
Setelah sarapan pagi, Jessy dan Nathan langsung bersiap untuk menghadiri pernikahan Sofiana. Pernikahan Sofiana tidak jauh berbeda dengan mereka, yaitu hanya di hadiri keluarga dari kedua belah pihak.
"Lo cantik." Jessy sedikit terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Ternyata sedari tadi Nathan terus memperhatikan istrinya yang sedang bercermin. Tidak di pungkiri, jika istrinya itu sangat cantik. Pantas saja Reza dan Ariel juga berebut untuk mendapatkan cinta istrinya.
Dan Nathan, tidak tahu saja jika Jessy juga mengagumi ketampanannya.
"Apaan si!" Jessy mencoba menghalau rasa malunya. Tapi rona merah di pipinya tentu saja terlihat jelas.
Nathan tersenyum melihat tingkah istrinya jika seperti ini, ia kemudian memeluk Jessy dari belakang. "Iya, bahkan lo sangat cantik." Setelah mengatakan itu ia memberi kecupan pada pipi Jessy yang semakin merona.
Jessy hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya, tapi di balik itu semua ia juga bahagia karena hubungannya dan Nathan semakin membaik. Ia masih saja tak menyangka melihat sifat lain dari suaminya, jika di sekolah Nathan begitu datar tapi lihatlah sekarang suaminya itu pandai sekali dalam merayu.
"Nggak usah gombal," sahut Jessy sembari merapikan tatanannya. Ia tidak memperdulikan Nathan yang masih memeluknya.
"Tapi lo suka." Jelas saja perkataan suaminya itu tepat sasaran.
Nathan membalikkan Jessy hingga sekarang mereka saling berhadapan. "Cantik bukan hanya dari wajah, tapi hati juga perlu. Dan lo mempunyai keduanya."
Jessy tidak tau harus berkata apalagi, tapi sungguh perkataan suaminya sangat menyejukkan hatinya. Hanya bibirnya yang bisa tersenyum menanggapi itu, bahkan matanya seketika berkaca-kaca.
__ADS_1
Nathan segera membawa Jessy dalam pelukannya. "Sekarang lo punya gue untuk berbagi suka dan duka." yang hanya mampu di angguki Jessy di sela-sela pelukannya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang." Setelah Nathan mengakhiri pelukan mereka.
"Kalian mau berangkat sekarang?" Ketika Mariam melihat suami istri itu sudah berpakaian rapi. Tadi ketika sarapan Jessy sudah mengatakan kepada Mariam, jika ia dan Nathan akan menghadiri pernikahan sepupu dari suaminya.
"Iya," sahut Jessy dan Nathan bersamaan. Setelah menyadari kekompakan di antara mereka, Nathan dan Jessy kemudian saling tatap. Dan di detik berikutnya mereka saling tertawa.
Mariam ikut bahagia melihat senyum di wajah mereka, ia yakin kalau hubungan di antara mereka sudah ada kemajuan. "Ya sudah hati-hati di jalan." pesannya.
Setelah Jessy dan nathan berpamitan, perlahan mobil yang di kendarai Nathan keluar dari halaman rumah Mariam.
Baru saja Mariam akan masuk ke dalam rumah, ia melihat mobil yang ia kenali memasuki halaman rumahnya.
Mariam menyambut ayah dari cucunya itu dengan ramah, meskipun ia tau bagaimana sebenarnya sikap Danu terhadap Jessy. "Ayo silahkan masuk!"
Hingga beberapa saat di ruang tamu itu hanya ada keheningan. Danu dan keluarga barunya sedikit canggung untuk memulai percakapan, meskipun Mariam begitu ramah pada mereka.
"Ma, apa Jessy ada di rumah?" Mira yang memulai percakapan. Tapi ia juga sebenarnya ingin sekali cepat bertemu dengan putri sambungnya.
"Jessy baru saja keluar," jawab Mariam. "Mungkin cuma selisih beberapa menit dengan kalian."
__ADS_1
"Bukannya Jessy baru sembuh! Kenapa sekarang ia sudah pergi-pergi?" Danu yang tidak habis pikir dengan putri satunya yang selalu membuat ulah itu. Bukanya beristirahat di rumah malah sekarang ia sedang pergi.
"Sakit?" Mariam mengerutkan keningnya. Karena ia melihat cucunya yang baik-baik saja.
"Iya Ma, kata Tasya dia tidak masuk sekolah selama tiga hari karena sakit." Danu sekilas melihat ke arah Tasya yang sedari diam saja menyimak obrolan para orang tua.
"Benarkah?" Mariam mengalihkan pada Tasya, dan mendapatkan anggukan dari gadis itu.
Mariam hanya menghembuskan nafasnya pelan mendengar kenyataan yang baru di ketahui itu.
"Kami masih belum sempat menjenguknya ketika di rumah sakit, karena kami berada di luar kota." tutur Mira dengan menyesal, tapi ia juga sedih karena sekarang ia tidak bisa bertugas Jessy dan meminta maaf secara langsung.
Mariam hanya bisa meraup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan nya dengan kasar. Ia tidak tau harus berkata apa. Cucunya itu bahkan merahasiakan hal sepenting ini darinya, ia tahu mungkin saja cucunya itu berniat baik agar ia tidak merasa khawatir. "Mama sendiri baru mengetahuinya jika Jessy sakit, dan itu dari kalian sekarang." ujar Mariam yang membuat ketiga orang itu juga tersentak kaget.
Mariam kemudian menoleh ke arah Danu. "Putrimu itu selalu memilih menyimpan lukanya sendiri, dari pada membuat orang lain khawatir." Dari perkataan Mariam tersirat jelas jika Jessy lebih memilih ia yang terluka dari pada orang yang disayanginya.
Mariam tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jessy ketika sakit, tanpa ada keluarga yang menjaganya. Tapi ia yakin jika cucu menantunya pasti akan menjaga Jessy dengan baik.
Danu sedikit tersentil hatinya mendengar ucapan mantan mertuanya itu, sedangkan Mira dan Tasya hanya terdiam.
...----------------...
__ADS_1
...Udah senin aja, jangan lupa dukungannya ya gengs 😁...