
Setelah mendapat kabar tentang kehamilan putrinya, Danu jelas saja merasa bahagia. Karena ia sebentar lagi akan menjadi kakek, namun ia sedikit sedih karena yang memberitahunya adalah besannya. Bukan dari putrinya sendiri.
Tetapi ia sadar, itu semua karena kesalahan yang telah ia perbuat.
Istrinya dan juga Tasya, mereka sudah pergi ke luar kota untuk menjalani pengobatan. Tentu saja untuk menyembuhkan Tasya dari depresinya, dan ia tidak bisa selalu mendampingi karena perusahaan yang membutuhkannya.
Pagi ini Danu begitu terkejut, jika besannya itu lagi-lagi memberikan kabar kepindahan putrinya. Tanpa pikir panjang, ia langsung meluncur ke rumah mantan ibu mertuanya.
Ketika mobilnya akan sampai, ia melihat mobil yang di ketahui nya milik menantunya sudah keluar dari halaman rumah Mariam. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan mobil Nathan, karena sampai saat ini ia masih belum bisa ada kesempatan untuk berbicara dengan putrinya.
Di dalam mobil Nathan, Jessy bisa melihat Papanya turun dari mobil dan berjalan ke arah mobilnya.
"Apa kamu mau bicara dengan Papa?" tanya Nathan.
Sejenak Jessy terdiam untuk berpikir, mungkin saja ini adalah terakhir kalinya ia berbicara dengan Papanya.
Ia kemudian menganggukkan kepalanya, dan segera keluar dari mobil.
__ADS_1
Nathan, Oma dan Nenek memberikan waktu untuk ayah dan anak itu berbicara. Meskipun di tempat yang tidak seharusnya.
"Jessy," Danu begitu bahagia melihat putrinya yang mau menemuinya.
Tapi kebahagiaan itu seketika sirna, saat ia mencoba untuk memeluk Jessy namun putrinya itu justru memundurkan dirinya untuk menghindar.
"Ada apa?" tanya Jessy langsung. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya ketika sang Papa mau menemuinya.
Mungkin jika orang lain melihatnya ia akan di anggap sebagai anak durhaka, namun ia tidak peduli. Karena luka yang di rasakan nya sudah terlalu dalam.
Tenggorokan Danu rasanya tercekat, melihat reaksi putrinya. "Papa minta maaf Nak, selama ini sudah menyakitimu."
"Papa tahu, kesalahan Papa begitu besar." Danu terus saja berusaha untuk mendapatkan maaf dari putrinya.
Tanpa di duga, Danu bahkan berlutut di hadapan Jessy.
Jessy yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. "Bangunlah Pa." Jessy tidak suka melihat situasi ini. "Jessy sudah melupakan semuanya, jadi tidak ada lagi yang perlu di maafkan."
__ADS_1
Meskipun ia tahu kali ini Papa nya terlihat serius mengakui kesalahannya, tapi ia rasanya masih sulit untuk mengubah rasa sakit di hatinya. "Bukannya kewajiban anak adalah agar bisa berbakti kepada kedua orang tuanya, Jessy pikir dengan ini bisa membuktikannya pada Papa." Ia hanya bisa tersenyum getir setelah mengatakan itu. "Jessy harus pergi sekarang."
Mendengar ucapan putrinya, hatinya terasa begitu tertohok. Danu merasa telah gagal menjadi ayah selama ini, hingga ia melupakan kewajiban nya sebagai orang tua.
Rasanya ia semakin bersalah kepada putri dan mendiang istrinya. Ia lalu bangkit begitu Jessy akan kembali ke dalam mobil. "Jika ada waktu, pulanglah ke rumah. Papa akan selalu menunggu kedatangan mu."
Jessy seketika menghentikan niatnya, lagi-lagi ia menghembuskan nafasnya secara perlahan lalu menoleh ke arah papanya yang sedang menatapnya. "Jangan mengharapkan sesuatu yang bersifat semu, mungkin saja nantinya itu semua takkan pernah terjadi." Setelah itu ia benar-benar masuk ke dalam mobil. "Sayang, kita berangkat sekarang." ujarnya pada Nathan.
Setelah mobil menantunya itu perlahan melaju pergi, hatinya semakin merasakan rasa bersalah yang begitu teramat dalam. "Kasih, maafkan aku." lirih nya.
Nyatanya sakit yang sesungguhnya adalah di kala hati baru merasakan penyesalan, tapi sayangnya penyesalan itu selalu datang terlambat.
Kini semuanya sudah terlambat, ia tak mampu lagi untuk mengobati luka hati putrinya yang ia sebabkan.
Flashback Off.
...----------------...
__ADS_1
...Tinggal satu episode nih gengs kisah Mommy Jessy dan Papa Nathan end. Rasanya masih sayang banget sama mereka 🥰. Kalau kalian gimana?...