
"Ya sudah kalau begitu, Papa berangkat dulu." Danu yang akan berangkat keluar kota untuk beberapa hari karena ada pekerjaan. Dan Mira untuk saat ini tidak bisa menemani sang suami.
"Iya Pa, hati-hati." sahut Mira.
Setelah melihat Mobil Danu sudah keluar dari gerbang rumahnya, Mira menghembuskan nafasnya pelan. Ia kemudian berjalan menuju kamar Tasya.
Sudah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar putrinya, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Hingga akhirnya ia langsung membuka pintu itu, terlihat Tasya yang duduk di ranjang dengan pandangan kosong.
"Sayang!" Mira menghampiri nya lalu duduk di tepi ranjang. Ia berusaha bicara hati ke hati, menata ucapan dengan sebaik mungkin. Karena ia tau apa yang sedang putrinya rasakan, meskipun ia sendiri mengakui jika putrinya kini juga dalam keadaan salah.
Siang tadi, dengan sengaja Mira mengikuti Jessy dan Tasya. Ia sedikit takut jika putrinya itu sampai mengatakan hal yang akan membuat ikatan saudara itu semakin renggang.
Tapi ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi, apalagi ia baru mengetahui apa yang di lakukan putrinya selama ini.
Sekarang statusnya sebagai ibu yang membuatnya sedikit sulit untuk menasehati putrinya, jangan sampai jika Tasya berpikir kalau ia lebih menyayangi Jessy.
Tasya mengalihkan pandangannya kepada sang ibu, tapi tidak ada sahutan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Masih terlihat sisa air mata di sekitar mata gadis itu.
Lagi-lagi Mira menghembuskan nafasnya pelan melihat itu.
Di lain tempat, Jessy juga masih teringat ucapan Tasya tadi siang. Bohong sekali jika ia tidak kepikiran, meskipun ia sudah mencoba untuk melupakannya namun kata-kata itu. asih terngiang di otaknya.
"Kamu belum tidur?" Nathan baru saja sampai, setelah tadi ia pergi ke counter. Ia berjalan mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di ranjang, tidak lupa memberikan satu kecupan.
Tiba-tiba Jessy melirik tajam ke arah suaminya. "Apa Tasya pernah mengatakan sesuatu?"
Nathan sedikit merasakan tubuhnya sedikit menegang, ia memang sengaja tidak menceritakan kejadian saat itu. Tentu saja niatnya tidak jauh beda dengan Mira.
Melihat suaminya yang diam saja, Jessy sudah menyimpulkan jawabannya. Ia hanya tersenyum getir, betapa takdir yang kembali mempermainkan hidupnya. "Jadi benar, Tasya sudah mengakui perasaanya?"
Nathan begitu saja menggapai tangan Jessy. "Maaf aku tidak bercerita tentang itu," sesalnya. "Karena aku tidak mau hubungan persaudaraan kalian renggang," jelasnya.
Jessy menatap dalam bola mata Nathan. "Apakah dari dulu, terlihat hubungan kami yang baik-baik saja?" tanya nya. Sungguh ia merasa sedikit kecewa karena suaminya tidak jujur terhadapnya. "Bahkan dari dulu hubungan kami sudah hancur sebelum di mulai." Mata yang tadi menatap tajam kini mulai memanas.
__ADS_1
Nyatanya meskipun semua orang melihatnya baik-baik saja, tapi ia yang merasakan sungguh tidak merasakan kebahagiaan sama sekali dari keluarganya. "Apa kamu tau? Ketika aku tau Tasya juga menyukaimu?" Satu cairan lolos dari matanya.
"Aku takut, apa yang aku miliki akan hilang kembali."
"Aku takut kebahagiaan yang baru saja aku rasakan akan direnggut paksa."
"Aku takut --"
"Sayang tenanglah," Nathan segera membawa Jessy ke dalam dekapannya. Mendekap istrinya yang mulai terisak, ia tidak tau jika istrinya akan mengalami ketakutan yang begitu besar. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kamu yang pertama dan terakhir untukku."
Hingga beberapa saat kemudian, Jessy baru bisa tenang. Bahkan ia sudah terlelap di dekapan suaminya.
Perlahan Nathan membaringkan tubuh Jessy, ia menatap wajah ayu itu dengan sedikit iba. "Maaf sudah membuatmu bersedih," sembari membersihkan sisa air matanya.
...----------------...
__ADS_1