
Hari berlalu begitu saja, besok tiba waktunya untuk pengambilan raport.
Dan itu hari yang paling tidak di sukai oleh Meili, begitupun Jessy. Mereka mempunyai kesamaan.
Jika Jessy, ia tidak menyukai hari itu karena akan teringat bahwa orang tuanya selama ini tidak pernah hadir untuk mengambilnya ke sekolah dan selalu di wakilkan oleh bibi di rumah.
Sedangkan Meili, ia tidak menyukainya karena di saat seperti inilah papanya akan selalu membandingkan nilainya dengan nilai murid yang lainnya.
"Hhaa!" Jessy dan Meili sama-sama menghembuskan nafasnya kasar setelah melihat surat pemberitahuan dari sekolah.
Keduanya lalu sama-sama menoleh hingga di detik berikutnya mereka saling tertawa.
"Ke kantin aja yuk?" ajak Meili. Karena hari ini sebenarnya hari bebas bagi semua murid.
"Ok," sahut Jessy. Dari pada di kelas, pikirannya menjadi semakin suntuk.
Di kantin ternyata sudah penuh dengan murid lainnya.
"Penuh Meili." Jessy mengedarkan pandangannya, siapa tau masih ada tempat yang kosong. Ternyata ia melihat ada suaminya yang juga berada di kantin, tentunya bersama teman-temannya. "Di sana aja," tunjuk nya ke arah Nathan.
Meili menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya kasar, Lagi-lagi ia harus bertemu Raka.
Nathan yang melihat kedatangan istrinya langsung menyuruh Ariel menggeser duduknya.
"Mentang-mentang bininya dateng, langsung aja!" gerutu Ariel sembari berpindah tempat duduk.
Nathan sama sekali tidak memperdulikan gerutuan Ariel. "Sini sayang," sembari menepuk tempat sebelahnya.
Ariel dan Reza, sama-sama memperagakan seseorang yang ingin muntah mendengar itu, selama ini mereka belum pernah melihat Nathan bertingkah seperti itu.
Jessy sedikit salah tingkah mendengar suaminya memanggil sayang di tempat umum, meskipun itu bukan pertama kalinya tetap saja itu membuatnya malu.
Sejak liburan kemarin memang hubungannya dengan Nathan semakin membaik, bahkan bisa di bilang sangat baik. Hingga tidak ada alasan bagi keduanya untuk memanggil dengan sebutan sayang.
Sedangkan Meili terpaksa harus duduk di sebelah Jessy, yang sebelah nya lagi adalah Raka.
"Besok pembagian raport?" tanya Nathan. Karena tadi ia sempat mendengar dari beberapa murid yang membicarakan acara besok.
Jessy menganggukkan kepalanya. "Mungkin untuk tahun ini nenek yang akan datang," ia hanya tersenyum kecut. Memiliki orang tua dan tidak, nyatanya baginya sama saja.
__ADS_1
Nathan mengusap puncak kepala Jessy. "Mau aku yang ambilkan?" tawarnya. Yang langsung membuat mata Jessy melotot.
"Nggak usah, nanti yang ada banyak pertanyaan dari fans kamu!" sindir Jessy, mengingat suaminya itu memang banyak yang mengagumi di sekolah mereka.
Nathan hanya tertawa melihat raut wajah istrinya yang sedikit kesal.
"Idih, seneng banget mukanya!" Jessy semakin cemberut melihat itu.
Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat drama pasutri itu.
Jessy kemudian menoleh pada Meili yang sedari tadi hanya diam saja. "Besok kamu gimana?" ia tahu kalau papa Meili besok pasti akan duduk bersama para guru, mengingat papa Meili adalah pemilik yayasan. Dan di pastikan Meili tidak ada yang mendampingi.
Meili mengangkat kedua bahunya. "Belum tau." tapi matanya menatap pada layar ponsel yang berada di tangannya, ia sedari tadi sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Jawaban Meili menyita perhatian Raka. Ia menoleh pada gadis yang semakin lama tidak mau lagi menatapnya.
"Uhm, gimana kalau aku minta tolong pada Kak Rian ya?" ucap Meili tiba-tiba. Mungkin saja Rian mau membantunya, mengingat hubungannya sangat baik.
"Rian?" Jessy masih tidak mengerti.
"Oh, aku belum cerita ya!" Meili terkikik baru menyadari jika dirinya sama sekali belum cerita pada Jessy. "Itu salah satu pelanggan di rumah makan Nenek, orangnya sangat baik." ceritanya antusias.
Decitan dari kursi Raka terdengar cukur keras karena ia uang tiba-tiba berdiri, hingga menyita perhatian semua orang.
"Gue pergi dulu." Ia lalu pergi begitu saja.
"Kenapa tuh anak?" Reza tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
"Lagi PMS mungkin," sahut Ariel yang membuat lainnya tertawa. Terkecuali Meili yang melihat kepergian Raka semakin menjauh.
*
*
Esoknya, Jessy sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. "Nek, berangkat sama Jessy atau nggak!" tanya nya sedikit berteriak dari meja makan.
Mariam berjalan dari arah dapur. "Nanti Nenek sama supir saja, nanti Nenek kalau naik motor kamu bisa turun nggak bisa naik." Mengingat motor cucunya itu yang lumayan tinggi.
"Kebalik Nenek, umumnya itu bisa naik nggak bisa turun." Jessy hanya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Tapi kenyataanya, Nenek nggak bisa naik. Kalau turunnya gampang, tinggal melorot juga bisa." jelas Mariam.
"Ya sudah kalau begitu, Jessy berangkat dulu. Nanti kalau sudah sampai di sekolah, nenek telepon saja." Setelah mencium punggung tangan Mariam Jessy langsung berangkat ke sekolah.
Jalanan pagi itu tidak begitu ramai, hingga hanya butuh 15 menit untuk ia sampai di sekolah.
Setelah memarkirkan motornya Jessy lalu berjalan menuju ke kelasnya, sebelum nanti acara pengambilan rapot akan dimulai di salah satu aula.
Baru saja beberapa meter ia berjalan, ia melihat mobil yang sangat ia kenal. Danu.
Papanya terlihat merangkul bahu Tasya dan Mira yang juga berjalan di sisi lain sebelah Tasya. Mereka berjalan beriringan, sembari saling tertawa membicarakan suatu hal.
Sungguh keluarga yang bahagia bukan.
"Jessy!" teriak Meili dari arah mobilnya yang baru datang.
Teriakan Meili terdengar sampai ke telinga Danu, Tasya juga Mira. Mereka berhenti hingga pandangan mereka menangkap keberadaan Jessy yang tidak jauh dari mereka berada.
Seketika Mira menghampiri Jessy, dan bersamaan Meili juga menghampiri.
"Sayang!" Mira memeluk Jessy, tapi Jessy hanya diam saja menerima itu. "Apa kabar?"
Jessy hanya tersenyum tipis. "Baik Ma." Ketika ia melihat Danu dan Tasya yang juga berjalan ke arahnya, Jessy langsung menarik tangan Meili. "Ma, Jessy duluan." Ia pergi begitu saja dari sana.
Ia tidak mau untuk beramah tama dengan papanya, yang nantinya pasti akan menggoreskan luka di hatinya.
"Kenapa anak itu masih sama saja kelakuannya." Danu tidak habis pikir dengan putrinya itu, sama sekali tidak berubah.
"Pa sudah lah, mungkin Jessy sedang ada keperluan lain!" Mira tidak mau melihat suaminya itu marah kepada Jessy. Ia sudah cukup kasihan dengan putri sambungnya yang harus tinggal terpisah dengannya.
"Kamu selalu saja membelanya." Mira hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Sedangkan Tasya, gadis itu melihat kepergian Jessy dan Meili yang semakin menjauh.
...----------------...
...Raka gimana perasaanya? Nano Nano nggak 🤭...
...Papa Danu, munculnya sedikit tapi bikin gemes deh 😁...
__ADS_1