Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Kembali


__ADS_3

Kelopak mata Jessy sedikit berkedut, ketika ia merasa ada seseorang yang memanggil namanya. Dengan berat hati ia harus mengakhiri dunia mimpinya. Ia perlahan mulai membuka matanya, dan ternyata di sampingnya sudah berdiri sahabatnya.


"Jessy!" panggil Meili.


Sedari tadi gadis itu sudah membangunkan sahabatnya, tapi ternyata Jessy lebih memilih dunia mimpinya.


Jessy mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang menembus jendela vila. Hingga kesadaran nya terkumpul, ia seketika terduduk.


Selimut yang semalam ia gunakan bersama suaminya masih melekat erat di tubuhnya. "Nathan," ucapnya dengan pandangan menelusuri sekitarnya untuk mencari keberadaan suaminya.


"Kak Nathan!" pekik Meili terkejut.


Semalam Meili memang tidak menyadari jika Jessy tidak tidur di sampingnya, tapi pagi ini ia terkejut melihat sahabatnya itu tidur di sofa ruang tamu sendirian.


"Jessy, kamu semalam tidur dengan Kak Nathan?" tanya Meili dengan terkejut, dan langsung saja otaknya menjalar ke segala arah. "Kamu dan Kak Nathan nggak ngelakuin itu di sini kan?"


Jessy hanya memutar bola matanya malas. Entah kenapa otak Meili selalu di penuhi hal-hal yang seperti itu.


"Jessy!" Meili sedikit kesal karena Jessy tidak mendengarkannya. "Cepat jawab! Nggak kan?"


"Memangnya kenapa kalau kita lakuin itu disini?" Nathan yang hendak ke dapur menyempatkan menjawab pertanyaan Meili yang tadi sempat ia dengar. Kemudian meneruskan langkahnya menuju dapur.


Sebelum semua teman-teman nya terbangun, pagi-pagi sekali ia menggendong Jessy untuk ia pindahkan ke dalam vila. Bahkan sekarang ia sudah segar setelah membersihkan diri.


Mata Meili dan Jessy melotot mendengar jawaban Nathan. Sedangkan yang punya mulut hanya berlalu begitu saja tanpa memperhatikan reaksi kedua gadis itu yang terkejut.


"Jessy! Kamu?" Meili yang menatap Jessy dari atas sampai bawa mencoba memastikan sesuatu yang bersarang di pikirannya. "Jadi beneran! Kamu celup-celup?"


"Ya ampun!" Jessy memijat pangkal hidungnya. Kepalanya tiba-tiba saja terasa pening.

__ADS_1


"Aaaaaa," teriak Meili. "Aku jadi terserang penyakit baper," cetusnya.


Nathan menghampiri kedua gadis itu dengan dua cangkir teh hangat di tangannya. "Minumlah," Nathan meletakkan satu cangkir di atas meja di hadapan istrinya. Dan satu lagi untuknya sendiri.


Jessy menatap tajam ke arah Nathan, suaminya itu bersikap biasa-biasa saja setelah pernyataan absurd keluar dari mulutnya tadi. Tidak tahu kah, gara-gara mulutnya tadi sekarang sahabatnya jadi berpikiran yang tidak-tidak.


"Kenapa?" tanya Nathan datar setelah menyeruput teh hangatnya. "Yang semalam masih kurang?" imbuhnya.


"Ya ampun!" Meili yang semakin histeris. Bahkan ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Jessy menghembuskan nafasnya kasar, ternyata mulut suaminya itu semakin menjadi. Ia kemudian meminum teh yang di buat oleh suaminya. "Terima kasih," ucap Jessy setelah teh itu tandas tak tersisa. Ia beranjak dari sana menuju ke kamar untuk membersihkan diri.


Meili yang masih terbengong melihat interaksi suami istri di depannya itu, kemudian memilih mengejar Jessy ke kamar dan melanjutkan meminta penjelasan.


Nathan hanya tersenyum tipis melihat kepergian Jessy dan Meili.


*


*


"Gue bisa pulang sendiri," kata Jessy. Melihat suaminya yang berniat akan pulang bersamanya dengan banteng.


"Lo berangkat bareng gue, jadi pulang bareng gue." tegas Nathan yang seakan tidak mau di bantah.


Jessy mencebikkan bibirnya. Sebenarnya ia tidak mau pulang dengan Nathan agar teman-teman yang lainnya tidak semakin curiga terhadap hubungan mereka.


"Jadi lo beneran pulang bareng dia?" Raka memastikan sebelum ia masuk ke dalam mobil. Dan Nathan hanya menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu," sahut Raka.


"Dedek gemes beneran nggak mau di mobil aja?" tanya Ariel pada Jessy. Tapi Jessy hanya menatapnya datar, dan itu sudah seperti jawaban kalau Jessy menolaknya.

__ADS_1


"Di mana-mana kalau nggak good looking ya good rekening bro yang menang," cetus Reza. "Dan lo nggak punya keduanya," cibirnya kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Padahal tanpa ia sadari jika dirinya juga sama berada di posisi Ariel.


"Sial*n lo!" umpat Ariel.


Ariel sebenarnya termasuk salah satu siswa tampan di sekolahnya, tapi jika mengenai good looking, dan saingannya adalah Nathan. Tentu saja Nathan yang jadi pemenangnya.


"Jessy!" panggil Meili dari dalam mobil. Sebenarnya ia juga ingin pulang bersama Jessy, tapi ia juga kasihan dengan Tasya tidak ada yang menemani di mobil meskipun masih ada yang lainnya.


"Udah deh nggak usah drama!" ketus Lisa. Ia kesal melihat lagi-lagi Jessy yang bisa pulang dengan Nathan.


Meili mengerucutkan bibirnya mendengar bentakan Lisa.


Lisa kemudian tersenyum sinis. "Tia, enak banget ya Jessy pulang bareng sama Nathan. Pas datang juga sama Nathan!" ujarnya. Tetapi matanya melirik ke arah Tasya, dimana gadis itu hanya diam saja sedari tadi.


"Iya, pasti tuh si Jessy bisa peluk-peluk Nathan." Tia yang menimpali.


"Iya gitu tuh, kalau barang baru lebih menarik, pasti yang lama dilupain." sungut Lisa.


"Bac*t kalian berdua!" Meili tidak terima Jessy yang di jelek-jelekkan.


"Apa!" sentak Lisa dan Tia.


"Kalian kalau tidak bisa diam, lebih baik turun dari mobil dan pulang sendiri." Raka menginterupsi.


Sontak saja ketiga gadis itu langsung terdiam.


Hingga perlahan mobil yang di kendarai Raka mulai meninggalkan pelataran vila.


Saat mobil itu akan berlalu, mata Tasya tak sengaja mengarah pada Jessy dan Nathan yang sudah bersiap pergi dengan motor Jessy. Lagi-lagi ia merasakan hal yang sama, sesak.

__ADS_1


...----------------...


...Hayo-hayo, dingin-dingin gini enak kalau ada yang kirimin kopi 😁...


__ADS_2