
Beberapa hari di rawat di rumah sakit, membuat keadaanya lebih baik.
"Aku ingin bertemu dengan Nenek," pinta Jessy siang itu sebelum ia pulang. Karena hari ini ia sudah boleh pulang dari rumah sakit.
Nathan yang membereskan barang-barang, kemudian menoleh ke arah istrinya. "Iya, nanti kita jenguk Nenek dulu."
Hingga semua di rasa sudah beres, Nathan dan Jessy akhirnya berjalan ke ruang rawat inap Mariam. Karena keadaanya yang sudah membaik, Dokter sudah memindahkan Nenek dari ICU.
Klek.
"Nek," sapa Jessy begitu ia masuk ke dalam ruangan rawat Mariam. Yang ternyata di sana sudah ada Mami Nilam dan Papi Tama.
Semua orang tersenyum melihat kedatangan calon orang tua baru itu. "Sudah mau pulang sekarang?" tanya Mami Nilam.
"Iya Mi, tapi mau ketemu sama Nenek dulu." jawab Jessy.
Akhirnya di ruangan itu menjadi ramai karena kedatangan Jessy dan Nathan, apalagi jika mereka membahas kehamilan Jessy.
*
*
"Kamu pulang saja sekarang, kamu juga harus istirahat." kata Mariam pada Jessy.
"Iya, sayang. Mungkin Nenek besok juga sudah boleh pulang." Mami Nilam menimpali.
"Benarkah?" Jessy tak menyangka.
"Iya, kata Dokter nenek sudah baik-baik saja keadaanya." sahut Papi Tama.
"Ya sudah, kamu pulang sekarang. Dan istirahat di rumah," Mariam yang kembali menyuruh cucunya itu pulang.
Akhirnya dengan berat hati Jessy harus meninggalkan neneknya, meskipun sudah ada mertuanya yang menjaga neneknya.
Di dalam perjalanan, Jessy hanya diam. Sebenarnya ia ingin mengatakan apa yang ia inginkan, tapi sepertinya harus mendapatkan persetujuan dari beberapa pihak keluarga.
"Ada apa?" Nathan yang menyadari.
Namun dengan cepat Jessy menggelengkan kepalanya, mungkin ia membutuhkan waktu yang tepat untuk membicarakannya.
Sesampainya di rumah milik Mariam, ternyata ia sudah di sambut oleh Meili dan juga Oma yang berdiri di teras rumah.
__ADS_1
"Selamat datang, ibu hamil." ujar Meili dan Oma kompak ketika melihat Jessy turun dari mobil.
Jessy yang melihat itu, seketika mengembangkan senyumnya. Oma dan sahabatnya terlihat begitu bahagia menyambut kepulangannya dari rumah sakit.
Jessy menghampiri mereka berdua dan memeluk mereka berdua secara bergantian. "Terima kasih," ucapnya tulus.
Nenek segera menggelengkan kepalanya. "Sebagai keluarga ini sudah kewajiban."
"Iya Jessy, tidak ada kata terima kasih. Ya sudah ayo masuk," Meili menimpali.
Nathan yang melihat ketiga perempuan berbeda generasi itu tersenyum, betapa mereka terlihat sangat menyayangi satu dengan yang lainnya.
*
*
Setelah makan malam mereka semua menyempatkan untuk mengobrol sebentar, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
"Apa aku boleh berbicara sesuatu?" Ragu-ragu Jessy bertanya pada Nathan, yang kini mereka sudah bersiap untuk tidur.
"Hm ... apa?" sahut Nathan yang kemudian membawa istrinya ke dalam dekapannya.
Nathan yang mendengarnya seketika mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya yang sekarang juga menatapnya. "Maksudnya?"
"Di sini terlalu banyak kenangan yang menyakitkan," kata Jessy dengan lirih. Bahkan ia tidak berani menatap mata suaminya.
Tapi memang itulah yang ia rasakan, setiap kali mengingat apa yang ia alami begitu menyesakkan dada.
Apalagi sekarang ia, mengerti kenapa Papanya selalu seperti itu kepadanya selama ini.
Nathan kembali memeluk istrinya. "Bagaimana kalau kita juga membicarakan ini dengan semua keluarga," Nathan tidak bisa begitu saja mengiyakan ucapan Jessy. Bagaimanapun keluarga yang lainnya harus tau.
Jessy menganggukkan kepalanya.
Hingga pagi menjelang, ternyata Oma dan Meili sudah menyiapkan begitu banyak sarapan, terlihat beberapa masakan yang tersaji di atas meja.
"Ayo kita sarapan," ajak Oma melihat Jessy yang baru saja hadir di sana. Kini cucu menantunya terlihat lebih segar.
"Iya," sahut Jessy. Ia kemudian ikut bergabung di meja makan, di sana juga terlihat Meili yang baru datang dengan membawa beberapa gelas teh hangat.
Jessy mengedarkan pandangannya, ia mencari suaminya yang sudah tidak ada saat ia bangun.
__ADS_1
"Mencari suami kamu sayang?" Oma yang memperhatikan Jessy. Dan cucu menantunya itu mengiyakan.
"Tadi Nathan pamitnya mau lari pagi," beritahu Oma. Sebab tadi pagi memang berpapasan Nathan yang bersiap akan lari pagi di sekitar rumah.
Jessy menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Oma.
Di sela-sela aktifitas makan mereka, Diam-diam Meili memperhatikan Jessy.
"Ada apa?" Jessy yang mengetahui itu.
"Jessy, kamu nggak kepingin apa gitu? Biasanya ibu hamil sukanya aneh-aneh?" tanya Meili penasaran.
Oma yang mendengarnya seketika tertawa.
Jessy mencebikkan bibirnya mendengar itu. "Nggak."
"Terus nggak mual-mual gitu?" Meili yang masih penasaran.
"Nggak."
"Nggak kepingin ngidam gitu?"
"Nggak Meili," jawab Jessy dengan gemas.
"Tidak semua orang hamil itu kepingin yang aneh-aneh." Oma menengahi. "Tapi terkadang, tiba-tiba saja ada yang di inginkan."
"Bisa seperti itu Oma?" Meili yang terlihat lebih antusias.
"Iya," jawab Oma.
"Meili, gue yang hamil. Tapi lo yang semangat," ujar Jessy tidak habis pikir.
Meili hanya tertawa mendengar perkataan sahabatnya. "Buat persiapan."
Oma dan Jessy seketika saling pandang, kemudian menggelengkan kepalanya.
Gadis itu memang ada-ada saja yang ada di pikirannya, menikah saja belum tapi sudah mencari tahu tentang kehamilan.
...----------------...
...Nah kan, Jessy mau pindah. Hayo siap-siap yang mau ikut 😁...
__ADS_1