Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Hamil?


__ADS_3

"Sayang, aku ke toilet bentar ya!" pamit Jessy yang di angguki oleh Nathan. Ia lalu beranjak dari sana dan menuju ke arah toilet.


Sebenarnya itu hanya alasannya saja. Karena tadi ketika ia sampai di sekolah, ternyata bertepatan dengan Papanya yang juga baru tiba. Apalagi ia melihat kalau keluarganya berjalan ke arahnya.


Setelah di toilet, Jessy hanya menatap dirinya di pantulan cermin. "Ma, andai saja Mama ada di sini! Pasti kebahagiaan Jessy semakin lengkap."


Tapi kenyataanya Tuhan memang lebih sayang terhadap Mamanya, hingga lebih dulu mengambilnya kembali.


"Jessy!" suara cempreng itu menggema di toilet. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Meili.


Gadis itu hari ini juga tampil cantik tidak kalah dengan Jessy. "Kenapa di sini?"


Jessy memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan konyol sahabatnya. "Lah lo sendiri ngapain di sini?"


"Lah, di tanya balik nanya."


"Emang kalau di toilet mau ngapain?"


"Ya buang air kecil lah, kalau nggak gitu ya poop. Eh ada juga yang dandan di toilet."


"Kirain mau konser," sahut Jessy dengan tersenyum miring.


"Jessy kamu kok sekarang tambah lemot sih?" keluh Meili yang menganggap serius omongan sahabatnya.


Mata Jessy mendelik mendengar itu, enak saja ia di katai lemot. "Meili, lo--"


"Oh ya aku baru inget!" sela Meili ketika ia teringat sesuatu. Sebenarnya ini bukan haknya untuk bertanya, toh sahabatnya itu punya suami. Jadi jika apa yang di pikirkan nya benar jadi wajar wajar saja, tapi jiwa kepo di dalam dirinya sudah meronta ronta. "Jessy, kamu--" Meili melihat di sekitarnya dan ternyata sepi. "Kamu lagi isi?"


"Isi? Isi apaan?" ia masih belum mengerti.


"Ya ampun!" Meili menepuk keningnya. "Ternyata beneran lemot," gumamnya sembari melirik ke arah Jessy. "Maksud aku hamil?"


Lagi-lagi mata Jessy membola. "Ngawur lo bicaranya," ia masih tidak ingat jika suaminya sudah lama tidak memakai balon ajaib ketika mencari kenikmatan bersamanya.

__ADS_1


"Kenapa ngawur?" Sekarang giliran Meili yang terheran.


"Nggak mungkin lah," sahut Jessy yakin.


"Yakin?"


"Iya."


"Emang udah di tes?"


Jessy terdiam mendengar pertanyaan Meili yang terakhir. Ia mengingat kembali, lalu ada perasaan aneh merasuki hatinya ketika ia baru sadar jika suaminya selama ini selalu membuang bibit unggulnya di dalam. Tapi kemudian ia menepis itu, karena ia belum merasakan tanda-tanda aneh di tubuhnya. "Belum, tapi nggak lah. Lagian tamu bulanan gue juga masih lancar-lancar aja."


Tanpa mereka sadari percakapan mereka di dengar oleh seseorang.


*


*


Beberapa saat lalu, kepala sekolah telah mengumumkan murid yang lulus dengan nilai terbaik. Dan lagi-lagi Jessy mendapat penghargaan itu.


Jessy berdiri di podium dengan tegak, sebenarnya tidak ada ungkapan yang akan ia sampaikan karena tidak ada kata-kata yang menggambarkan betapa ia bahagia untuk saat ini.


"Terima kasih untuk semua guru-guru gue, eh..." Ia menjeda kalimatnya begitu ia merasa salah bicara. Tapi semua yang hadir sudah terlanjur tertawa. "Maksud saya, guru-guru saya." Ia yang membenarkannya. "Terima kasih untuk segala ilmu yang kalian berikan."


"Dan ini semua saya persembahkan untuk orang-orang tersayang saya, termasuk untuk keluarga baru saya." Entah kenapa menyebut kata keluarga membuat matanya memanas seketika. "Terima kasih selalu ada untukku."


Setelah itu ia turun dari podium dengan di iringi tepuk tangan yang kembali bergemuruh.


Jessy memeluk orang-orang tersayang nya secara bergantian, sungguh hari ini adalah hari yang tidak akan pernah ia lupakan.


"Selamat sayang!" Berulang kali kalimat itu di lontarkan oleh Nenek Mariam, Oma, Mami Nilam, Papi Tama dan tentu saja suaminya, Nathan.


Mereka sungguh bangga apa yang di raih Jessy.

__ADS_1


Ketika rombongan Jessy akan pulang karena acara wisuda sudah selesai, seseorang datang menginterupsi mereka. "Selamat Jessy sayang!" Ternyata itu adalah Mira.


Ia langsung memeluk Jessy, sebagai ibu sambung tentu saja ia bangga dengan prestasi Jessy.


"Terima kasih Ma," sahut Jessy.


"Selamat Jessy." Untuk pertama kalinya Danu mengucapkan kata yang begitu menakjubkan bagi Jessy.


Jessy menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Terima kasih Pa." Ia tidak menyangka papanya bisa berkata seperti itu.


Sedangkan Tasya hanya diam saja, tapi sorot matanya sedari tadi tertuju pada Jessy dan Nathan secara bergantian.


Hingga beberapa saat, para orang tua itu terlibat dalam perbincangan.


"Kak!" panggil Tasya pada Jessy.


Jessy langsung menoleh ke arah Tasya.


"Tasya mau bicara sama kakak." ucapnya ragu-ragu.


Setelah itu kedua putri Danu beranjak dari sana.


Nathan yang melihat kepergian istrinya sebenarnya ingin mencegahnya, namun ia terjebak dalam perbincangan orang tuanya.


...----------------...


...Kira-kira apa yang mau di bicarakan Tasya? πŸ€”...


...Untuk yang tanya kenapa nggak di beritahu aja statusnya?...


...Tenang sebentar lagi kok 😁...


...Love you all πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2