Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Salah Tingkah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mami Nilam sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Meskipun ia berada di rumah, tapi kenyataanya dari semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Memikirkan kondisi menantunya yang sedang sakit.


Satu tas besar sudah ia siapkan, berisi keperluan Jessy juga Nathan. Untung saja ada beberapa baju Jessy yang berada di kamar Nathan, ia memang menyuruh menantunya meninggalkan beberapa potong baju agar ketika ia menginap tidak perlu repot-repot untuk mengambil baju dari rumah.


"Semuanya sudah siap Mi?" Papi Tama menghampiri Mami Nilam yang berada di kamar Nathan.


Nilam menoleh ke arah papi. "Sudah Pi," kemudian Mami Nilam menyerahkan tas itu kepada Papi Tama. "Mama bagaimana?" Nilam teringat kepada Oma yang juga tidak di kasih tau tentang keadaan cucu menantunya, selain faktor usia Nilam juga takut darah tinggi Oma akan kambuh.


"Mama masih tidur, tadi Papi sudah melihatnya di kamar." Setelah itu mereka berdua pergi untuk menuju rumah sakit.


Karena hari yang masih terlalu pagi, jadi membuat jalanan tidak terlalu padat kendaraan. Hanya butuh waktu 20 menit mobil yang di kendarai Papi Tama sudah sampai di rumah sakit.


Mereka langsung menuju ruang VVIP tempat rawat inap Jessy setelah tadi sempat menanyakan pada resepsionis.


Klek.


Mami Nilam terdiam di ambang pintu melihat sepasang suami istri yang masih memejamkan mata itu, apa lagi dengan posisi Nathan yang memeluk Jessy.


"Kenapa Mi?" Papi Tama terheran melihat istrinya yang tidak langsung masuk.


Mami Nilam kemudian menoleh ke arah Papi Tama yang berada di belakangnya. "Anak kamu kelakuannya sama seperti kamu Pi," cibirnya. Rasa khawatir yang menghinggapi hatinya sedikit menghilang setelah melihat pemandangan itu.


Papi Tama kemudian mengarahkan pandangannya ke dalam ruang rawat Jessy, dan ia segera menggelengkan kepalanya. "Kamu Mi yang sering meluk Papi," ujarnya tidak terima.


"Kapan? Mami tidak pernah memulai lebih dulu!" sangkal Nilam dengan pipi yang sudah mulai merona. Meskipun di usia yang sudah tidak mudah, tapi tetap saja ia akan merasa malu jika di goda oleh suaminya.

__ADS_1


"Benarkah?" Papi Tama menaik turunkan alisnya, ia semakin gemas menggoda istrinya.


"Sudahlah," Nilam mengubah topik pembicaraan. "Mami mau taruh tasnya dulu, Papi tunggu di sini saja. Setelah itu ayo kita cari makanan untuk mereka." Nilam kemudian masuk untuk menaruh tasnya di sofa, lalu keluar lagi. Ia tidak mau sampai mengganggu istirahat mereka berdua.


*


*


Jessy sedikit demi sedikit membuka matanya, matanya sedikit silau akibat cahaya. Di saat matanya terbuka sempurna, yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang masih terlelap.


Dalam jarak yang sangat dekat, Jessy mengakui bahwa ternyata suaminya itu benar-benar tampan. Mata Jessy terus saja menelusuri pahatan indah yang berada di depan matanya. "Apa benar yang di ucapkan Mama?" gumamnya. Ia teringat ucapan Kasih yang mengatakan bahwa Nathan begitu menyayanginya.


Hingga di detik berikutnya Jessy di kejutkan dengan mata suaminya yang tiba-tiba terbuka. Di saat pandangan mereka bertemu di saat itulah Jessy menjadi salah tingkah.


"Mama bilang apa?" tanya Nathan. Ia tadi sempat mendengar ucapan Jessy. Meskipun hanya beberapa saat ia memejamkan mata, tapi kemudian ia terbangun ketika merasakan pergerakan dari istrinya.


"Mama bilang apa?" Nathan mengulangi ucapannya.


Jessy yang baru paham, semakin di buat gelagapan. Tidak mungkinkan dia cerita apa yang di ucapkan Mamanya, bisa-bisa ia akan pingsan karena malu. "Tidak ada," elaknya. Ia kemudian berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Ish," Jessy mendesis ketika tangan yang terpasang jarum infus tersenggol. Dan di saat itulah ia baru menyadari jika sedang berada di rumah sakit. "Kenapa gue di rumah sakit?" Karena terakhir kali yang ia ingat sedang berboncengan dengan suaminya arah jalan pulang.


Nathan kemudian mengubah posisinya menjadi duduk dan memeriksa tangan Jessy yang ter infus. "Lo sakit, jelas harus ke rumah sakit." jawab Nathan.


Jessy mencebikkan bibirnya mendengar jawaban suaminya. Semua orang juga tahu tentang hal itu. "Tapi gue nggak sakit," Jessy bahkan sebelum pingsan memang tidak merasakan sakit pada perutnya. Karena luka di hatinya saat itu jauh membuatnya lebih sakit.


Nathan hanya memutar bola matanya malas, istrinya itu memang keras kepala. Ia kemudian menempelkan telapak tangannya pada kening Jessy, dan merasakan suhu tubuh Jessy yang tidak sedingin kemarin malam.

__ADS_1


Tubuh Jessy tiba-tiba menegang mendapat sentuhan dari Nathan, meskipun ia tahu suaminya itu tidak bermaksud apa-apa tapi tetap saja itu membuatnya gugup.


Hingga di detik berikutnya, mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang membuka pintu begitu saja.


"Jessy!" teriaknya dengan suara cempreng nya. Meili.


Sontak saja Nathan dan Jessy langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Di mana Meili berdiri dan di belakangnya ada Papi Tama dan Mami Nilam.


Meili bahkan memutuskan untuk membolos sekolah, setelah mengetahui keadaan Jessy dari Nathan yang menelpon nya kemarin malam.


Nathan memberitahu Meili, agar Meili dapat mengizinkan Jessy pada wali kelasnya. Tapi gadis itu sekarang justru membolos.


...----------------...


...Nah, aku dah up dua kali. Lunas ya janjinya 😁. ...


...Othor mau jawab ne pertanyaan dari kalian. ...


...👩Kenapa sih Tasya nggak di kasih tau aja?...


...Nanti ada saatnya Tasya akan tau, kalau tau sekarang bisa cepet tamat ceritanya 🤭...


...👩Kenapa panggilan yang masih elo gue?...


...Karena mereka belum menyadari rasa cinta mereka, nanti juga ada saatnya mereka ada panggilan sayangnya. ...

__ADS_1


...👩 Sebenarnya yang anak kandung itu siapa sih? Danu gitu amat?...


...Anak kandungnya Jessy, tapi semua ada sebabnya kenapa Danu begitu. Selain Danu yang memang lebih menyukai sikap Tasya yang lemah lembut dan penurut, ada sebab lain juga. Nanti lama-kelamaan juga terbongkar 😁tunggu aja ya. ...


__ADS_2