Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Undangan Makan


__ADS_3

Semakin hari persahabatan ketiga gadis itu semakin merenggang, bukan Jessy dan Meili. Tapi Tasya yang semakin menjauh.


Gadis itu hanya diam memendam apa yang dia rasakan, hingga Meili yang sudah berteman dengannya sejak lama tidak tau apa yang di rasakan gadis itu.


Sedangkan Jessy, ia tak terlalu ambil pusing dengan sikap Tasya, karena dari dulu hubungan saudara tidak seperti yang lainnya.


Di saat jam pulang sekolah baru saja ia akan menyalakan motornya, terasa ponsel yang di dalam sakunya berdering menandakan adanya panggilan masuk.


"Mama!" gumam Jessy melihat nama yang tertera di layar ponselnya adalah Mira.


"Iya Ma," jawab Jessy ketika panggilan sudah tersambung.


"Sayang, apa nanti malam kamu bisa pulang ke rumah?" tanya Mira.


Jessy menautkan kedua alisnya mendengar permintaan Mira yang tiba-tiba. "Apa terjadi sesuatu Ma?"


"Tidak, Mama hanya rindu suasana makan bersama!" ujar Mira.


Meskipun dulu Jessy tidak pernah makan di meja yang sama, tapi Mira tetap rindu dengan suasana keluarganya dulu.


Jessy hanya menghembuskan nafasnya pelan, ia sebenarnya sangat malas jika harus pulang ke rumahnya lagi. Rumah yang penuh kenangan buruk, meskipun dulu pernah ada secuil kenangan indahnya bersama mendiang Ibunya.


"Sayang bagaimana?" Mira yang tak kunjung mendengar jawaban dari putrinya.

__ADS_1


"Iya Ma, nanti malam Jessy akan ke sana." Meskipun hanya setengah hati Jessy menyanggupi permintaan Mira, tapi ia lebih tidak tega menolak permintaan ibu sambungnya yang penuh harap.


"Ya sudah nanti malam, Mama tunggu di rumah." sahut Mira dengan antusias.


Ketika sambungan teleponnya sudah berakhir, Jessy masih menatap layar ponsel yang berada di tangannya. Sebenarnya ia malas pulang ke rumah bukan karena ia benci, tapi ia hanya menjaga hatinya agar tidak terluka.


Hingga hari menjelang malam, Jessy masih duduk di balkon kamarnya. Matanya sesekali melihat jam yang ada di ponselnya.


Lagi-lagi hanya hembusan nafas kasar yang keluar dari mulutnya.


Klek.


"Loh kamu belum siap-siap?" Mariam yang baru masuk ke dalam kamar cucu cantiknya itu. "Nanti kamu kemalaman!" ingatkan nya.


Jessy menoleh ke arah Mariam. "Sebentar lagi Nek," sahutnya tak bersemangat. Ingin sekali ia mengingkari janjinya, tapi ia tidak tega melihat raut wajah kecewa Mira.


Mungkin sekarang ia masih hidup, bagaimana jika kelak ia sudah tiada. Pikir Mariam.


Jessy hanya terdiam mendengar ucapan neneknya, seandainya saja doa neneknya itu akan menjadi kenyataan.


Sesaat kemudian, Jessy akhirnya memutuskan untuk bersiap.


"Hati-hati di jalan!" teriak Mariam ketika Jessy sudah melajukan motornya pergi meninggalkan halaman rumahnya.

__ADS_1


Ketika jalan yang ia lalui semakin dekat dengan rumah, ingin sekali Jessy berputar arah. Hatinya seakan menyuruhnya untuk tidak datang ke sana.


Saat sudah di depan gerbang, mata Jessy membulat melihat sosok suaminya yang sudah berdiri di sana. Kenapa tepat sekali waktunya?


Jessy kemudian memberhentikan motornya di samping Nathan.


"Gue di undang Mama," ujar Nathan yang mengetahui raut kebingungan di wajah cantik istrinya.


Jessy menatap suaminya penuh selidik.


"Udah lo nggak perlu curiga!" ucap Nathan dengan mendorong kening Jessy dengan telunjuknya. "Curiga lo nggak beralasan."


"Ish!" Jessy hanya mecebikkan bibirnya.


"Ya sudah ayo masuk," ajak Nathan.


"Lo nggak bawa mobil?" Jessy tidak melihat mobil atau motor milik Nathan.


"Gue di antar supir," sahutnya dan berjalan mendahului Jessy.


"Pasti nanti pulangnya dia mau ngojek sama gue," tebak Jessy.


Padahal tidak ada salahnya jika Nathan ikut pulang bersamanya, tapi bagi Jessy jika berada dekat dengan suaminya ia harus lebih waspada.

__ADS_1


...----------------...


...InsyaAllah nanti di sambung lagi...


__ADS_2