga sehat?" tanya Oma.


Jessy menganggukkan kepalanya. "Baik Oma, Nenek juga sehat."


"Oh ya, mungkin kalian belum saling kenal?" ujar Oma sembari menoleh ke arah Jessy dan gadis di sampingnya. "Sayang, ini Sofiana. Cucu dari kakan Oma,"


Jessy tiba-tiba merasakan tenggorokannya kering, setelah itu menatap gadis yang kini sedang menatapnya dengan senyum manis.


"Sofiana," ucapnya mengulurkan tangannya pada Jessy.


"Jessy," dengan memaksakan senyumnya Jessy menerima uluran tangan Sofiana.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu pasti capek." kata Nilam.


Di dalam kamar suaminya Jessy hanya berdiri di balkon kamar suaminya. Ia benar-benar terkejut mengetahui kenyataan beberapa waktu lalu. Di mana yang beberapa hari ini terus mengusik pikirannya.


Nathan yang baru keluar kamar mandi setelah membersihkan diri, kemudian berjalan menghampiri di mana istrinya berada. Tangan kokohnya langsung saja ia lingkaran ke pinggang ramping Jessy dari belakang, dan dagunya ia sandarkan pada bahu Jessy. "Apa sekarang lo masih cemburu?" tanya nya dengan nada sedikit mengejek.


Jessy yang tadi sempat terkejut mendapat perlakuan dari suaminya, sekarang ia merasa kesal kembali setelah mendengar pertanyaan Nathan. "Gue nggak pernah cemburu," elaknya. Lalu mencoba melepaskan pelukan Nathan.


Tapi Nathan justru memeluknya semakin erat.


Di lain tempat, Meili sedari tadi mondar mandir di kamarnya. "Mudah-mudahan besok malaikat maut nggak ngerasuki Jessy," doa nya.


Karena tadi Meili memang sengaja meninggalkan Jessy sendirian di kelas, tentu saja itu karena permintaan Nathan kepadanya.


...----------------...


...Hayo siapa yang sempat suudzon sama Nathan, cepat minta maaf nggak perlu nunggu lebaran 😁. ...

__ADS_1


...Maaf up nya telat, sebenarnya kemarin udah ngetik setengah. Tapi ada gangguan dari pak suami 😁. Hingga buyarlah semua konsentrasi othor πŸ˜…. ...


__ADS_2