
"Hati-hati di jalan Mas," pesan Mira ketika Danu pagi itu akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mariam. Ia tidak bisa ikut dengan alasan ingin menjaga Tasya yang sedang tidak enak badan.
"Nanti kalau ada apa-apa dengan Tasya cepat hubungi aku," kata Danu sebelum mobilnya melaju pergi.
Mira sendiri sebenarnya di rumah hanya ingin memastikan saja jika putrinya tidak akan kemana-mana, ia tidak mau keadaan semakin buruk jika Tasya pergi dari rumah.
Beberapa saat kemudian Danu sudah sampai di rumah sakit tempat Mariam di rawat, dan langsung saja ia menuju ruang ICU.
Ternyata dari jauh ia melihat besannya yang berada di sana, berdiri di depan jendela kaca yang cukup besar dengan pandangan tertuju pada penghuni di dalam ruangan ICU.
"Nilam!" sapa Danu, membuat wanita paru baya itu menoleh ke arahnya. "Bagaimana ke adaan Ibu?"
Nilam hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan besannya. "Masih belum ada perubahan."
Namun hal yang tak di duga terjadi, di mana jari Mariam ada pergerakan, di susul dengan mata yang mulai sedikit terbuka.
Para Dokter dan perawat yang berjaga di ruangan seketika memeriksa keadaanya mengetahui dari monitor ada perubahan.
Nilam dan Danu yang berada di luar merasa panik melihat itu, semoga saja akan ada kabar baik setelah ini.
Tidak lama, salah satu perawat keluar. "Pasien ingin berbicara dengan keluarganya yang bernama Danu."
Mendengar ucapan dari perawat, Nilam dan Danu sejenak bersitatap tapi kemudian mereka menoleh ke arah Mariam yang ternyata sekarang sedang melihat mereka dari dalam.
Danu akhirnya masuk untuk menemui mantan ibu mertuanya itu, terlihat wanita tua itu yang sedang tidak baik-baik saja. Wajah keriputnya terlihat pucat dan bibirnya yang kering, namun begitu Mariam masih bisa tersenyum lemah menyadari kehadirannya.
Sedangkan Nilam ia segera menghubungi anak dan menantunya untuk memberitahu kalau Mariam sudah siuman.
__ADS_1
*
*
Langkah Jessy memelan mengetahui keberadaan sang Paa yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Tapi Nathan terus menggenggam tangannya meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.
Ketika ayah dan anak itu sudah berhadapan, tidak ada kata yang terucap. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Namun kali ini pandangan Danu sedikit berbeda terhadap putrinya yang selama ini ia abaikan, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Sayang Nenek sudah sadar, lihatlah." Nilam memecah keheningan menyadari situasi yang tiba-tiba terasa kaku. Ia menggandeng tangan menantunya dan mengajaknya untuk melihat Mariam dari jendela.
Benar saja, Mariam sedang melihat ke arahannya dengan tersenyum.
Sungguh ia merasa lega melihat itu, ketakutan yang sempat menyelimuti hatinya kini sedikit menghilang.
"Coba kita tanya pada perawatnya." Nilam kemudian mengajak Jessy menemui perawat untuk menanyakan boleh atau tidaknya ia bertemu dengan Mariam.
Kehadiran Danu bahkan terlupakan oleh Jessy.
Danu yang melihat itu akhirnya lebih baik memilih pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian, Jessy terlihat lesu setelah tidak mendapat izin dari perawat untuk menemui neneknya. Dengan alasan Mariam agar beristirahat terlebih dahulu.
"Bagaimana?" Nathan mendekat ke arah istrinya.
__ADS_1
Hanya gelengan kepala yang bisa Jessy berikan sebagai jawaban.
"Katanya nunggu beberapa saat lagi, baru boleh bertemu." sahut Mami Nilam.
"Biarkan Nenek istirahat dulu setelah melewati masa sulit." Nathan membesarkan hati istrinya.
*
*
Mira menghembuskan nafasnya pelan, putrinya sedari tadi tidak mau sarapan. Padahal sudah berulang kali ia memanggil tapi putrinya sama sekali tidak keluar kamar.
"Sayang, ayo makan!" ajaknya lagi, tapi hingga beberapa saat menunggu tetap saja tidak ada jawaban.
Di dalam kamar, ternyata Tasya sedang berada di kamar mandi. Ia menceburkan diri di bathub, merenungi betapa takdir begitu jahat padanya.
Kenapa ia di berikan rasa untuk mencintai, tapi tidak bisa memiliki. Ia mengingat semua orang yang menganggapnya salah, memang apa salahnya jika ia menginginkan seseorang yang ia cintai meski orang itu milik kakaknya sendiri.
"Hidup ini tidak adil bukan?" Ia berbicara dengan dirinya sendiri dan tersenyum kecut. Meratapi nasib tidak bisa memiliki pujaan hatinya, ia menatap cutter yang berada di tangannya. "Mungkin setelah ini akan jadi lebih baik."
Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, ia ingin mengakhiri semuanya. Perlahan ia mulai mendekatkan cutter itu di pergelangan tangannya, tangannya bergetar merasakan putus asa bercampur amarah.
Ia memejamkan mata di iringi air mata yang terus mengalir.
Di detik berikutnya, darah mulai menetes mewarnai air di bathub ketika Tasya sudah berhasil menggores pergelangan tangannya.
"Mama," lirihnya saat kesadarannya mulai perlahan lahan mulai berkurang.
__ADS_1
...----------------...
...Tuhkan si Tasya masih aja buat ulah 😠...