
Beberapa bulan berlalu.
Menginjak kandungannya yang sudah memasuki sembilan bulan, Jessy akhirnya memutuskan untuk kembali. Setelah ia memerlukan waktu untuk mengobati luka hatinya.
Sekarang ia sudah merasakan ketenangan di hatinya, berjalannya waktu membuat sisi dewasa dalam dirinya kian terlihat. Apalagi ia yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Ia sekarang tinggal di rumah Ibu mertuanya, sedangkan Nenek lebih memilih tinggal di rumah Oma. Tentu saja di temani oleh Oma, dan perawat untuk membantunya. Sejak melewati masa kritis, Nenek harus menggunakan kursi roda. Kesehatannya sudah tidak seperti dulu.
Meskipun Jessy sudah memintanya untuk ikut, namun Mariam bersikeras untuk tetap menghabiskan masa tuanya di Bogor.
"Ibu negara di mana? Nggak keliatan?" Reza yang tak melihat keberadaan Jessy.
Siang ini Reza dan Ariel berkunjung ke rumah Nathan, mumpung hari ini mereka ada waktu luang.
"Ada, lagi di taman belakang." jawab Nathan.
Sejak istrinya itu tinggal di rumahnya, Jessy menyulap taman belakang menjadi penuh dengan tanaman anggrek. Tanaman yang sangat di sukai oleh neneknya.
*
*
Setelah menyelesaikan acara bersantai nya, Jessy memutuskan untuk kembali ke kamar. Badannya sudah terasa gerah, sejak usia kandungannya semakin tua ia semakin merasakan panas.
Kamar Nathan kini pun pindah ke lantai satu, agar Jessy tidak perlu naik turun tangga.
Langkah kaki Jessy terhenti ketika melewati ruang tengah, di sana ia melihat suami dan sahabatnya itu begitu serius memperhatikan sesuatu.
Ia akhirnya memutuskan putar haluan ke arah suaminya.
Langkah kaki seseorang yang mendekat membuat ke tiga pria itu menoleh.
"Sayang." Nathan melihat istrinya mendekat. "Kamu perlu sesuatu?"
Jessy yang awalnya hanya penasaran kemudian terdiam, mendengar pertanyaan suaminya ia tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Aku ingin bakso," katanya.
"Ok, habis ini aku belikan." Nathan menyanggupi.
"Ya sudah kalau gitu," Jessy kembali berjalan menuju ke kamar.
Reza dan Ariel yang melihat kepergian istri sahabatnya itu, bisa bernafas lega. Pasalnya jika Jessy tau apa yang mereka perbuat barusan, yakin mereka akan di jadikan rempeyek oleh Jessy.
Karena mereka tahu sejak Jessy mengandung, wanita itu berubah menjadi singa betina. Hanya menjelang persalinannya saja, mulai berubah sedikit lunak.
Nathan kemudian menatap kedua sahabatnya itu dengan tajam, namun hanya di balas senyum kaku dari keduanya.
"Lo sendiri tadi kan lihat," ujar Ariel.
Nathan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, kedua sahabatnya itu semakin lama memang semakin ada-ada saja kelakuannya. Dan bodohnya ia yadi juga terpengaruh, ia kemudian beranjak. "Gue mau pergi, kalian pulang sana."
Mata Reza dan Ariel mendelik. "Ngusir?"
"Nah itu tau," Nathan kemudian pergi menuju ke arah garasi. Tentu saja ia akan mencarikan apa yang di minta oleh ibu negaranya.
"Sia*lan tuh anak," sungut Ariel. Tapi setelah itu mereka berdua akhirnya pergi juga dari sana, tidak mungkin juga mereka masih berada di sana.
Beberapa saat kemudian, Nathan sudah kembali ke rumah dengan dua bungkus bakso di tangannya. Ia langsung menuju dapur untuk mengambil mangkok dan sendok, tidak lupa juga minum yang semuanya ia letakkan di nampan.
Ketika ia sudah berada di kamar, ternyata istrinya itu tidak ada. Nampan yang tadi ia bawa ia taruh di atas nakas.
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka, Jessy baru saja menyelesaikan ritual berendam nya.
Perhatian Nathan seketika tertuju pada istrinya.
Melihat pemandangan yang begitu menggetarkan imannya, tubuh mulus istrinya yang hanya terbalut handuk. Dan kepalanya yang terbungkus handuk, memperlihatkan beberapa helaian rambut yang masih basah.
Glek.
Pikirannya seketika mengingat apa yang ia lihat bersama temannya tadi, tentu saja efeknya membangunkan sesuatu yang bersembunyi.
Iya tadi sahabatnya itu telah mengajaknya untuk menonton situs biru, di mana setiap adegannya selalu membangkitkan gairah.
"Loh, kamu sudah pulang!" Jessy yang menyadari keberadaan suaminya. Ia meneruskan langkahnya menuju arah lemari, mengambil daster yang sekarang menjadi baju ternyaman nya.
Meskipun begitu ia tetap saja terlihat cantik, apalagi sejak mengandung tubuhnya masih tetap langsing. Dan mengembang hanya di bagian tertentu saja.
Nathan tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia justru beranjak dan mengunci pintu kamar mereka. Perlahan ia berjalan menuju ke arah istrinya yang masih berada di depan lemari.
"Aaa!" Jessy terkejut, karena tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut buncit nya.
"Sayang," bisik Nathan.
Jessy sedikit merinding, merasakan bibir suaminya kini mulai menyusuri lehernya. "Sayang," lirihnya. Ia mencoba melepaskan diri, namun suaminya tak membiarkannya.
Tangan yang tadi berada di perut buncit Jessy kini perlahan merayap ke atas, mencari dua bongkahan yang kini sedikit berkembang. Dan ia menyukainya.
"Ahh," satu desa*han keluar dari mulut Jessy, ia mulai terbawa arus gairah yang di ciptakan oleh Nathan. Apalagi kini ia merasakan tangan nakal itu yang meremas gemas di kedua asetnya.
Nathan membalikkan tubuh yang kini sudah pasrah akan ulahnya, pandangan mata mereka sudah bertemu dan sama-sama sayu. Pertanda mereka sudah sama-sama menginginkan sesuatu yang akan sebentar lagi terjadi.
Entah siapa yang memulainya, tapi yang jelas kini kedua bibir itu telah bertemu dan menciptakan decapan.
Tanpa di sadari Jessy, handuk yang tadi di kenakan nya kini sudah teronggok di lantai. Tentu saja itu tangan Nathan yang sudah ahli.
Setelah merasakan manis bibir sangat istri, kini ia mulai turun menyusuri leher putih Jessy. Hingga berhenti ketika berada di dua bulatan kenyal dengan ****** yang mencuat menandakan sang empu sudah bergairah.
Tanpa menunggu lama, Nathan melahapnya. Merasakan benda favoritnya yang sebentar lagi akan menjadi milik anaknya.
Oh, rasanya ia tidak rela. Hingga tanpa sadar ia semakin kuat menghisap nya, seakan ia sedang berebut.
"Eungh," Jessy rasanya tak mampu menahan suara indah itu.
__ADS_1
Tangan kekar itu rupanya tak berhenti di dua bulatan yang sedang ia nikmati, namun satu tangannya kini merambat turun hingga ke pusat istrinya. Tentu saja ia akan bermain di sana, mempermainkan nya hingga sang pemilik serasa terbang ke awan.
"Sayang," Kaki Jessy rasanya bergetar merasakan serangan yang bertubi tubi dari suaminya.
Nathan tak memperdulikannya, ia terus bermain di pusat. Dua jarinya kini bahkan melesat masuk, terasa hangat di dalam sana.
Sesaat kemudian, Nathan sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia menjeda kegiatannya untuk melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benang. "Aku sudah tidak bisa menahannya." Nathan dengan suara seraknya.
Ia menggiring istrinya ke arah ranjang, tepat disisi ranjang Nathan menyuruhnya untuk berpegangan hingga posisinya kini menun**ging. Semakin besar kandungannya, posisi inilah yang di rasa aman karena tidak akan menekan perutnya.
Perlahan, Nathan mulai memasukinya.
Rasanya tetap sama seperti dulu, seperti mereka pertama kali melakukannya. Sempit, dan ia menyukainya.
Hentakan demi hentakan mulai ia lakukan, untuk sekarang ia harus melakukannya dengan perlahan. Mengingat adah anak mereka yang sedang tumbuh di rahim Jessy.
Udara di dalam kamar siang itu berubah menjadi panas, dinginnya AC tidak mampu mendinginkan gelora mereka.
Beberapa saat kemudian, kesadaran Nathan mulai menghilang. Ia merasakan akan tiba di puncak permainannya, begitupun dengan istrinya yang terasa kuat mencengkeram miliknya.
Hentakan itu semakin lama semakin tak terkendali, hingga di detik berikutnya ia menekan kuat ke pusat inti Jessy. Mengeluarkan nya di dalam sana hingga tak tersisa.
"Arggh," erang mereka berdua.
*
*
Malam hari ternyata kedua orang tua Nathan belum juga kembali, mereka tadi pagi berangkat ke Bogor untuk menjenguk Oma dan Nenek.
"Papi sama Mami, katanya besok pagi baru pulang." Kata Jessy setelah panggilan telepon selesai. Ia baru saja menelpon ibu mertuanya.
"Kalau begitu ayo kita tidur saja," ia menepuk sisi ranjang tempatnya berbaring. Tidak lupa dengan tersenyum penuh arti.
Jessy yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas, ia tahu apa maksud dari tatapan suaminya. "Malam ini tidak ada jatah lagi, udah di pakai tadi siang katanya."
Karena setelah pergumulannya tadi siang, ia merasakan perutnya sedikit mulas. Namun ia tetap tenang, mungkin nanti saja jika sakitnya semakin meningkat baru akan bercerita dengan suaminya.
Senyum di wajah Nathan luntur seketika, padahal niatnya ingin mengambil kesempatan sebelum ia berpuasa setelah anak mereka lahir.
Hingga tengah malam tiba, mata Jessy tidak bisa terpejam. Rasa sakit di perutnya rasanya semakin lama bertambah sakit. Kemudian ia bangkit dan menuju kamar mandi, ia ingat sesuatu.
Dokter kandungannya pernah memberitahu bahwa ketika akan melahirkan, akan mengeluarkan lendir bercampur darah dari pusat intinya.
"Apa kamu sudah mau lahir sayang?" Ia bertanya pada anak yang masih berada di kandungannya. Setelah itu ia mengambil tisu toilet dan mengusap area intinya.
Matanya membulat, ternyata di tisu terdapat lendir dengan sedikit bercak darah. "Ternyata benar, bukankah masih kurang dua minggu lagi? Kenapa aku nggak ngerasain pecah ketuban?" Yang perkiraan HPL memang masih dua minggu lagi.
Ia lalu keluar dari kamar mandi, kini ia berjalan ke lemari. Mengambil tas yang sudah di siapkan oleh Mami Nilam beberapa hari yang lalu. Berisi perlengkapan bayi dan juga beberapa baju miliknya.
Sesekali ia mendesis sembari mengusap perutnya ketika merasakan mulas kembali pada perutnya.
Jessy menoleh ke arah suaminya. "Kelihatannya aku mau lahiran." beritahu nya.
"Oh!" Nathan memejamkan matanya kembali, ia masih belum mencerna apa yang di ucapkan istrinya.
Di detik berikutnya, ia seketika duduk dengan mata membulat. "Melahirkan?" teriaknya karena terkejut. "Bagaimana bisa?" imbuhnya.
Jessy memutar bola matanya malas, kenapa suaminya yang tampan tiada duanya itu di saat seperti ini menjadi lemot. "Mungkin Baby-nya udah minta keluar," jawab Jessy asal. Ia masih tetap tenang, tidak seperti suaminya yang kini sedang di landa panik.
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit," Nathan langsung beranjak dari ranjang dan menggandeng Jessy.
"Sayang," panggil Jessy dan menghentikan langkah suaminya.
"Ada apa? Sakit ya? Ayo aku gendong?" Nathan bersiap menggendong Jessy, namun istrinya itu justru memukul lengannya.
Jessy berdecak kesal. "Kamu nggak mau pakai celana?" melihat Nathan hanya memakai boxer dan bertel*anjang dada.
"Ha!" Nathan melihat ke arah dirinya, lalu menepuk keningnya. "Tunggu sebentar aku ganti baju dulu, kamu tahan dulu ya! Jangan melahirkan dulu."
*
*
Setelah menempuh perjalanan 15menit, mobil Nathan akhirnya tiba di rumah sakit.
Tidak lupa ketika di perjalanan, ia juga mengabari kedua orang tuannya kalau Jessy akan melahirkan.
Di dalam ruang bersalin, Nathan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jessy.
Sakit yang di rasakan Jessy sekarang rasanya sudah meremukkan semua tulang-tulangnya, bahkan ia hanya bisa mendesis merasakan sakit itu.
"Mama," rintihannya. Di saat seperti ini ia teringat kepada mamanya yang telah lama meninggalkannya. Apa seperti ini yang mamanya rasakan dulu.
"Sayang!" Nathan rasanya tidak tega melihat Jessy yang terus merintih. Dia sudah melakukan apa yang Dokter bilang, mulai mengusap punggungnya dan memberi semangat kepada istrinya sembari menunggu pembukaan penuh. Namun itu semua tidak berhasil.
Istrinya masih kesakitan, keringat sudah mulai memenuhi kening hingga lehernya.
Tidak lama Dokter perempuan yang bertugas membantu persalinan Jessy datang dengan beberapa perawat, ia akan memeriksa kembali kondisi calon ibu muda itu.
"Sudah pembukaan penuh, kita akan bersiap untuk persalinannya." Dokter berujar.
Setelah beberapa saat semua alat-alat penunjang persalinan sudah siap. Infus pun sudah di percepat, memberikan efek dingin pada tubuh Jessy.
"Ibu, ikuti aba-aba saya ya!" kata Dokter yang di angguki Jessy.
Kaki Jessy sudah terbuka lebar dengan Dokter yang berada di tengahnya.
"Kita mulai, nanti hitungan ketiga Ibu mengejan ya. Seperti latihan yang pernah ibu lakukan ketika kontrol kandungan." instruksinya. "Satu, dua, tiga. Mengejan Bu!"
"Eunghh," sekuat tenaga Jessy mengejan. Tangannya semakin menggenggam erat tangan suaminya. Tapi rupanya anak mereka masih tidak mau keluar.
__ADS_1
"Atur nafas dulu Bu," ujar sang Dokter. Hingga kemudian mereka mengulangi hal yang sama, namun usaha mereka masih belum berhasil. Baby nya masih saja betah di dalam.
Wajah Jessy mulai berubah pucat, tenaga yang ia keluarkan rasanya terkuras habis. Mata indahnya perlahan sayu.
"Sayang," Nathan mencoba agar istrinya tetap terjaga. Genggaman pada tangannya terasa mengendur. "Bertahanlah." Sungguh ia tidak tega, jika saja rasa sakit itu bisa di pindahkan. Ia rela menggantikannya.
Di depan ruangan bersalin, terlihat semua keluarga berkumpul. Mulai dari Mami Nilam, Papi Tama, Oma, Nenek dan Papa Danu.
Papa Danu mendapatkan kabar dari sang menantu, beberapa saat lalu. Ia sungguh terkejut mendapatkan kabar itu, karena sudah beberapa bulan ia menunggu kabar dari sang putri namun sama sekali tak terdengar. Bahkan ia sudah menyangka jika putrinya tidak akan pernah memaafkannya, karena sakit hati yang ia torehkan.
Semua orang terlihat cemas, karena sadri tadi masih belum ada kabar tentang keadaan Jessy dan bayinya.
Dokter yang melihat keadaan Jessy semakin lemah mau tidak mau harus mempersiapkan operasi cesar, ia tidak mau mengambil resiko keselamatan ibu dan anak. "Ibu, sekali lagi kita coba ya!" tangan Dokter itu menggapai gunting. Ia bersiap akan memberikan robekan pada jalan lahir, itu cara terakhir yang akan di gunakan.
Jessy mengatur nafasnya kembali, meskipun keadaanya sudah lemas tapi mengingat bayi yang ada di rahimnya sedang menantikan kehidupan baru untuk melihat indahnya dunia. Sekuat tenaga ia akan berusaha.
"Satu, dua, tiga. Mengejan Bu." interaksi Dokter.
Krek.
"Eungh," Jessy mengeluarkan semua tenaga terakhirnya.
Oek.
Oek.
Oek.
Tangisan malaikat mereka terdengar menggema ke seluruh ruangan.
Jessy yang melihat itu, hanya bisa tersenyum bahagia di iringi air mata yang mulai mengalir.
Tak terkecuali Nathan, hari ini ia telah menjadi seorang ayah. "Sayang, dengarkan! Malaikat kita sudah lahir." katanya sembari mengecup kening Jessy.
"Selamat ya Pak, Bu. Putra kalian begitu tampan." ujar Dokter.
*
*
Di ruang perawatan, Jessy hanya bisa tersenyum melihat bayinya yang menjadi rebutan para orang tua. Bayi tampan itu sama sekali tidak terganggu, setelah tadi kenyang dengan asi Jessy.
Di luar ruang perawatan, Danu juga tersenyum menyaksikan interaksi itu dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ia masih tidak berani untuk masuk, rasanya akan sangat canggung nantinya.
Jessy tanpa sengaja pandangannya menangkap keberadaan sang Papa, ia tersenyum melihat itu. Sebenarnya ketika Nathan memberikan kabar kepada Danu, itu adalah keinginan dari Jessy.
Jessy memutuskan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya, melupakan semua kejadian buruk di masa lalu. Ia mencoba ikhlas dengan takdirnya, meskipun di awalnya terasa sangat sulit.
Namun kembali lagi, ia belajar menerima semuanya. Jika tidak begitu, maka ia tidak ubahnya dengan papanya dulu yang tidak memperdulikannya.
"Pa!" panggil Jessy, membuat semua orang menoleh ke arah padang Jessy. "Masuk lah, Papa tidak ingin melihat cucu Papa?"
Tubuh Danu menegang, Lagi-lagi ia tidak percaya. Putrinya kini sudah bisa bersikap hangat terhadapnya. Mengingat terakhir kali mereka bertemu, putrinya begitu dingin terhadapnya.
Perlahan ia berjalan masuk, kemudian mendekat ke arah ranjang Jessy berada. "Nak," ucapnya gugup. "Terima kasih, sudah memberikan kesempatan buat Papa."
Suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi hari, melihat interaksi putri dan sang ayah yang telah lama tidak bertemu.
Jessy menganggukkan kepala. "Di dunia ini, semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan semua kesalahan berhak untuk mendapatkan maaf."
Danu tak kuasa menahan rasa bahagia di dalam dirinya, hingga kemudian ia memeluk putri cantiknya. Putri kecilnya yang masih sama seperti dulu."
"Mama Mira nggak ikut?" Setelah pelukan mereka terlepas, Jessy baru menyadari jika tidak melihat keberadaan ibu sambungnya.
"Mama masih di luar kota," Danu menjelaskan.
Jessy hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan, ia sudah mengetahui keadaan Tasya. Nathan pernah bercerita, jika Tasya dan Mama Mira berada di luar kota untuk melakukan pengobatan.
"Nak, kamu mau gendong?" Oma mendekat ke arah Danu dengan bayi tampan yang berada di gendongannya.
Danu menoleh ke arah Oma, kemudian beralih pada bayi tampan itu. "Iya Bu."
Tangannya sedikit bergetar, ketika bayi tampan itu perlahan pindah dalam gendongannya.
Bayi mungil yang begitu tampan, perpaduan kedua orang tuanya yang cantik dan tampan. Tidak lupa bayi tampan itu, mewarisi lensa mata besarnya biru. Warna mata dari sang ibu.
"Tampan sekali," Danu memuji cucunya. "Namanya siapa?" Ia menatap ke arah putri dan menantunya bergantian.
Semua orang juga melakukan hal yang sama, menatap kedua orang tua baru itu. Mereka baru menyadari, jika bayi tampan belum mempunyai nama.
Nathan tersenyum, lalu menoleh ke arah istrinya. "Alex Pratama." beritahu nya.
*
*
Di balik semua masalah akan selalu ada kebahagiaan yang menanti, seperti apa yang di alami oleh Jessy. Bertahan dengan pahitnya hidup, demi berharap akan ada kebahagiaan di akhir cerita hidupnya.
Dan semuanya terbukti, kebahagiaan mulai menghampirinya. Meskipun ia harus merasakan sakit yang begitu dalam demi melupakan semuanya.
...~END~...
...----------------...
...Alhamdulillah udah rampung cerita Jessy dan Nathan, gimana di episode terakhir? Rasanya nano nano kan 🤭? Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu cerita ini hingga akhir. ...
...Cerita ini bisa sukses juga berkat dukungan kalian, aku ucapkan terima kasih sekali lagi ☺. ...
...Untuk cerita Meili dan Raka sudah mulai terbit, kalian bisa cari dengan judul "KU KEJAR CINTAMU" Up setiap pukul 00.00 😁. ...
...Sampai ketemu di cerita berikutnya 🥰...
__ADS_1