Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Publish


__ADS_3

Raka mengerjapan matanya, hingga kemudian ia tersentak kaget mengetahui gadis yang bersamanya mulai tadi malam tidak ada di sampingnya. Bahkan jaket yang semalam ia pakaian pada Meili sekarang berpindah ke dirinya.


Ia segera keluar dari mobil, hingga ketika sudah di luar ia mendapati gadis itu yang sedang terduduk di pasir dengan menghadap ke laut lepas.


Tanpa banyak bicara, Raka menghampiri Meili dan duduk begitu saja di sampingnya. "Apa sekarang lebih baik?" tanya nya tanpa menoleh ke arah Meili.


Meili sedikit terkejut mengetahui Raka yang sudah duduk di sampingnya, sedari tadi pikirannya melayang jauh entah kemana. Ia menoleh ke arah Raka, kemudian kembali menatap ke arah laut. "Hm, Terima kasih."


Wajah Meili pagi ini memang terlihat sedikit membaik di banding kan tadi malam, hanya mata yang masih terlihat sedikit sembab.


*


*


Waktu berputar begitu saja, tak terasa besok adalah hari wisuda bagi murid kelas tiga.


Padahal yang akan di wisuda besok adalah Nathan. Tapi Mami Nilam justru sibuk mencoba gaun bersama Jessy yang akan di kenakan besok.


Mami Nilam mengajak Jessy untuk ikut hadir di acara wisuda Nathan, bagaimana pun ia sekarang adalah juga orang terpenting di dalam hidup putranya.


Mereka sekarang berada di butik, tiga wanita berbeda generasi itu tampak mencoba gaun yang sebelumnya di pesan oleh Nilam beberapa hari yang lalu.


Oma menjadi giliran pertama yang mencoba gaun itu, dan model yang di pilih Nilam terlihat cocok di usia Oma.


Yang kedua adalah giliran Nilam, meskipun usiannya tidaklah muda lagi. Tapi ia tetap terlihat cantik dan anggun.


Sedangkan yang terakhir adalah giliran Jessy untuk mencoba.


"Sayang, kamu sangat cantik." Nilam memuji menantunya begitu selesai mencoba gaun yang warnanya senada dengan miliknya.


"Iya, kamu sangat cantik sekali." Oma juga menimpali.


Jessy tersenyum mendengar itu, bahkan sekarang pipinya sudah merona.


"Sayang sekali, suami kamu tidak ada di sini," kata Nilam.


Tadi Nathan hanya mengantar para wanita itu, setelahnya ia pergi ke counter miliknya. Ia tidak terlalu memusingkan pakaian yang akan di kenakan nya, semuanya ia serahkan pada pilihan Maminya. Termasuk Papi Tama yang juga sependapat dengan putranya.


Malam harinya.


"Gimana tadi di butik?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Sayang kalau tanya, tangannya jangan kemana-mana." Jessy mendengus. Semakin hari suaminya itu semakin mes*m, dan lihatlah sekarang tangan kokoh itu sedikit demi sedikit masuk ke dalam bajunya.


Nathan hanya menanggapinya dengan senyuman, bagaimana bisa tangannya menganggur jika sudah berbaring di ranjang seperti ini bersama istrinya. "Karena aku gemas," tepat saat itulah tangannya menemukan bulatan yang selalu menggoda.


Jessy memutar bola matanya malas, dulu ketia ia menggoda tapi suaminya tidak memperdulikan nya. Giliran sekarang, tanpa di goda suaminya itu selalu menerjangnya.


"Gaunnya bagus, warnanya juga cantik." Jessy mengatakan yang sebenarnya, karena ia menyukai gaun yang Mami Nilam disain.


"Yang pakai jauh lebih cantik." Sahut Nathan.


"Jangan merayu."


"Tidak."


"Tapi kamu selalu begitu sebelum--"


"Sebelum apa?"


"Sudahlah." Jessy mengakhiri perdebatannya.


"Oh ya ada yang mau aku bicarakan," Nathan menatap serius ke arah Jessy.


"Apa?"


"Terserah kamu saja. Memangnya mau mengambil jurusan apa?"


"Bisnis manajemen." Nathan tidak asal begitu saja mengambil jurusan itu, ia sudah mempertimbangkan dengan matang. Selain ia memang suka berbisnis, itu juga salah satu penunjang jika waktunya tiba nanti ia akan mengantikan papi Tama.


Jessy hanya menganggukkan kepalanya, ia hanya berharap jika yang menjadi pilihan suaminya menjadi pilihan yang terbaik. "Ya sudah, sekarang ayo kita tidur. Jangan sampai besok kita terlambat bangun," ia membenarkan posisinya.


"Sayang --"


"Aku sedang datang bulan sayang," sela Jessy dengan tersenyum manis ke arah suaminya.


"Huh!"


"Iya, jadi kamu puasa dulu. Dan sekarang ayo kita tidur," Jessy langsung memejamkan matanya. Karena kalau tidak, ia bisa tertawa melihat raut wajah suaminya yang sedang lesu.


"Ya ampun," frustasinya Nathan. "Perasaan baru kemarin puasa, sekarang sudah puasa lagi."


Pagi harinya, di rumah Nathan semua orang bangun lebih awal. Mami Nilam bahkan mendatangkan MUA ke rumah agar tidak perlu repot repot datang ke salon.

__ADS_1


Hingga pukul delapan pagi, semuanya sudah tampak rapi. Termasuk Mami Nilam dan juga Oma yang terlihat cantik dengan polesan make up di wajahnya.


"Sayang, istri kamu belum selesai juga?" Mami Nilam yang baru bergabung di ruang tamu. Di sana semua orang sudah berkumpul.


"Belum Mi," jawab Nathan.


"Yuhuuuu," suara MUA yang turun dari tangga mengalihkan perhatian semua orang. Pria lemah gemulai itu nampak turun lebih dulu di ikuti oleh Jessy yang berjalan di belakangnya. "Gimana karya eike! Sempurna kan?" ia memamerkan hasil maha karyanya. Memoles wajah Jessy yang tampak begitu mempesona.


Nathan yang melihat tampilan istrinya berbeda dari biasanya, membuatnya tidak berkedip. Meskipun istrinya itu memang cantik, namun kali ini sungguh terlihat luar biasa.


"Biasa aja son lihatnya," cibir Papi Tama mengetahui putranya yang tidak berkedip melihat sang menantu.


Ucapan Papi Tama sukses membuat semua orang tertawa, dan itu membuat Jessy tersipu.


Setelah itu mereka memutuskan untuk segera berangkat, karena acara di mulai pukul sembilan.


Ketika sampai di sekolah, sontak saja Jessy dan Nathan menjadi pusat perhatian. Mereka sungguh pasangan yang serasi, apalagi dengan warna baju yang senada membuat mereka tampak begitu memukau.


Nathan dengan terang terangan menggandeng tangan Jessy ketika berjalan menuju aula, sedangkan orang tuanya sudah lebih dulu ke sana.


Kejadian itu tentu saja membuat hati para siswi yang selama ini mengidolakan Nathan hancur seketika.


"Beneran Nathan sama Jessy?"


"Perasaan selama ini nggak ada tanda-tanda mereka jadian deh!"


"Kenapa sekarang tiba-tiba mereka terlihat mesra?"


Itulah celetukan para siswi yang hatinya di patahkan oleh kenyataan Nathan menggandeng Jessy, yang artinya mereka memiliki hubungan. Tidak terkecuali Lisa dan Tia yang terkejut melihat kenyataan itu.


"Widih, mau di publish nih ceritanya!" Ariel menghampiri Nathan dan Jessy.


"Kayaknya sih, noh nggak lihat! Cincinnya udah di pakai." Reza yang ikut bergabung, ia melihat cincin yang bertengger di jari manis sahabatnya itu sama seperti milik Jessy. Yang tak lama juga di susul oleh kehadiran Raka.


Nathan hanya tersenyum tipis mendengar itu, karena selama ini ia memang hanya menautkan cincin itu bersama gelang yang ia pakai.


Mata Jessy seketika mengarah ke arah cincin yang terpasang di jari suaminya, ia sedari tadi tidak menyadarinya. Ada rasa bahagia melihat itu.


Raka yang melihat itu hanya diam dan menyaksikan. Tetapi dia juga ikut bahagia melihat sahabatnya memiliki pasangan hidup yang mampu membuat sahabatnya itu bahagia.


...----------------...

__ADS_1


...Papa Nathan dah berani nih gandeng Mommy Jessy di depan umum. Padahal aku juga mau kalau di gandeng 🤭🥰...


__ADS_2