
Jessy menggeliat di dekapan suaminya. Entah kenapa pagi ini pendingin udara di kamar suaminya begitu menusuk ke tulang.
Perlahan ia membuka mata, dan pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Tapi setelah kesadarannya terkumpul semua, ia terkejut melihat keadaan suaminya yang hanya bertelanj*ng dada, padahal suaminya jika tidur selalu menggunakan kaos.
Deg.
Jessy baru menyadari jika keadaanya sama dengan suaminya yang tidak mengenakan apapun.
"Astaga!" pekiknya. Ia kemudian sedikit menjauh dari Nathan dan membalikkan badan, Jessy menarik selimut hingga leher.
Nathan yang merasakan pergerakan dari sang istri akhirnya ikut terbangun, ia heran melihat istrinya yang tiba-tiba menjauh. "Kenapa?" tanyanya datar. Nathan sendiri nyawanya seperti masih berceceran.
Jessy semakin menyembunyikan dirinya di balik selimut, potongan-potongan kejadian panas semalam mulai menghiasi ingatannya. Dan sekarang ia tidak tau harus melakukan apa? Yang jelas kini ia merasakan malu.
Nathan semakin bingung di buatnya. Hingga beberapa saat kemudian ia baru mengingat kejadian semalam yang membuatnya merasakan surganya dunia, ia berhasil membuat istrinya menjadi miliknya seutuhnya.
Ada senyuman yang mengembang di bibir Nathan.
Tanpa rasa canggung Nathan memeluk istrinya dari balik selimut. "Kenapa? Apa kamu mau lagi?" bisik nya menggoda Jessy.
Mata Jessy membulat mendengar itu, bawahnya saja rasanya masih sakit tapi sekarang suaminya justru menawarinya untuk bercinta lagi. "Udah deh nggak usah ngadi-ngadi," sungutnya dari balik selimut.
Nathan hanya terkekeh mendengar itu. Ia mengusap puncak kepala Jessy. "Ya sudah, kalau begitu ayo mandi." ajaknya. Ia melihat matahari yang mulai terbit.
Tapi Jessy masih tidak bergerak dan tetap di posisinya.
"Jangan di tutupi, aku sudah melihat semua bahkan merasakannya." Nathan yang masih saja menggoda Jessy. Ia bahkan langsung menarik selimut yang di gunakan Jessy untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aaa," Jessy yang terkejut. Dan segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dengan cepat ia kembali menarik selimut yang berada di tangan suaminya, Jessy menatap tajam ke arah Nathan. "Kenapa di tarik?" ketus nya. Meskipun begitu terlihat jelas pipi Jessy yang merona.
Nathan hanya diam, ia sedikit terkejut melihat keadaan istrinya. Di mana ia melihat hasil karya nya menghiasi seluruh leher dan dada Jessy. Ia tidak menyangka jika ia membuat tanda sebanyak itu, kemarin yang ada di pikiran dan tubuhnya hanya gairah yang mendominasi.
Jessy menautkan alisnya melihat suaminya terdiam.
"Ayo kita mandi saja sekarang," ajak Nathan cepat. Sebelum istrinya itu menyadari hasil maha karya nya, dan tentunya itu akan membuat ia kesulitan untuk bisa merasakan ya lagi.
Nathan mengambil pakaian miliknya dan juga Jessy yang berceceran.
"Kenapa tidak pakai baju dulu!" Jessy menutup matanya. Entah kenapa semakin lama suaminya itu semakin tidak tahu malu jika bersamanya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang di tutupi!" Nathan mengambil handuk putih lalu ialingkarkan di pinggangnya kemudian masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
"Edan!" umpat Jessy. Ia sendiri kemudian melilitkan selimut untuk membungkus tubuhnya, ia akan menyiapkan seragam sekolah mereka.
Tapi baru saja kaki Jessy melangkah, ia merasakan nyeri di pusat intinya. Jessy terdiam sebentar untuk meredam rasa sakitnya, hingga kemudian ia berjalan perlahan ke arah lemari.
Waktu Jessy akan meletakkan seragam sekolah di atas ranjang, matanya tidak sengaja melihat nodah darah di seprei. Dan itu lagi-lagi membuat pipinya merona, sekarang ia harus menerima jika ia sudah tidak gadis lagi.
"Biarkan saja." Nathan yang baru saja selesai mandi, ia melihat Jessy yang terus menatap saksi bisu pergulatan nya semalam.
Nathan kemudian menarik seprei itu, dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia lalu menaruhnya di dalam lemari.
"Nggak di cucui?" tanya Jessy. Bukannya di taruh di keranjang kotor, malah di lemari.
"Buat kenang-kenangan," jawab Nathan.
Mata Jessy membulat mendengar itu. Ternyata suaminya benar-benar semakin tidak waras.
Di dalam kamar mandi, Jessy yang baru saja melewati cermin ia langsung berhenti. Ia merasa seperti ada yang aneh, akhirnya ia kembali berjalan mundur.
"Nathan!" teriak Jessy. Ia tak habis pikir jika suaminya itu akan membuat tubuhnya seperti macan tutul.
"Apa?" Nathan begitu saja membuka pintu kamar mandi. Saat di kamar ia sudah yakin jika istrinya itu pasti sudah tau karena di dalam kamar mandi ada cermin.
"Tadi kamu yang panggil."
"Tidak."
"Tadi kamu teriak."
Jessy terdiam kemudian ia teringat kembali apa yang membuatnya tadi berteriak. "Ini bagaimana menutupinya?" tunjuknya pada leher dan dadanya. Mungkin kalau dada masih ketutup seragam, kalau leher? Apalagi ia tidak pernah namanya yang memakai fondetion.
Nathan sendiri hanya bisa menggaruk tengkuknya, karena ia sendiri belum tau caranya menutupi hasil karya nya.
Meili.
Jessy baru teringat jika sahabatnya juga menginap di rumah mertuanya. Nanti ia berencana meminta tolong saja pada Meili.
Nathan memutuskan untuk turun lebih dahulu, karena istrinya tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia akan mengambilkan makanan untuk istrinya saja untuk di bawa ke kamar.
__ADS_1
Di meja makan terlihat semua orang sudah berkumpul.
"Jessy di mana kak?" Meili tidak melihat batang hidung sahabatnya itu.
"Dia masih di kamar," sahut Nathan. "Dia sedikit sakit perut," jawabnya asal agar semua orang tidak curiga. Ia kemudian mengambil beberapa roti dan memberinya selai.
"Benarkah?" Meili terlihat khawatir. "Aku akan melihatnya." Ia lalu beranjak dari sana untuk menuju kamar Nathan.
Saat Nathan akan mencegahnya Mami Nilam justru mengajukan pertanyaan padanya.
"Apa sudah di beri obat?" tanya Mami Nilam yang juga khawatir pada menantunya.
"Sudah Mi," Mata Nathan terus mengikuti arah Meili yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"Nanti kalau nggak ada hasilnya, biar libur dulu saja. Mami akan panggil Dokter." Nilam tidak mau sampai menantunya itu sakit seperti yang terakhir kalinya harus sampai masuk rumah sakit.
Meili langsung saja membuka pintu kamar Nathan. Dan bertepatan itu Jessy beru keluar dari kamar mandi. Mata Meili melotot melihat keadaan Jessy. "Ya ampun Jessy!" teriak Meili. Ia menghampiri Jessy untuk menelisik keadaannya. "Kamu beneran sakit!"
Meili bertambah panik melihat tubuh Jessy bagian atas yang di penuhi merah merah. "Tunggu sebentar, aku akan bilang Tante Nilam supaya panggil Dokter." Meili langsung berlari keluar, tujuanya sekarang adalah memberitahukannya pada Nilam.
"Mei--" belum sempat Jessy mencegah kepergian Meili, sahabatnya itu sudah tidak terlihat. "Mati aku."
"Tante," panggil Meili dengan panik. "Jessy tidak sakit perut," ujarnya.
Nathan yang mendengar ucapan Meili hanya bisa memejamkan mata, setelah ini semua orang pasti akan tahu.
"Loh tadi katanya sakit perut?" Nilam melihat Nathan dan Meili bergantian.
Meili menggelengkan kepalanya. "Jessy terkena cacar air," katanya. "Di leher dan dadanya banyak merah merahnya," jelasnya lebih rinci.
Papi Tama yang sedang menyeruput kopi, sontak saja langsung tersedak. Bahkan Oma pun juga mengalami hal yang sama.
"Hu!" Nilam masih mencerna apa yang di maksud Meili. Cacar air yang hanya di tempat tertentu.
Meili terlihat bingung melihat Papi Tama dan Oma yang tersedak bersamaan. "Apa ada yang salah?"
Entah karena panik atau bagaimana, padahal sebelumnya Meili sudah pernah melihat bekas apa yang pernah ada di leher Jessy. Tapi kini gadis itu justru lupa.
...----------------...
__ADS_1
...Aku sebenarnya mulai dari jam 18.00 tadi udah mau ngetik, tapi aku undur lagi. Dan setiap aku mau ngetik lagi, aku masih keinget hal yang buat aku sedikit down....
...Mungkin menurut kalian aku berlebihan, tapi nyatanya memang ini yang aku rasakan. Aku terima kasih banget kalau kalian memberitahu dimana kekurangan karya aku, aku buat itu sebagai masukan. Atau kalian mengingatkan aku waktu aku salah ngetik atau gimana nya. Itu benar-benar ngebantu banget buat aku. Tapi yang buat aku sedikit down, tulisan aku di samakan sama author lain. Itu kesannya aku mencuri hasil karya orang lain 😢. Terima kasih buat kalian yang masih setia sama cerita aku. Maaf yang yang nulis memang cengeng orangnya. ...