Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Makan Malam


__ADS_3

Mira memeluk Jessy erat, bertemu dengan putrinya rasanya seperti air yang mengobati dahaga. Rasa rindu yang sempat ia rasakan kini terobati sudah. "Terima kasih sayang kamu sudah datang." Ia mengurai pelukannya dan menatap sendu pada wajah ayu putrinya yang sekarang juga menatapnya. Tatapan yang masih sama.


Jessy kemudian tersenyum. "Tidak ada terima kasih di antara anak dan orang tua Ma, karena sudah kewajiban seorang anak untuk menyenangkan hati orang tua." Jessy terdengar tulus mengucapkan itu, karena ia juga melihat ada ketulusan di mata Mira.


Mata Mira tiba-tiba berkabut begitu saja mendengar ucapan putrinya. Tapi ia kemudian berusaha untuk menahan agar air matanya untuk tidak jatuh, karena malam ini ia tidak ingin acara makan malam yang ia buat di selimuti rasa sedih. "Ya sudah, ayo semua duduk." Ia menggiring para anak muda itu duduk di meja makan.


"Malam," sapa Nathan kepada Danu. Ia bingung harus memanggil apa, karena di sana ada Tasya yang tidak tau hubungannya dengan Jessy.


"Malam Nak." Danu menyambut ramah sapaan menantunya.


Sedangkan Jessy ia tidak tau harus melakukan apa, setelah ia beberapa bulan meninggalkan rumah megah itu membuatnya sedikit canggung. Apalagi dengan penghuninya, meskipun Danu adalah ayah kandungnya tapi di antara mereka seperti ada jarak yang membentengi. "Malam Pa!" Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.


"Papa baik, bagaimana keadaan Nenek? Kamu di sana jangan membuat ulah. Kasian Nenek sudah tua," ujar Danu mengingatkan.


Jessy hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Danu, bahkan yang papanya ingat adalah keadaan neneknya. Sedangkan ia yang berada di depannya sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya, apa salah jika ia berharap papanya mengingat tentang putri yang lainnya? Bahkan yang Danu ingat hanya ketika ia membuat ulah.


Di meja makan itu seketika menjadi sedikit canggung, Meili sendiri yang melihatnya ikut merasakan kesedihan yang di alami sahabatnya. Sedangkan Nathan ia ingin sekali membuka suara, tapi lagi-lagi keadaan lah yang membuatnya harus bungkam.


Di bawah meja, tangan Nathan begitu saja menggenggam tangan istrinya. Ia ingin mengingatkan Jessy, kalau di dunia ini banyak orang yang masih peduli dengannya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita langsung makan saja." Mira menyela, ia tahu ucapan suaminya mungkin menyakiti hati Jessy. "Sayang Mama dan adik kamu membuat nasi goreng seafood kesukaan kamu." Mira menaruh nasi goreng di atas piring Jessy. Ia kemudian menoleh ke arah Danu. "Papa mau juga?"


Danu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Papa yang lainya saja." tolaknya.


Tasya yang sedari tadi diam, sebenarnya ia sedang memikirkan bagaimana mamanya yang juga mengundang Nathan. Padahal yang mamanya tau ia dan Nathan tidak begitu dekat.


"Ya sudah, kalau begitu kalian juga silahkan makan." Mira mempersilahkan yang lainnya untuk memulai acara makan malam.

__ADS_1


Ketika Jessy ingin menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya, ia bisa menghirup sedikit aroma cabai di dalam nasi goreng itu. Ia melihat nasi yang berada di sendok nya, terlihat ada sedikit cabai kering.


"Sayang kenapa tidak di makan?" Ternyata Mira sedari tadi memperhatikan Jessy, ia menunggu reaksi putrinya yang memakan hasil masakannya yang khusus ia buat.


Jessy mengarahkan pandangannya pada Mira, ibu sambungnya itu terlihat antusias menunggunya memakan nasi goreng kesukaannya.


"Tidak apa-apa Ma," sahutnya. Kemudian Jessy memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya, mungkin sedikit memakan pedas tidak akan membuat lambungnya protes. Pikirnya.


"Bagaimana?" tanya Mira. Ia berharap putrinya itu akan memuji hasil masakannya.


"Enak, Ma." sahut Jessy dan menyendokkan kembali nasi goreng kedalam mulutnya.


Tasya yang baru tersadar Jessy memakan nasi goreng yang sedikit pedas itu, ingin sekali ia memperingatkan kakaknya. Karena ia juga tau jika Jessy juga tidak bisa memakan makanan pedas, tapi melihat kakaknya yang baik-baik saja ia akhirnya memilih untuk diam.


Hingga beberapa saat kemudian, Jessy mulai merasakan tubuhnya yang bereaksi akibat makanan pedas yang ia makan. Padahal ia baru memakan tiga sendok, tapi rupanya tubuhnya benar-benar tidak bisa menerimanya. Keringat dingin mulai menghiasi keningnya, Jessy langsung meneguk air putih sebanyak-banyaknya. Berharap agar bisa mengurangi rasa sakit yang mulai terasa di perutnya.


Sontak saja tindakan Nathan itu membuat mata Jessy melotot, bagaimana jika tindakannya itu di ketahui oleh yang lainnya? Untung saja semuanya sedang menikmati makanannya masing-masing.


Nathan melirik tajam ke arah istrinya, bisa-bisanya Jessy memakan nasi goreng yang terasa pedas itu.


Menikah beberapa bulan dengan Jessy, Nathan sudah tau apa yang tidak di sukai dan di sukai. Termasuk istrinya yang tidak bisa memakan makanan pedas.


Tanpa banyak bicara, Nathan langsung menukar piring istrinya dengan piringnya yang berisi menu lain.


"Loh kenapa?" Ternyata tindakan Nathan di ketahui oleh Mira.


Semua mata yang berada di meja makan seketika tertuju pada dua sejoli itu.

__ADS_1


"Maaf, nasi gorengnya sedikit pedas." jawab Nathan sopan.


Mira menautkan kedua alisnya mendengar jawaban menantunya. Karena ketika tadi ia memasaknya, ia sama sekali tidak memberikan cabai. "Benarkah?"


Mira kemudian juga mencicipi nasi gorengnya, dan benar saja nasi goreng itu sedikit pedas. "Bagaimana biasa pedas? Padahal tadi tidak pakai cabai sama sekali!" herannya.


Tapi kemudian ia menoleh ke arah Tasya, ketika ia teringat jika putrinya tadi juga membantunya.


Sedangkan Tasya, gadis itu sudah mulai menundukkan pandangannya. Ia harap-harap cemas akan di salahkan.


"Sayang, apa tadi kamu menambahkan cabai?" tanya Mira lembut. Ia tahu putrinya itu sedang ketakutan.


"Maaf Ma, Tasya tidak tau kalau nasi goreng itu untuk Kak Jessy." cicitnya. "Tadi Tasya melihat Kak Jessy baik-baik saja setelah makan nasi goreng itu, jadi Tasya tidak memberitahunya." Bahkan Tasya tidak berani menatap mata semua orang.


Mira hanya menghembuskan nafasnya pelan setelah mendengar penuturan putrinya.


"Jessy tidak apa-apa Ma." ucap Jessy.


"Kamu sudah besar Jessy, seharusnya kamu bisa membedakan mana makanan yang bisa kamu makan dan mana yang tidak." tutur Danu. Kemudian ia menoleh ke arah Tasya. "Sudah sayang, kamu juga tidak sengaja. Kakak kamu juga tidak apa-apa," Danu yang membesarkan hati Tasya.


Tasya dan Jessy sama-sama tersenyum, tapi sayangnya senyum mereka berbeda arti. Jika Tasya tersenyum lega, sedangkan Jessy tersenyum kecut.


Setelah selesai makan malam, Jessy, Nathan dan Meili langsung berpamitan pulang.


Meskipun Mira sedikit berat melepas kepulangan putrinya, tapi akhirnya ia harus rela melihat putrinya pergi. Karena ia tidak bisa memaksa agar Jessy mau menginap.


...----------------...

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komennya ya 🥰...


__ADS_2