Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Sorry


__ADS_3

Hari terus berganti, dan tak terasa lusa semua murid kelas tiga sudah menjalani ujian sekolah yang menentukan perjuangan mereka selama tiga tahun menempuh pendidikan. Dan itu berarti sekarang adalah hari terakhir murid kelas satu dan dua masuk sekolah.


Tasya, gadis itu sedari tadi mondar mandir di dalam toilet. Hari ini ia berangkat lebih pagi dari pada biasanya, karena hari ini ia membulatkan tekatnya untuk mengungkapkan perasaanya kepada Nathan.


Entah ia mendapat keberanian dari mana, tapi mulai dari semalam ia sudah memikirkannya dengan matang.


Ia tidak mau menyesal, jika nantinya Nathan sudah pergi dari sekolah ini tanpa mengetahui perasaannya.


"Tasya, kamu pasti bisa." Ia menyemangati dirinya sendiri.


Hingga di rasa ia sudah merasa lebih baik dan tidak segugup tadi, Tasya akhirnya keluar dari Toilet dan bersiap menanti kedatangan sang pujaan hati.


Bibir Tasya melengkung membentuk sebuah senyuman, saat mobil yang ia kenali sebagai milik Nathan sudah memasuki pekarangan sekolah dan menuju tempat parkir.


Tasya berjalan perlahan mendekati mobil Nathan, hingga sangat empu nya keluar setelah mobilnya terparkir dengan benar.


Nathan sempat terkejut dengan kehadiran Tasya.


Tasya hanya tersenyum kaku untuk meredam rasa gugup yang datang kembali. "Kak Nathan, boleh bicara sebentar?"


Nathan menatap Tasya, ia melihat seperti ada hal serius yang akan di bicarakan. "Apa?"


Tasya meremas kedua tangannya yang saling bertautan, sesekali matanya menatap ke arah sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya.


Ia mulai menatap mata Nathan, namun itu hanya sejenak ia lakukan. Karena dengan menatap mata Nathan, Tasya rasanya tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang semakin cepat. "Se-sebenarnya, ada yang mau aku sampaikan?" gugup nya.


Nathan tidak bereaksi, namun ia menunggu kelanjutan apa yang akan di sampaikan Tasya.


"Kak Nathan, sebenarnya a-aku sudah lama menyukai Kak Nathan." Tasya hanya bisa menundukkan pandangannya.


Deg.


Sungguh kejutan bagi Nathan mendengarkan kalimat itu dari seseorang yang notabennya adalah adik iparnya sendiri. Ia sedikit tidak percaya jika Tasya berani mengucapkan kalimat itu ke padanya, karena selama ini ia mengenal Tasya gadis pendiam.


Nathan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Tasya. "Sorry, gue lebih senang kalau lo jadi temen gue." Jawaban Nathan secara tidak langsung sudah menolaknya.


Tasya mengatupkan bibirnya kuat-kuat, setelah mendengar jawaban dari Nathan.

__ADS_1


Kecewa.


Tentu itu yang di rasakan Tasya, di mana ia tadi sudah berharap cintanya akan terbalas. Mata yang tadi berbinar kini mulai sedikit memerah dan mengembun.


"Lo gadis yang baik Tasya, dan pasti lo akan mendapatkan cowok yang lebih baik dari gue." Nathan menepuk pelan bahu Tasya, setelah itu ia beranjak dari sana.


"A-apa ini karena Kak Jessy?" Entah kenapa yang ada di pikirannya sekarang adalah sang kakak, hingga membuat laki-laki pujaannya menolak cintanya. Mungkin dulu ia menyangkal jika kakaknya dan Nathan mempunyai hubungan, itu semua karena kakaknya yang sudah bertunangan. Tapi beberapa terakhir ia melihat hubungan mereka semakin dekat.


Langkah Nathan berhenti mendengar ucapan Tasya, tapi kemudian ia melanjutkan jalannya.


Air mata Tasya mengalir begitu saja, melihat kepergian Nathan yang semakin jauh. Harapan yang ia pupuk tinggi, kini lenyap tak tersisa.


Dengan mata sembab, Tasya masuk ke dalam kelas. Ia sejenak melihat bangku kakaknya yang masih kosong.


Hingga tak lama Jessy datang dengan Meili yang bergelayut di tangannya. Terlihat dua gadis itu yang saling tertawa membicarakan sesuatu.


"Meili diam lah!" Jessy sudah merasakan perutnya yang sedikit keram akibat terlalu banyak tertawa.


"Baiklah baiklah," setelah itu Meili duduk di kursinya.


Tasya sendiri tidak tau apa yang dirasakannya sekarang, yang pasti ada yang berbeda. Ia melihat perubahan kakaknya yang cukup besar, dulu senyum di wajah cantik kakaknya itu tidak pernah terlihat. Dan akhir-akhir ini senyum itu semakin sering terlihat.


Jam istirahat sudah tiba, semua murid langsung keluar kelas untuk menuju kantin. Hingga hanya beberapa murid saja yang masih tinggal di kelas.


Tasya dengan ragu berjalan ke arah bangku Jessy. "Kak," panggil nya lirih.


Jessy yang baru saja membereskan bukunya menoleh ke arah Tasya.


"Ada yang ingin aku --"


"Jessy ayo ke kantin, aku sudah lapar!" Rengek Meili menghampiri.


"Sebentar," Jessy menoleh ke arah Tasya. "Ada apa?"


"Ayo cepatlah, nanti saja di sambung lagi." Meili yang tidak sabaran menarik tangan Jessy untuk pergi ke kantin meninggalkan Tasya begitu saja.


Tapi baru setengah perjalanan Meili melupakan sesuatu. "Ya ampun Jessy ponselku ketinggalan di kelas, kamu duluan aja ke kantin sekalian pesan makanan juga untukku ya!" ucapnya dengan cengiran. Tanpa menunggu jawaban dari Jessy, Meili lalu kembali ke kelasnya.

__ADS_1


"Dasar," tetapi Jessy juga menuruti ke inginan Meili untuk pergi ke kantin terlebih dahulu.


Saat di depan kelas, Meili melihat Tasya yang masih berdiri di tempatnya tadi. Sebenarnya hanya alasan Meili saja jika ponselnya tertinggal, karena alasan yang sebenarnya ia ingin berbicara dengan Tasya.


"Tasya," Meili berdiri di samping Tasya.


Tasya kemudian menoleh ke arah Meili.


Kelas mereka kini sudah kosong dan hanya ada kedua gadis itu yang saling berhadapan.


Tasya sendiri bisa melihat Maili menatapnya sudah tidak seperti dulu.


"Jika kamu tidak bisa memiliki apa yang kamu inginkan, jangan libatkan orang lain untuk menjadi alasannya." Meili mengucapkannya tanpa ragu. Ia tadi sengaja mengajak Jessy untuk pergi, karena tidak mau mendengar apa yang akan di ucapkan Tasya. Ia tidak mau melihat sahabatnya terluka setelah baru saja merasakan kebahagiaan.


Setelah mengucapkan itu, Meili pergi dari sana. Tadi pagi ia tidak sengaja melihat apa yang di lakukan Tasya pada Nathan dari dalam mobilnya. Ia yakin jika Nathan akan setia dengan sahabatnya, tetapi ia tidak yakin jika Tasya akan menerima keputusan Nathan begitu saja.


Tasya lagi-lagi hanya bisa menangis mendengar itu, ia tahu ucapan Meili ia tujukan padanya karena ke jadian tadi pagi.


Meili sendiri sebenarnya tidak tega melakukan ini, tapi ia harus melakukannya demi kebaikan Tasya juga agar tidak menyalahkan orang lain.


Wajah Meili yang tadi sempat gusar, kini kembali ceria setelah melihat pangeran pujaannya. "Tumben sendirian!"


"Kak Raka!" panggil Meili, namun sayangnya Raka tidak mendengarnya dan terus berjalan. Niat tadi yang ingin menghampiri Jessy ke kantin musnah begitu saja, ia merubah haluan mengikuti Raka. "Ini kan?"


Meili sedikit heran, setelah mengetahui langkah Raka yang menuju ke kelasnya. Sedetik kemudian ia tersenyum saat pikirannya yang melambung tinggi. "Mungkin Kak Raka mau ketemu sama aku," ia terkikik geli.


Tiba saatnya di depan kelasnya, Meili langsung masuk begitu saja untuk menemui pangerannya.


"Kak --" Meili terdiam dengan apa yang di lihatnya, hingga beberapa saat kemudian kesadarannya kembali. "Ups, sorry!" Ia lalu pergi dari sana.


...----------------...


...Maafkan aku ya Meili harus membuatmu bersedih 😭. ...


...Nah siapa yang seneng lihat Tasya kecewa?...


...Siapa juga yang kasian sama Tasya?...

__ADS_1


__ADS_2