Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Pelajaran Biologi


__ADS_3

Di perjalanan pulang sepasang suami istri itu hanya diam. Sebenarnya bukan tidak mau bicara hanya saja mereka tidak tau harus membahas apa.


Kalau Nathan mungkin dari awal ia memang irit bicara, tapi kalau Jessy ia hanya mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil sembari menahan debaran jantungnya yang terasa begitu kencang. Jika di awal-awal hubungannya dengan suaminya ia akan selalu merasa kesal, tapi sekarang semua itu berbanding terbalik. Ia merasa gugup yang luar biasa, bahkan melihat wajah tampan suaminya saja ia tidak berani.


"Kenapa?" Suara Nathan memecah keheningan di dalam mobil itu. Meskipun ia sedang fokus mengendarai mobilnya tapi matanya tidak sengaja menangkap istrinya yang sedang tersenyum.


"Huh!" Sontak saja Jessy terkejut mendengar pertanyaan suaminya, karena pikirannya sedang melayang ke mana-mana. Bahkan bibirnya tersenyum pun ia tidak sadar.


"Kenapa?" Nathan mengulangi pertanyaannya. "Lo tadi tersenyum," jelasnya.


"Benarkah!" Jessy yang baru menyadari. Ia tidak menyangka jika kekonyolannya masih berlanjut. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa," jawabnya dan mengalihkan pandangannya kembali. Ia dapat merasakan pipinya sekarang yang sedikit memanas.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Nathan sudah sampai di halaman rumah Mariam.


"Maaf gue nggak bisa mampir." Ucapan suaminya membuat Jessy mengurungkan niatnya yang akan turun dari mobil.


Jessy menoleh ke arah suaminya, entah mengapa ada perasaan yang tidak rela.


Melihat ekspresi istrinya, membuat Nathan tersenyum tipis. Sungguh wajah cantik istrinya sekarang terlihat sangat menggemaskan. "Gue harus ke counter," terangnya. Karena beberapa hari ia belum sempat datang counter nya, selama menjaga Jessy di rumah sakit.


"Baiklah," Jessy mau tidak mau melepas suaminya pergi.


"Ya sudah kalau begitu, salam saja untuk nenek." ujar Nathan sembari mengusap kepala Jessy.

__ADS_1


Jessy yang menerima perlakuan hangat dari suaminya sempat tertegun, mungkin setelah ini ia akan membiasakan diri.


"Hm," Jessy kemudian membuka pintu mobil Nathan.


"Tunggu!" cegah Nathan yang membuat istrinya itu kembali menoleh ke arahnya.


"Ap--"


Cup.


Nathan begitu saja memberikan kecupan singkat pada bibir Jessy. "Sudah, hampir saja ketinggalan." katanya enteng.


Setelah itu mobil Nathan benar-benar pergi meninggalkan halaman rumah Mariam.


Tanpa terasa tangan Jessy menyentuh bibirnya yang beberapa saat lalu mendapat kecupan dari suaminya. Rasanya masih sama, yang membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat.


"Apa ini yang di namakan jatuh cinta?" gumamnya dengan senyum yang tak pernah luntur di bibir nya. Hingga kemudian ia memilih masuk ke dalam rumah, sebelum ada tetangganya yang melihat ia sedang tersenyum sendiri.


Di dalam rumah, nyatanya Jessy tidak melihat sosok Mariam. Biasanya neneknya itu sudah pulang dari rumah makan nya ketika ia pulang sekolah.


"Nek!" teriak Jessy. Tapi tetap tidak ada sahutan. Hingga langkahnya menuju dapur, ia melihat ternyata neneknya sedang berdiri di balik ambang pintu seperti mengintip sesuatu.


"Nek!" panggil Jessy tepat di belakang Mariam yang sontak saja itu mengagetkan Mariam yang sedang mengintai sesuatu.

__ADS_1


"Sssssttt, diam lah." bisik Mariam. "Nanti mereka kabur," imbuhnya dan melanjutkan aksi mengintipnya.


Jessy hanya menautkan kedua alisnya melihat kelakuan aneh sang nenek. "Ada apa sih nek?"


"Siti sedang beraksi," jawabnya tapi tidak mengalihkan pandangannya.


"Siti?" heran Jessy. Memangnya Siti bisa beraksi apa, dia hanya seekor kucing. Tidak mau penasaran akhirnya Jessy juga melakukan apa yang di lakukan neneknya, dan sontak saja matanya membulat. "Ya ampun!" pekiknya.


Ternyata Siti sedang beraksi membuat generasi penerusnya dengan kucing tetangga.


"Jessy, sudah nenek bilang jangan berisik!" kesal Mariam. "Seharusnya kamu belajar dengan Siti, agar nenek cepat mempunyai cicit." ujarnya. Tapi sedetik kemudian ia merasa ada ucapannya yang salah, bukankah Siti laki-laki. "Eh maksud nenek seharusnya suami kamu yang belajar, tapi kalau kamu yang mau jadi Siti juga tidak apa-apa." Mariam terkikik setelah mengatakan itu.


Jelas saja Jessy melotot mendengar ucapan Mariam, bagaimana bisa ia dan suaminya di samakan dengan Siti. "Nenek, bagaimana bisa di samakan dengan Siti!" sungutnya tidak Terima.


Mariam sedikit kesal melihat cucunya yang sedari tadi tidak bisa diam. "Memang apanya yang berbeda, tinggal di masukkan setelah itu bergoyang. Siti juga seperti itu," jelasnya.


Mata Jessy semakin melebar mendengar penuturan Mariam, bagaimana bisa neneknya bicara se vulgar itu. "Nenek!" kesalnya dengan menghentakkan kakinya kemudian pergi dari sana. Ia tidak otaknya tercemari dengan ucapan neneknya.


Sedangkan Mariam, ia melanjutkan kembali untuk mengintip Siti. Tapi, alangkah terkejutnya ketika Siti dan teman kencannya sudah tidak berada di sana. "Pasti ini gara-gara Jessy tadi!"


"Padahal sudah di kasih pelajaran biologi secara langsung malah tidak mau, apa perlu aku putarkan video?"


"Tapi, apa Siti tadi sudah selesai membuat Siti junior? Kenapa sebentar sekali! Mungkin harus di kasih kuning telur ayam kampung sama madu biar tahan lama."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2