Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Liburan 2


__ADS_3

Setelah selesai asik menyantap omlet buatan Meili. Kini kedua gadis itu hanya duduk bersantai di pinggir kolam renang belakang vila.


"Apa kalian mau ikut?" Raka dan Nathan tiba-tiba berada di sana.


Meili dan Jessy, sontak menoleh ke arah mereka. "Kemana?" sahut Meili.


"Membeli jagung untuk nanti malam," jawab Raka. Raka dan Nathan berencana untuk membuat acara barbeque dengan jagung dan sosis.


"Boleh!" Meili dengan antusias menyanggupi. Kemudian ia menoleh pada Jessy. "Jessy ayo," ajaknya.


"Tapi gue ma--"


"Cepat cepat kita berangkat," tanpa mendengar jawaban Jessy, Meili langsung menarik tangan Jessy agar beranjak dari duduknya.


Mereka berempat akhirnya berjalan kaki menuju tempat membeli jagung, karena tempatnya tidak terlalu jauh.


Di dalam perjalanan, tidak sedikit orang desa yang menyapa mereka meskipun tidak kenal. Mungkin itu bentuk sopan santun dari mereka.


Hingga tidak lama langkah mereka sudah sampai pada tempat yang mereka tuju. Terlihat beberapa pedagang yang menjual aneka sayur, buah dan hasil alam lainnya.


"Kak Raka beli yang ini saja," Meili menunjukkan jagung yang ia pegang. "Ini jagung manis, pasti rasanya lebih enak kalau di bakar. Kalau yang jagung biasa, rasanya sedikit hambar." Meili yang paham dengan jenis bahan makanan.


"Ya sudah ambil yang itu saja," Raka yang juga menyetujui saran dari Meili.


Sedangkan Jessy hanya mengedarkan pandangan nya, siapa tau ada yang dia inginkan.


"Mau beli sesuatu?" tanya Nathan yang kini sudah berada di sampingnya.


Jessy langsung menoleh ke arahnya, tapi kemudian menggelengkan kepala "Tidak."


"Jessy ayo kita jalan-jalan ke sana," Meili menunjuk barisan pedagang yang berjejer rapi. Ia kemudian mengapit tangan Jessy untuk ia peluk dan jalan beriringan. Sedangkan para cowok bertugas membawa jagung yang tadi mereka beli.


Meskipun para pedagang menjual barang yang hampir sama dengan pedagang lainnya, tapi tetap saja Meili sangat antusias untuk melihatnya. Baginya keadaan seperti ini sudah cukup membuatnya bahagia.


"Jessy kita beli ikan, pasti enak kalau nanti di bakar terus di makan sama nasi panas, sambal dan lalapan. Apalagi udaranya sangat dingin," Meili berhenti di pedagang penjual ikan. Ia memilih beberapa jenis ikan.


"Kalian mau beli ikan?" tanya Nathan.


"Iya," sahut Meili tetap fokus memilih ikan yang akan ia beli.


"Tapi penjaga vila sudah gue suruh pulang," sahut Raka. Karena nanti tidak akan ada yang bisa mengelolanya.

__ADS_1


"Tenang saja, aku bisa memasaknya." jawab Meili dengan yakin.


"Baiklah kalau begitu." Raka akhirnya membiarkan Meili untuk membeli ikan.


"Ini pak!" Meili menyerahkan timbangan yang sudah berisi ikan segar pilihannya.


"Banyak sekali neng!" Penjual melihat timbangan yang hampir penuh, kemudian menimbangnya.


"Iya, biar kenyang." sahut Meili sambil terkikik.


Jessy sadari tadi hanya melihat apa yang di lakukan Meili, tapi sejujurnya melihat ikan yang masih menggelepar membuatnya sedikit geli.


"Pak sekalian di bersihkan sisik sama perutnya ya!" pinta Meili.


"Siap neng," pedagang ikan itu yang mulai membersihkan ikan-ikan pilihan Meili.


Tidak menunggu lama, ikan itu sudah bersih. "Ini neng!" penjual itu sudah memasukkan ikan yang di beli Meili ke dalam kantong kresek.


"Berapa?" tanya Meili sembari menerima ikannya.


"Tujuh puluh lima ribu."


Hampir saja Meili mengambil uang dari saku celananya, tapi Raka sudah dulu membayar belanjaannya.


"Udah nggak apa-apa!" sahut Raka datar.


"Sini," Nathan juga mengambil kantong kresek yang berada di tangan Meili.


Akhirnya mereka memutuskan pulang setelah mendapat belanjaan yang mereka mau.


Tapi karena Raka dan Nathan yang membawa belanjaan, mereka sedikit tertinggal di belakang. Apalagi jalan yang sedikit menanjak.


Meili tak henti-hentinya mengoceh, membahas Nathan dan Raka yang sangat pengertian sebagai cowok.


"Meili diam lah," Jessy mulai jengah. Karena yang di bahan Meili hanya itu-itu saja.


Meili hanya mengerucutkan bibirnya mendengar itu, tapi sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Jangan bilang, kamu cemburu ya?" godanya dengan senyum yang menyebalkan.


"Tidak ada yang seperti itu," sahut Jessy sedikit kesal.


"Masak?" Meili tetap menggodanya, bahkan ia mengedipkan matanya ke arah Jessy beberapa kali.

__ADS_1


"Meili!" geram Jessy. "Kalau lo nggak mau--"


"Hai cantik!" Tiba-tiba beberapa pemuda menghampiri mereka.


Bahkan Jessy dan Meili hampir saja menabrak mereka, karena tidak fokus pada jalanan.


Jessy dan Meili langsung mengarahkan pandangannya pada mereka. Meili langsung saja semakin mendekat ke arah Jessy, setelah melihat wajah laki-laki yang sekarang di depan mereka.


Tiga pemuda itu sepertinya preman di desa itu, terlihat dari pakaiannya dan kurang sopan santun nya.


"Apa kalian tersesat? Biar kami antarkan pulang!" sahut salah satu pemuda itu dengan tangan yang mencoba menyentuh bahu Meili.


"Argh."


Erangan itu seketika keluar dari mulut pemuda yang hampir ingin menyentuh Meili.


Ternyata Jessy, sudah lebih dulu mencekal pergelangan pemuda itu kemudian memelintirnya. "Jangan coba-coba menyentuhnya!" tegas Jessy dengan menatap tajam pemuda itu. Lalu ia menghempaskan tangan pemuda itu.


"Wah, semakin galak semakin cantik!" sahut pemuda yang lainya. Pandangan matanya bahkan menelusuri bentuk tubuh kedua gadis itu dari atas hingga bawah.


"Kenapa kalian masih di sini!" Nathan dan Raka yang baru tiba. "Ayo pulang," Nathan menarik tangan Jessy begitu saja.


Begitu pun juga Raka yang menarik tangan Meili. Mereka seakan tidak memperdulikan kehadiran tiga pemuda itu.


"Kalian mau kemana?" Tiga pemuda itu menghadang jalan. "Enak sekali sekalian membuat tangan teman kami terluka mau pergi seenaknya." ujarnya tidak terima.


Nathan kemudian membuka dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang kertas bewarna merah. "Mungkin ini sudah lebih dari cukup untuk pergi ke tukang pijet," ia menyodorkan uang itu ke salah satu pemuda itu.


Nathan dan Raka tau kejadian bagaimana tangan salah satu pemuda itu terluka, dan apa penyebabnya. Hanya saja ia tidak mau ada keributan, apalagi mereka pendatang yang sedang berlibur.


Pemuda yang di sodori Nathan uang hanya tersenyum miring. "Kami tidak mau uang, kami cuma mau gadis-gadis itu!" ia melirik ke arah Jessy dan Meili. Mungkin di bandingkan menerima uang Nathan, mereka lebih menikmati bermain dengan dua gadis cantik itu.


Raka yang jengah dengan kelakuan pemuda itu segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. "Halo kantor polisi," ucapnya.


Mata ketiga pemuda itu sontak saja melotot, karena seberani-beraninya mereka tetap saja takut jika berurusan dengan polisi. Tanpa banyak bicara mereka langsung pergi begitu saja.


"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Nathan melihat keadaan Jessy dan Meili.


"Tidak," sahut Jessy datar. Tapi berbeda dengan Meili, bibir gadis itu sudah bergetar menahan tangis karena rasa takutnya.


"Aku takut!" teriak Meili. "Bahkan rasanya mau ngompol," imbuhnya. Dan di detik berikutnya ia benar-benar menangis.

__ADS_1


...----------------...


...Aku habis vaksin yang ke 2, do'ain biar nggak meriang ya 😁. Ayo-ayo vote nya di kumpulin 🤭...


__ADS_2