Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Ide Gila Jessy


__ADS_3

Setelah menyelesaikan interogasinya, Jessy langsung mengantarkan Meili pulang ke rumahnya.


"Nggak mampir dulu?" tawar Meili setelah mobil Nathan sudah sampai di rumahnya.


Mobilnya terpaksa di tinggal di apartemen Raka karena Jessy yang menyuruhnya. Jessy menyuruhnya agar ikut bersama mobil mereka saja, sedangkan tadi Raka berniat untuk membawa mobil Meili tapi Meili menolaknya karena tidak mau merepotkan lebih banyak lagi.


"Lain kali saja," tolak Jessy. "Ingat, jangan makan cabai lagi."


Meili hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih. Karena dirinya sendiri pun tidak menyangka akan seperti ini jadinya. "Iya," sahutnya.


Setelah itu mobil Nathan mulai melaju untuk kembali pulang ke rumahnya.


"Apa Meili benar-benar menyukai Raka?" Jessy bertanya pada suaminya yang fokus menyetir.


"Sepertinya begitu." jawab Nathan dengan melirik sekilas istrinya yang sekarang duduk sambil menghadapnya.


"Tapi Raka sangat cuek!"


"Karena sikap Raka memang begitu."


"Iya, seperti kamu dulu." Jessy lalu mengubah duduknya menghadap depan. Ia teringat dulu awal pertemuannya dengan suaminya, sikapnya tidak jauh beda dengan Raka. Tapi entah bagaimana sekarang bisa berubah menjadi mes*m jika bersamanya.


Bibir Nathan tertarik ke atas membentuk senyuman. "Tapi itu juga bisa membuat kamu jatuh cinta." Fix untuk kali ini Jessy tidak dapat mengelak, karena apa yang di katakan Nathan benar adanya.


Jessy hanya mencebikkan bibirnya.


Tangan Nathan terulur untuk mengusap kepala Jessy. "Jangan kayak gitu mukanya, nanti aku semakin cinta."


Mata Jessy membulat mendengar itu, meskipun ia terkejut mendengar ucapan suaminya. Tapi rona merah di pipinya tidak bisa membohongi jika hatinya sekarang sedang berbunga-bunga. Bahkan ia sekuat tenaga mengulum bibirnya agar suaminya tidak tahu jika ia menyukai gombalan recehnya.

__ADS_1


*


*


Malam hari, ternyata Jessy memutuskan untuk menginap di rumah mertuanya karena Nilam yang menyuruhnya. Yah... meskipun Jessy sendiri memang berniat untuk menginap, tapi setidaknya ia tidak perlu mengungkapkan keinginannya.


Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan, yang dia tau ia hanya sedang ngerasa rindu dengan kebersamaan suaminya.


Anggap saja ia gila, tapi di kamus cinta tidak ada yang namanya masuk akal jika orang sedang jauh cinta.


Seperti biasa, Nathan menghabiskan waktunya untuk belajar. Mematangkan pengetahuannya untuk mengahadapi ujian.


Hingga jam sepuluh malam pun, Nathan masih setia dengan buku di tangannya.


Jessy yang sedari tadi sudah membayangkan ingin menghabiskan waktunya dengan sang suami harus pupus sudah.


Tapi bukan Jessy namanya jika harus menyerah begitu saja. Ia beranjak dari ranjang menuju lemari. Ia mengambil celana pendek dan kaos.


Jessy sengaja menekuk kakinya agar celana pendek yang ia gunakan semakin tertarik, hingga memperlihatkan pah* mulusnya.


Sedikit demi sedikit, tangan Jessy juga menarik kaos bagian bawahnya ke atas. Tentu saja, pinggang rampingnya seketika terlihat.


Anggap saja ia konyol melakukan hal itu hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari suaminya.


Uhuk.


Uhuk.


Jessy berpura pura batuk agar Nathan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Yes," batin Jessy. Ternyata ide gila yang bersarang di otaknya benar-benar berhasil ketika Nathan menoleh kearahnya.


Nathan menautkan kedua alisnya, ia kemudian beranjak dan berjalan ke arah istrinya.


Jessy tiba-tiba merasakan detak jantungnya berdetak kencang, pasti setelah ini akan terjadi?


Ia mempersiapkan diri, apalagi ia tau suaminya itu sangat mes*m.


Semakin dekat langkah Nathan makan Jessy akan semakin salah tingkah.


"Udaranya sangat dingin," Nathan merebahkan Jessy hingga berbaring. Dan tentu saja di dalam hati Jessy ia bersorak senang. "Pakai selimutnya nanti masuk angin," Nathan menarik selimut dan memakaikan pada Jessy hingga sebatas dada.


"Huh!" Otak Jessy tiba-tiba berhamburan ke mana-mana.


"Sebentar akan aku buatkan teh hangat." Akhirnya Nathan keluar dari kamar.


Jessy hanya bisa menatap punggung Nathan yang sudah hilang di balik pintu tanpa bisa berkata-kata.


Tidak beberapa lama, Nathan kembali dengan segelas teh hangat di tangannya. "Minumlah."


"What?" batin Jessy.


"Beneran?"


"Nggak mempan gitu?"


"AAAAA!!!"


...----------------...

__ADS_1


...Maaf partnya pendek 🙏...


__ADS_2