
Hingga sampai di vila Meili nyatanya masih saja menangis. Apalagi setelah Lisa dan Tia tau kejadian yang baru saja menimpanya yang kemudian terus mengejeknya. Hingga akhirnya Meili mengurungkan niatnya untuk memasak ikan yang rencananya iq bakar bersama jagung dan sosis nanti, karena dia sekarang sedang dalam mode ngambek.
"Lalu ikam sebanyak ini mau di apakan?" Reza melihat banyaknya ikan yang masih dalam kantong kresek.
Raka menghembuskan nafasnya pelan, akhirnya yang di takutkan terjadi juga. Ikan itu kini terlantar sudah, karena pemiliknya yang ngambek berada di kamar. "Lisa, Tia lo aja yang bersihkan. Semua juga gara-gara kalian."
Lisa dan Tia hanya tersenyum kaku. "Sorry, bukannya nggak mau. Tapi gue beneran nggak bisa masak," kata Lisa.
"Iya gue juga," Tia yang menimpali.
Karena dia gadis itu tak jauh beda dari Jessy yang hanya mengandalkan apa yang di masak oleh bibi di rumah mereka.
"Ya ampun, ternyata cantik juga ada minusnya." gumam Ariel. Ia menyadari jika orang memang tak sempurna.
Mungkin di antara gadis itu, Tasya masih terlihat ada kesempatan untuk bisa memasak. Tapi gadis itu sekarang sedang membujuk Meili yang masih menangis bersama Jessy.
"Ya sudah, kalian kerjakan saja persiapan yang lainya." Nathan menginterupsi.
"Lalu ikannya bagaimana?" tanya Raka.
"Di pikir belakangan saja," sahut Nathan. Dari pada hanya memikirkan soal ikan yang bisa menggagalkan yang lainnya, lebih baik mempersiapkan yang masih bisa untuk di nikmati nantinya.
Akhirnya mereka semua membagi tugas masing-masing. Acara barbeque yang akan dilakukan samping vila.
Setelah tugas Nathan selesai, ia pergi ke dapur untuk mempersiapkan sosis dan jagung yang akan mereka bakar. Tapi kemudian tatapannya tidak sengaja tertuju pada kresek berisi ikan, ia hanya bisa mengembuskan nafasnya kasar.
Dengan bermodalkan celemek, Nathan memulai eksekusi ikan yang di beli Meili. Teman-teman nya tidak ada yang tau jika Nathan juga jago memasak.
Tidak lama, terdengar derap langkah kaki menuju dapur. Kaki itu seketika terhenti di ambang pintu, ketika melihat pemandangan di depannya.
Jessy melihat Nathan tanpa berkedip, cowok yang berstatus suaminya itu ternyata mempunyai nilai tambah lagi. Dengan celemek yang menempel di tubuhnya, membuat Nathan semakin mempesona. Kalau begini siapa yang tidak suka dengan laki-laki seperti itu.
"Kenapa? Terpesona!" Nathan yang mengetahui keberadaan Jessy. Ia sempat menoleh ke arah istrinya, tapi karena Jessy sibuk dengan lamunannya sehingga tidak menyadarinya.
"Huh?" Jelas saja suara bariton itu membuat Jessy tersentak kaget.
"Terpesona sama suami sendiri!" ledek Nathan dengan senyum tipis di bibirnya.
Jessy mecebik mendengar itu. Bukan karena ucapan Nathan, tapi karena ia sudah ketahuan telah kepergok mengamatinya.
__ADS_1
"Apa aku boleh membantu?" Tasya yang baru saja berada di sana. Setelah Meili berjanji nanti akan keluar kamar, Tasya akhirnya memutuskan untuk keluar dan membantu teman-teman nya.
Nathan menoleh ke arah Tasya, kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, lo siapin untuk sambal aja."
Tasya kemudian membuka kulkas dan mengambil bahan untuk membuat sambal.
Nathan menoleh ke arah istrinya. "Lo nggak mau bantu juga?" sindirnya. Karena sebenarnya ia juga sudah tau kalau istrinya tidak bisa memasak.
"Nggak," sahut Jessy cepat.
Hingga akhirnya Jessy di dapur hanya sebagai penonton.
Beberapa saat kemudian pekerjaan di dapur hampir selesai, Tasya yang sudah menyelesaikan sambalnya dan Nathan juga sudah memberikan jeruk nipis pada ikan yang sudah ia cuci agar tidak begitu amis.
Sesaat kemudian terdengar suara dering ponsel, dan ternyata itu milik Tasya. Ketika di lihatnya ternyata sang papa yang menghubunginya.
"Halo pa," jawab Tasya.
Sontak saja itu langsung mengalihkan perhatian Jessy.
"Iya, Tasya baik-baik saja. Papa tidak usah khawatir."
Jessy hanya tersenyum kecut mendengar obrolan adik tirinya bersama sang papa yang sudah lama tidak menghubunginya.
"Gue mau naru ikannya di luar," pamit Nathan. Yang mendapatkan anggukan dari Tasya tapi tidak dengan Jessy, karena pikiran gadis itu entah sedang berada di mana.
Tasya masih saja bertelepon dengan Danu, bahkan tidak ada tanda-tanda untuk menanyakan tentang Jessy.
Setelah Tasya bertelepon ia berniat juga membawa sambal yang sudah ia buat keluar. Begitupun Jessy yang berniat untuk keluar, karena tadi dia berharap ada secuil rindu di hati sang papa untuk dirinya. Tapi harapan itu rupanya hanya semu.
Baru saja Jessy beranjak, Nathan kembali lagi ke dapur dengan ponsel yang berada di tangannya. "Ini," ia menyodorkan kepada Jessy.
Jessy hanya menatap ponsel itu tanpa menerimanya.
"Mami telepon," jelas Nathan lalu memberikan ponselnya pada tangan Jessy.
Jessy lalu segera menempelkan benda pipi itu pada telinganya. "Iya, Mi." sahutnya sambil beranjak dari sana.
Sedangkan Nathan juga kembali pada teman-teman nya.
__ADS_1
Tasya yang melihat interaksi itu, tanpa sadar ia merasakan ada sesuatu yang menghantam dadanya.
*
*
Saat acara barbeque berlangsung, Meili sudah melupakan kekesalan nya pada Lisa dan Tia.
Karena Lisa dan Tia sendiri juga mendapat peringatan dari yang lainya agar tidak mengganggu Meili lagi, atau kalau tidak rencana liburan mereka akan pulang lebih cepat.
Padahal sebenarnya Lisa dan Tia sendiri juga ingin mengerjai Jessy, karena mereka masih kesal melihat Nathan dan Jessy yang berangkat ke vila bersama.
"Wah, ternyata sambal buatan Tasya sangat enak." puji Ariel yang sekarang menikmati ikan bakar dan nasi panas juga sambal buatan Tasya.
Tasya yang mendengar itu hanya tersenyum, bahkan sebenarnya senyum itu adalah senyum terpaksa.
Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, yang sekarang hanya diam saja. Bahkan sedari tadi dia hanya memakan sepotong sosis.
Hingga malam semakin larut, acara barbeque itu akhirnya telah berakhir. Semuanya pun sudah terlelap ke alam mimpi karena perut mereka yang kekenyangan.
Sedangkan Jessy, gadis itu di dalam kamar tidak bisa untuk tidur. Mungkin suasana baru yang sulit untuk membuatnya terpejam.
Hingga beberapa saat berlalu, Jessy masih saja untuk tertidur. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan membawa selimut untuk menghalau udara dingin. Langkahnya menuju ke arah kolam renang. Tapi ia kemudian seketika berhenti saat melihat seseorang juga berada di sana.
"Kenapa nggak tidur?" Rupanya Nathan juga tidak bisa tidur, dan memutuskan untuk berbaring di sofa yang terletak di sudut.
"Hanya mencari udara segar!" kilah Jessy.
"Ini bukan segar, malah sangat dingin." sahut Nathan. "Kemari lah," panggil Nathan dan menepuk tempat di sampingnya.
Jessy hanya diam di tempat, sebenarnya ia berpikir mungkin dengan tidur di sebelah Nathan akan membuatnya terlelap seperti kemarin. Tapi bagaimana jika ada yang melihatnya?
Jessy kemudian menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya.
Tanpa di ketahui Jessy ternyata Nathan sudah berada di depannya, dan tanpa aba-aba langsung menarik tangannya menuju tempat Nathan berbaring sebelumnya.
Nathan dan Jessy berbaring di satu kursi, dengan Nathan mendekap erat tubuh istrinya. Bahkan berbagi selimut yang Jessy bawa.
"Tidurlah," ucap Nathan yang juga ikut memejamkan mata.
__ADS_1
...----------------...