Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Panggilan Baru


__ADS_3

Akibat kejadian semalam, kini Jessy semakin di buat salah tingkah jika ia bertemu dengan suaminya. Jika ia mengingat kembali bagaimana dirinya bisa mengeluarkan suara-suara aneh ketika suaminya berusaha menyentuhnya untuk mendapatkan haknya.


Berkali-kali Jessy mengusap wajahnya kasar, namun setelah itu bibirnya melengkung membentuk senyuman. Meskipun hal itu tidak sampai terjadi, tapi kini ia semakin yakin jika suaminya memiliki perasaan yang sama dengannya.


Bahkan ketika berangkat tadi Jessy sama sekali tidak berani untuk menatap wajah tampan suaminya. Rasa malu dan bahagia datang bersamaan.


Meili yang pagi itu telah tiba lagi-lagi di buat terheran oleh sikap sahabatnya. Sejak pulang dari rumah sakit, sahabatnya itu bersikap aneh. "Jessy, are you ok?" tanyanya.


"Huh?" Jessy yang tidak tau kedatangan Meili karena sibuk dengan pikirannya, ia jadi tidak mengerti apa yang di maksud Meili.


"Kamu tadi tersenyum sendiri!" Meili sedikit bergidik ngeri.


"Benarkah!" Jessy tidak percaya jika ia tadi tersenyum sendiri.


"Iya, sejak pulang dari rumah sakit kamu jadi aneh." Sebenarnya Meili senang melihat sahabatnya itu bisa tersenyum, tapi jika tersenyum sendirian tanpa sebab bukankah itu mengerikan.


Hingga di detik berikutnya, mata Meili membulat ketika ia melihat sesuatu di leher Jessy. Meili segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena ia tau itu apa. Sebab ia tau dari drama korea yang sering ia tonton. "Oh my god!" Meili segera mendekat ke arah Jessy untuk memastikan apa yang ia lihat.


"Meili!" kesal Jessy karena Meili terlalu dekat dengannya. Ia harus memundurkan dirinya. "Apaan sih?" ia tidak mengerti apa yang di lakukan sahabatnya itu.


Setelah memastikan apa yang di lihatnya adalah benar, ia kemudian melirik tajam ke arah Jessy. Rasa penasarannya jelas saja seketika meluap luap. "Jessy kamu dan Kak Nathan sudah?" ia membuat bentuk O dengan jari tangan kirinya dan jari telunjuk tangan kanannya ia masukkan ke tengah huruf O. Dan tak lupa senyum yang terlihat menyebalkan.


Jessy sontak saja mendelik melihat itu. "Lo ngomong apaan sih?" Ia menghindari kontak mata dengan Meili yang sedari tadi menatapnya. Meskipun ia dan suaminya belum melakukannya, tapi kemarin malam hampir saja ia menjadi istri seutuhnya.


"Ah, jangan bohong!" Meili sama sekali tidak menyerah untuk mencari kebenarannya, karena bukti nyata itu sudah tercetak di leher Jessy. "Terus, itu apa?" ia menunjuk leher Jessy di mana ada tanda kepemilikan suaminya.


Tangan Jessy sontak saja langsung memegang lehernya, ia seketika ingat jika suaminya kemarin menghisap lehernya dengan kuat. Ia segera membuka aplikasi kamera pada ponselnya lalu mengarahkan di mana tempat yang di tunjuk Meili.

__ADS_1


Mata Jessy melotot melihat tanda kepemilikan dari suaminya tercetak di sana, bahkan terlihat sangat jelas dengan warna merah keunguan. Pantas saja neneknya tadi pagi, tersenyum tidak jelas padanya waktu sarapan. Lalu bagaimana dengan Nathan! Kenapa ia tidak memberitahunya?


"Iya kan! Kamu sudah--" Meili tidak meneruskan ucapannya karena Tasya yang sudah datang.


Sedangkan Jessy, ia langsung melepas ikatan rambutnya dan membiarkan tergerai. Ia mencoba untuk menutupi yang tidak seharusnya di lihat orang lain, apalagi di wilayah sekolah.


Tasya berjalan begitu saja ke arah bangkunya, ia sama sekali tidak berani menoleh ke arah Jessy dan Meili. Setelah mengetahui kebenaran dari Mariam kemarin kalau kakaknya itu tidak memberitahu siapapun tentang sakitnya. Ada rasa bersalah di hatinya.


Hingga jam istirahat tiba, Meili masih saja membahas tentang Jessy dan Nathan. Ia harus berbisik kepada Jessy karena kantin yang lumayan ramai. "Apa kak Nathan tahan lama?" ia terkikik setelah mengatakan itu. Sekarang pikirannya melayang jauh.


Jessy memutar bola matanya jengah, sedari tadi yang di bahas Meili hanya itu-itu saja. Bagaimana ia bisa menjawab jika dia sendiri belum merasakannya.


Eh!


*


*


Hubungan Nathan dan Jessy semakin dekat, dan seperti janji Jessy waktu itu kini ia menginap di rumah mertuanya. Tapi kini ia mengajak nenek Mariam untuk iku juga, karena Mami Nilam mengadakan acara barbeque di halaman belakang.


Acara malam itu begitu hangat, semua keluarga sedang berkumpul. Dan pembicaraan yang mereka bahas tak lain adalah, kapan Jessy akan hamil?


Mungkin mereka lupa, jika gadis itu masih kurang satu tahun lagi untuk lulus SMA.


Setelah malam semakin larut, semua keluarga memutuskan untuk beristirahat. Mariam, malam ini di minta Oma untuk menginap di sana. Karena sudah lama sekali sahabatnya itu tidak menginap di sana.


Jessy dan Nathan yang berada di kamar, mereka masih menikmati malam dengan duduk di balkon. Dengan posisi Jessy yang bersandar di dada bidang suaminya, dan Nathan yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Hubungan kita, semakin membaik. Apakah tidak mau merubah nama panggilan?" Nathan merasa untuk hubungannya sekarang panggilan lo gue sudah tak seharusnya ia gunakan.


Jessy mendongak sekilas untuk menatap wajah suaminya yang kini juga menatapnya. Ia juga setuju dengan ucapan Nathan. "Terus harus panggil apa?" ia sendiri bingung harus memanggil apa.


"Bagaimana jika di mulai dengan aku kamu, itu terdengar lebih baik." Nathan memberikan ide, mungkin itu awal yang baik. Dan Jessy juga setuju dengan itu.


"Boleh, gue... ehm aku setuju." Jessy masih belum terbiasa dengan panggilannya.


Nathan mencium puncak kepala istrinya karena gemas. Ia berharap setelah ini hubungannya akan lebih baik lagi. Terakhir ia menyentuh istrinya waktu itu, hingga sekarang ia masih tidak menyentuhnya lagi.


Ia tahu istrinya masih belum siap, dan ia bersabar menunggu hingga waktunya nanti.


"Oh ya bagaimana rasanya pak ketos besok yang mundur dari jabatan?" goda Jessy. Ia ingat besok suaminya itu akan melakukan serah jabatan karena sebentar lagi akan melaksanakan ujian nasional.


Nathan terkekeh mendengar itu. "Apa kamu mau menggantikannya?" tawarnya.


Jessy dengan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya cepat. Tapi kemudian ia memikirkan sesuatu. "Tapi boleh juga, nanti kalau aku terlambat tidak ada yang menghukum ku." pikirnya.


Nathan menarik hidung mancung Jessy dengan gemas karena ide konyolnya. "Setelah ini jangan terlambat lagi," tuturnya. "Mungkin jika sudah pergantian ketua OSIS yang baru, hukumannya akan lebih berat."


Karena sebelum-sebelumnya Jessy selalu merajuk setelah di hukum suaminya jika terlambat masuk sekolah meskipun hubungannya sudah lebih baik, karena bagaimana pun jika di sekolah Nathan akan melakukan tugasnya sebagai ketua OSIS.


Dan setelah itu, Nathan akan selalu membujuk istrinya jika sudah di luar sekolah. Nyatanya Jessy sampai sekarang masih saja terlambat masuk sekolah jika tidak berangkat bersama suaminya.


"Benarkah?" tanya Jessy. Meskipun ia sering mendapat hukuman dari suaminya, tapi ia akan menyuruh Nathan untuk membantunya mengerjakannya.


"Hm," sahut Nathan. Kemudian ia langsung mengangkat tubuh Jessy. "Ayo lebih baik kita tidur sekarang, sudah malam." Ia berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


...----------------...


...Nah loh udah mulai panggilan aku kamu aja 🤭, terus habis ini kemajuannya apa lagi ya?...


__ADS_2