
Nathan bisa bernafas lega, beberapa menit yang lalu ia bisa menyelesaikan ujian terakhirnya dengan lancar. Ia sudah mengerjakan semampu yang ia bisa, dan berharap hasilnya akan memuaskan.
Perjuangannya menempuh pendidikan selama tiga tahun sebenarnya tidak pernah mengecewakan. Hasil nilai yang ia dapat selalu membanggakan bagi kedua orang tuanya, hingga ia mendapat gelar murid terbaik dengan prestasinya.
Setelah merasakan tegang yang luar biasa, kini Nathan dan teman-temannya mendinginkan otaknya di kantin.
Kantin yang tidak begitu ramai karena hanya kelas tiga yang masuk.
"Kalian mau kuliah di mana?" Ariel membuka suara.
"Gimana kalau kita satu kampus saja?" Reza menimpali.
"Masih belum tau!" sahut Nathan. Karena ia sendiri belum membicarakannya dengan sang istri akan kuliah dimana.
Sebenarnya ia sudah mempunyai beberapa pilihan kampus yang menjadi incarannya, tapi ia sadar sekarang ia sudah memiliki istri jadi apapun yang akan ia akan lakukan harus di bicarakan terlebih dahulu.
Di saat semuanya sedang membahas langkah apa selanjutnya, Raka justru hanya diam dengan memandangi layar ponselnya.
Ia tidak mengotak atik ponselnya, hanya menghidupkan lalu melihat apa ada notifikasi atau tidak. Hingga layar ponsel itu mati kembali dan dihidupkannya lagi, dan hal itu terus berulang sampai beberapa kali.
"Woi! ngelamun aja." Reza mengagetkan Raka. Ia kemudian melirik ke ponsel temannya itu. "Kalau kangen yang udah samperin aja, nggak usah nunggu di telpon dulu." cibirnya.
Temannya itu setiap hari setelah melaksanakan ujian, hanya seperti itu kelakuannya.
Raka hanya menatap malas pada Reza, ia kemudian memasukkan kembali ponselnya pada saku seragamnya. "Gue duluan." Ia kemudian beranjak dari sana dan menuju parkiran.
__ADS_1
"Gitu aja ngambek, makanya seperti gue. Gentle." sombong Ariel. "Coba kalau Jessy belum menikah, pasti gue kejar tuh."
Plak.
Reza langsung memukul kepala Ariel.
"Ouch," pekik Ariel menatap tidak Terima pada Reza.
"Inget woy, dia bini temen kita." Reza mengingatkan yang hanya di tanggapi cengiran oleh Ariel.
Nathan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua temannya itu. "Gue pergi dulu," ia kemudian bersiap pergi.
"Ngambek juga?" tanya Reza.
Nathan menyunggingkan senyumnya. "Nggak, gue cuma kangen istri gue." Ia langsung pergi dari sana setelah mengatakan itu.
Tidak lama kepergian Nathan, Lisa dan Tia menghampiri meja kedua cowok itu.
"Loh Nathan mana?" Lisa celingukan murid paling menawan di sekolah itu.
"Sudah pulang," cetus Ariel. "Ngapain sih nyari yang nggak ada, kan ada gue."
Lisa dan Tia sama-sama memperagakan seseorang yang ingin muntah. "Nggak deh." kedua gadis itu kemudian pergi dari sana.
Meskipun Ariel juga memiliki wajah tampan, namun yang menjadi incaran Lisa dan Tia tetaplah Nathan.
__ADS_1
Reza hanya tertawa melihat nasib Ariel yang di tinggalkan Lisa dan Tia.
"Lo jangan ketawa, inget! Lo juga jomblo." cibir Ariel seketika membuat tawa Reza berhenti.
*
*
Dan seperti kata Nathan sebelumnya, ia benar-benar menuju rumah Mariam. Ia ingin bertemu istrinya dan melepas kerinduan yang selama beberapa hari ini tidak bisa ia lakukan.
Rumah Mariam tampak begitu sepi, sepertinya nenek istrinya itu sedang berada di rumah makannya.
Nathan masuk begitu saja ke dalam rumah, setelah mengetahui rumah itu tidak terkunci.
Samar-samar ia mendengar suara tawa istrinya dari ruang tengah.
Dan benar saja ketika ia sampai di ruang tengah, ia melihat di mana istrinya tertawa melihat acara televisi yang menampilkan animasi dua anak kembar dengan kepala plontos.
Istrinya itu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Ia sedikit tersenyum melihat tingkah konyol Jessy.
"Seneng banget liatnya," Nathan duduk di samping Jessy.
"Huh!" tawa Jessy seketika sirna, di gantikan rasa terkejut melihat kehadiran suaminya yang tiba-tiba.
...----------------...
__ADS_1
...Dikit dulu, besok aku sambung lagi ya π€. Nggak betah ngantuknya π ...
...Selamat tahun baru πππ...