
Bruk.
Akibat jalan terburu-buru Jessy sampai tidak memperhatikan jalannya, yang membuatnya menabrak seseorang. Itu semua akibat kejadian yang baru saja ia alami di kamar Nathan.
Di mana suaminya itu berhasil menciumnya. Jika di lihat dari reaksi Jessy, jangan kalian pikir bahwa bibir Nathan akan mendarat di bibir Jessy. Karena nyatanya bibir Nathan mendarat di pipi Jessy, itu semua karena Jessy yang tidak tahan melihat tatapan memabukkan dari suaminya sehingga ia langsung memalingkan wajahnya.
Padahal bibir Nathan hanya mendarat di pipi Jessy, tapi itu sudah membuat Jessy seperti mendapat hal yang luar biasa.
"Kamu kenapa?" tanya Sofiana yang di tabrak Jessy. Ia heran melihat Jessy jalan terburu-buru dan beberapa kali melihat ke arah belakang, padahal di tempat itu hanya ada Jessy seorang.
Jessy hanya tersenyum kaku mendengar pertanyaan Sofiana, ia segera menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa."
Sedangkan di dalam kamar, Nathan masih berbaring di ranjang. Bibirnya terus saja membentuk sebuah senyuman, mengingat kelakuan nya beberapa saat lalu.
Meskipun bibir Nathan tidak mendarat sempurna seperti apa yang ada di otaknya, tapi melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh istrinya ia yakin itu sudah membuat istrinya merasakan hal yang luar biasa.
Ketika malam tiba, Jessy memutuskan untuk pulang. Tadi ia sempat mengobrol sedikit dengan Sofiana, gadis yang beberapa hari lalu sempat membuatnya merasa sedikit panas. Ternyata Sofiana gadis yang menyenangkan, ia semakin merasa tidak enak karena sempat berpikiran buruk.
"Kamu tidak mau menginap di sini saja?" Mami Nilam sedari tadi mencoba membujuk menantunya agar mau menginap. Tapi usahanya tetap sia-sia, karena menantunya tetap akan pulang.
__ADS_1
Jessy tersenyum manis menanggapi permintaan Mami Nilam. "Lain waktu aja Mi," tolaknya halus. Padahal di hati Jessy ia masih tidak mau berdekatan dengan suaminya, apalagi mengingat kejadian di kamar.
"Ya sudah kalau begitu," akhirnya Mami Nilam harus melepaskan menantunya untuk pulang.
Di perjalanan pulang hanya ada keheningan di dalam mobil Nathan. Hanya ada sesekali lirikan mata dari Jessy yang mencuri curi pandang ke arah Nathan, ia sama sekali tidak berani untuk membuka mulut.
"Kenapa?" tanya Nathan tiba-tiba yang langsung membuat Jessy tersentak kaget.
"Huh!" Jessy yang langsung membuang muka ke arah jendela. Ia tidak berani menjawab.
"Masih teringat kejadian tadi?" tanya Nathan datar, seolah itu hal biasa baginya.
"Apa lo kecewa karena mendarat di tempat yang tidak tepat?"
Mata Jessy melotot mendengar ucapan suaminya, bagaimana bisa dia bilang kalau ia kecewa. Tidak tahukah suaminya kalau itu sudah membuat jantungnya seperti melompat dari tempatnya.
"Kenapa? Apa bener dugaan gue!" ujarnya dengan tersenyum tipis.
Senyum tampan itu sekarang terlihat sangat menyebalkan di mata Jessy.
__ADS_1
Hingga beberapa saat mobil yang di kendarai Nathan sampai di pekarangan rumah Mariam.
"Lo nggak mau turun?" Nathan melihat istrinya yang masih berdiam diri.
Jelas saja Jessy sedari tadi sibuk dengan lamunannya sendiri hingga tidak menyadari jika sudah sampai di rumah. "Huh!" Ia mengedarkan pandangannya dan ternyata memang sudah sampai.
Tanpa berpamitan Jessy langsung berniat turun, tapi tangannya justru di cekal oleh suaminya. Ia menoleh ke arah tangannya yang sedang di cekal oleh Nathan, kemudian ia menatap ke arah wajah suaminya.
"Lo nggak mau ngelanjutin yang tadi di kamar?" goda Nathan.
Mata Jessy membulat sempurna mendengar itu. "Dasar mes*m," sungutnya kemudian berlari ke dalam rumah.
Saat tengah malam, nyatanya Jessy masih tidak bisa terlelap. Padahal matanya sudah berair. Ia memegang pipinya dengan telapak tangannya di mana tempat suaminya memberi kecupan. Dan tanpa sadar bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman manis, membayangkan suaminya adalah laki-laki pertama yang berani menci*mnya. "Apa bener gue kecewa karena cuma di pipi?" tanya nya pada diri sendiri, ia teringat pertanyaan suaminya. "Di pipi saja rasanya sudah seperti ini," ucapnya. Kemudian ia meraba bibirnya. "Bagaimana kalau disini?"
Senyuman itu terlihat semakin lebar.
Tapi di detik berikutnya ia segera menggelengkan kepalanya. "Jessy, kenapa lo jadi ikutan mes*m!" Merutuki pikirannya.
...----------------...
__ADS_1