
Setelah acara sakral itu selesai, Danu langsung pulang. Padahal ia sama sekali belum mengucapkan doa untuk putrinya. Rupanya itu di sebabkan oleh Tasya yang sedari tadi menelponnya, karena Danu sebelum berangkat dia berpesan hanya menghadiri meeting sebentar.
Meskipun Mariam sudah menyuruhnya untuk tinggal sebentar lagi, tetapi Danu tetap pergi.
Sontak saja itu juga menggoreskan luka untuk Jessy, meskipun dia terlihat baik-baik saja.
Jessy menatap nanar punggung papa nya yang semakin menjauh.
"Sayang selamat ya, kamu sekarang sudah resmi menjadi anak Mami." Nilam yang mencoba menghibur menantunya. Bahkan ia memberikan pelukan hangat yang juga di balas oleh Jessy.
"Terima kasih Mi," sahut Jessy.
Nilam mengurai pelukannya dan menatap wajah ayu menantunya. "Semuanya yang berada disini juga keluarga kamu sayang," sambil menggenggam tangan Jessy.
Bagaimana Nilam tidak ikut sedih, baru saja sepasang pengantin itu selesai mengucapkan ijab qobul tapi besannya itu sudah meninggalkan putrinya.
Bahkan tamu dan saudara yang hadir masih berada di sana, karena mereka ingin mengucapkan selamat dan sebait doa untuk pengantin baru.
Jessy hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya. Toh baginya selama ini ia juga sering mendapat perlakuan seperti itu dari papa nya.
Setelah itu Nilam berpindah ke Nathan yang duduk di sebelah Jessy. Ia menatap dalam pada putranya. "Sekarang kamu sudah menjadi suami, tanggung jawab mu juga bertambah. Kamu harus bisa menjaga istrimu dengan baik, bukan hanya raganya tapi juga hatinya." pesan Nilam.
Nilam yakin putranya itu akan menjaga istrinya dengan baik, dan bertanggung jawab. Di lihat selama ini Nathan selalu bisa mandiri dan bertanggung jawab dalam segala hal.
Nathan tersenyum mendengar nasehat mama nya, ia segera merengkuh tubuh yang telah melahirkannya ke dalam pelukannya. "Tentu, Mi. Nathan akan menghargai istri Nathan seperti menghargai Mami. Seperti yang di lakukan selama ini oleh Papi," ucapnya yakin.
Setelah itu kini giliran Mariam yang memeluk cucu tersayangnya. "Nenek tidak menyangka, bahwa nenek masih bisa melihatmu menikah."
"Nek...!" Jessy yang tidak suka dengan ucapan Mariam. "Nenek masih muda, tau!" cetusnya.
Mariam mengurai pelukannya dan setelah itu tertawa. Kemudian di detik berikutnya ia menatap wajah Jessy dan mengusap pipinya. "Jadilah istri yang baik untuk suami mu, meskipun kamu menikah di usia muda tapi kamu juga harus mengetahui batasan-batasan yang harus kamu hindari. Agar rumah tangga kamu langgeng hingga hanya maut yang bisa memisahkan." Meskipun ia tersenyum, tapi mata tua itu sudah berkaca-kaca. Mungkin setelah ini ia akan merasa tenang menjalani hari tuanya karena sudah melihat cucunya sudah ada yang menjaga menggantikannya.
"Oh, Nenek! Kenapa di saat seperti ini Nenek terlihat sangat bijak," goda Jessy. Meskipun ia juga mengamini pesan neneknya, tapi ia tidak mau ada kesedihan di hari bahagia ini.
__ADS_1
"Ouch, Nenek." Jessy mengusap lengannya setelah mendapat capitan panas dari Mariam.
"Dasar cucu nakal, di hari seperti ini masih saja bisa becanda." Mariam yang kesal, ia tak habis pikir dengan cucunya itu.
Semua yang melihatnya ikut tersenyum melihat interaksi cucu dan nenek itu.
Mariam kemudian beralih pada Nathan. Bibir keriput itu tersenyum pada cucu mantu tampan nya. "Nenek tidak meminta apapun," ucapnya. Belum mengatakan apa yang ada di hatinya tapi ia sudah merasa sesak di dadanya. "Nenek hanya meminta kamu menjaga Jessy menggantikan nenek. Kamu tau sendiri nenek sudah tua, nenek tidak tau kapan Tuhan akan mengajak nenek bertemu." Ia tersenyum di akhir kalimatnya, tapi tidak dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Jessy yang mendengar ucapan neneknya, dengan sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Entah kenapa ia tak rela melihat neneknya berbicara seperti itu. Matanya dengan cepat mengembun begitu saja.
Nathan segera memeluk tubuh tua Mariam. "Nenek tidak usah khawatir, Nathan akan menjaga Jessy seperti nenek menjaganya."
Mariam yang mendengarnya merasa lega, akan ada sandaran untuk cucunya di saat cucunya itu merasa sendiri.
Semua yang hadir merasa terharu melihat pemandangan itu.
"Sudah, sudah. Ini hari bahagia, tidak ada yang boleh menangis!" Oma menginterupsi.
Mariam segera melepaskan pelukan cucu menantunya dan menatap tidak suka pada sahabatnya. "Kau itu mengganggu saja, kapan lagi aku di peluk oleh pria tampan!" sungut nya.
Setelah itu semuanya secara bergantian memberikan ucapan selamat dan doa kepada pengantin baru. Di mulai dari Oma, papi Tama dan yang lainnya.
Terakhir ada seorang gadis yang sedari tadi menatap pasangan pengantin itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Meili.
Bagaimana tidak, gadis itu merasa terkejut, kesal, senang, bahagia menjadi satu.
"Huaaaaaaa!" Baru saja berdiri di hadapan Jessy, tapi Meili sudah menangis.
Jessy sendiri merasa terkejut dengan kehadiran Meili, tapi tidak dengan Nathan. Nathan sudah bisa menebaknya jika Meili akan ikut dengan papa nya, karena ia tau jika papi Tama dengan papa Meili berteman baik.
"Meili, kenapa lo nangis?" Jessy yang sudah bisa meredam keterkejutan nya.
"Kenapa masih tanya?" sungut Meili. "Tentu saja karena kamu tidak memberitahuku, dan mengajakku langsung ke pernikahan mu." ucapnya dengan sedikit kesal.
__ADS_1
Jessy hanya memutar bola matanya malas mendengar itu. "Udah, nggak usah drama deh!"
Meili melotot. "Kamu jahat!" Tapi setelah itu ia memeluk Jessy dengan erat, tidak lupa dengan tangisnya yang semakin kencang.
"Meili, diam lah!" Jessy yang berusaha melepaskan pelukan Meili, tapi sahabatnya itu justru semakin erat memeluknya. "Meili gue nggak bisa nafas!"
Meili seketika melepaskan pelukannya, dan dengan tidak bersalahnya ia hanya tersenyum lebar. "Maaf," dan mengusap ingusnya.
Jessy berdecak kesal melihat kelakuan Meili.
Meili kemudian menoleh ke arah Nathan. "Kak Nathan selamat ya," ia mengulurkan tangannya. "Kak Nathan mulai hari ini jangan hukum Jessy kalau dia sering terlambat masuk sekolah," ujarnya.
Hal itu sontak saja membuat mata Jessy mendelik. Kurang ajar sekali sahabatnya itu membuka aibnya di sini.
Nathan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Meili, lalu menoleh ke arah Jessy yang sekarang terlihat kesal. "Kita lihat saja nanti."
Setelah hari menjelang siang, semua tamu dan saudara sudah memutuskan untuk pulang. Hanya tersisa keluarga inti saja dan Meili yang berada di Vila. Meili memutuskan untuk tinggal karena Mariam yang menyuruhnya untuk menemani Jessy.
Di dalam kamar, Jessy sudah bersiap membersihkan diri. Memakai baju dan riasan seperti itu membuatnya gerah.
Baru saja ia melepas tiga kancing atasnya, seseorang sudah masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Dan yang membuatnya terkejut ialah ternyata cowok beberapa jam yang lalu resmi menjadi suaminya.
"Mau apa lo?" ketus Jessy dengan menyilang kan tangannya di dadanya dengan waspada.
Nathan yang mendengarnya hanya mengerutkan keningnya. Tapi ia kemudian tersenyum. "Memangnya kenapa? Biasanya pengantin baru ngapain?"
Nathan mulai melepas bajunya dan berjalan ke arah Jessy. Ia melemparkan bajunya begitu saja di atas ranjang.
Jessy seketika di landa kepanikan, melihat suaminya yang berjalan semakin dekat ke arahnya. "Lo jangan macem-macem ya?" hardiknya dan berjalan mundur menghindari Nathan.
"Memang siapa yang melarang suami macem-macem sama istrinya!" Langkah Nathan semakin dekat ke arah Jessy.
Hingga kemudian punggung Jessy sudah membentur lemari. Tapi Nathan justru semakin mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1
Jessy yang melihat itu hanya bisa memejamkan matanya, ketika Nathan sudah tepat ada di hadapannya. Bahakan ia bisa merasakan hembusan nafas Nathan. Entah kemana perginya keberanian Jessy yang selama ini bisa menghajar orang yang berani mengganggunya.
...----------------...