
Setelah sampai di kamar, Jessy langsung saja merebahkan dirinya di ranjang. Rasa rindu pada ranjang yang beberapa hari ini ia tinggalkan terasa begitu nyaman.
Nathan yang melihat istrinya sudah berbaring, kemudian ia berjalan menuju lemari. Sama seperti Jessy, ia juga ada beberapa potong baju yang sengaja ia tinggalkan. Berjaga-jaga kalau dia akan menginap sewaktu-waktu.
Nathan kemudian mengambil kaos miliknya dan satu setel piyama untuk istrinya.
"Ganti baju dulu sebelum tidur," Nathan menyerahkan piyama Jessy yang tadi ia ambil.
Jessy yang tadi sempat memejamkan mata, kini terbuka kembali. Tanpa banyak protes ia segera mengambil piyama dari tangan Nathan, dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Rasa ngantuk yang mulai melanda sudah membuatnya ingin cepat-cepat tidur, apalagi perut yang dalam keadaan kenyang.
Tidak lama Jessy sudah berganti piyama, dan langsung merebahkan tubuhnya kembali. Tanpa ia sadari ternyata suaminya juga sudah berganti pakaian.
Tapi saat Jessy mulai memejamkan matanya kembali, ia merasa sulit untuk terlelap. Sudah beberapa kali Jessy mencari posisi ternyaman nya tapi masih belum menemukannya. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Hingga di detik berikutnya Jessy merasa ada seseorang yang naik di sisi ranjangnya. Sontak saja itu membuat matanya terbuka kembali, dan terkejut ketika tau ternyata itu adalah suaminya. "Lo belum pulang?"
"Nggak." jawab Nathan datar. "Gue tidur sini."
Jelas saja itu membuat Jessy merasa gelisah. Meskipun ia sudah sering tidur dengan suaminya, tapi untuk kali ini berbeda. Karena setiap berdekatan dengan suaminya jantungnya akan berdetak lebih cepat.
__ADS_1
Entah itu perasaan apa Jessy sendiri masih belum menyadarinya.
Cinta kah?
"Udah sekarang tidur," Nathan tanpa permisi langsung saja memeluk Jessy. "Gue tau dari tadi lo nggak bisa tidur, kerena pengen gue peluk kan?"
"Ka-kata siapa?" gugup Jessy dan mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Apa bener?" batin Jessy.
"Jangan gerak-gerak nanti dia bisa bangun!" bisik Nathan sembari mengarahkan pandangannya ke arah bawa yang juga di ikuti arah pandang Jessy. "Kalau nggak, lo harus tanggung jawab." imbuhnya dengan tersenyum tipis.
Nathan laki-laki normal, siapa yang tidak berhasrat jika tidur di temani oleh gadis secantik Jessy. Apalagi mereka sudah dalam ikatan yang sah. Sejak ia mulai merasa nyaman dengan hubungan pernikahannya, ada terbesit keinginan untuk meminta haknya. Tapi sayangnya ia harus bisa menahannya.
(Bohong rasanya enak kok ðŸ¤âœŒ)
"Pintar," Nathan mengusap rambut Jessy. Ia sendiri juga ikut memejamkan mata, sesungguhnya ia juga merasakan lelah pada tubuhnya. Beberapa hari tidur di rumah sakit dan kegiatan di sekolah cukup menguras tenaganya.
Di luar kamar, Mariam yang mengetok pintu kamar Jessy sedari tadi tidak ada tanda-tanda pintu kamar itu akan terbuka. "Apa mereka sudah tidur?" herannya karena jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Padahal niatnya tadi ia ingin menawari cucu dan cucu menantunya bakso, karena tukang bakso langganannya sudah lewat. "Apa mereka sedang membuat adonan cicit untukku?" otak Mariam yang sudah berkelana ke mana-mana.
__ADS_1
Hingga akhirnya Mariam memutuskan untuk memakan baksonya sendiri.
Pagi hari, Jessy merasakan ada yang hilang dalam tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia meraba sisi ranjang di mana suaminya semalam tidur.
"Kemana?" Jessy membuka matanya setelah ia merasakan tidak ada seseorang di sampingnya. "Apa dia pulang?" Ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. "Ya sudahlah."
Jessy memutuskan untuk turun dari ranjang, dan menuju kamar mandi. Ia akan berendam sebentar sebelum sekolah. Beberapa hari di rumah sakit, ia juga merindukan suasana berendam di rumah.
Sedikit menuangkan aroma vanila, mungkin akan menyempurnakan acara berendam nya. Di tambah air hangat yang begitu nyaman.
Hingga beberapa saat, Jessy mengakhiri acara berendam nya. Sudah cukup rasanya untuk membuat tubuhnya segar kembali. Dengan handuk putih yang ia lilitkan ke tubuhnya, hanya mampu menutupi sebatas dada dan di bawah bok*ngnya saja.
Karena suaminya sudah pulang, lebih baik ia berganti pakaian saja di kamar. Jessy berjalan ke arah lemari untuk mengambil seragam sekolahnya, tapi baru saja ia mengangkat tangannya untuk menggapai seragam yang letaknya di bagian yang sedikit tinggi. Handuk yang digunakannya tanpa permisi melorot begitu saja.
Klek.
Sontak saja, mata Jessy dan mata seseorang yang baru masuk itu sama-sama terkejut.
Ternyata Nathan baru saja selesai lari pagi di taman yang tak jauh dari rumah Mariam. "Ehm," Nathan tiba-tiba saja merasakan tenggorokannya kering.
__ADS_1
"Aaaaaaa," tidak ada yang bisa Jessy lakukan selain berteriak.
...----------------...