
Pagi hari di halaman sekolah sudah terlihat ramai, meskipun hari ini tidak ada jadwal upacara. Karena mereka hari ini akan menyaksikan serah jabatan ketua OSIS.
Nathan hari ini terlihat begitu gagahnya di depan sana untuk memberikan beberapa sambutan, setelah di persilahkan salah satu guru yang ikut berpartisipasi.
Jessy sebagai istri tentu saja bangga melihatnya suaminya, tapi ia sedikit terusik ketika ia mendengar teriakan dari siswa-siswi lain yang begitu mengagumi suaminya dan itu membuatnya tidak suka.
Mungkin dulu ia masa bodoh dan tidak memperdulikan semua itu, tapi sekarang lain ceritanya. Karena suaminya berhasil mengukir cinta di hatinya.
"Kenapa sih tuh muka asem banget?" Meili yang berdiri di sampingnya bisa melihat Jessy melirik tajam ke arah deretan siswi yang terus mengidolakan suaminya. Memang siapa yang tidak jatuh cinta pada cowok tampan dan berkharisma seperti Nathan? Termasuk dirinya. "Cemburu? Bilang bos!" ia terkikik.
Jessy melirik malas ke arah Meili. "Siapa?" ia pura-pura tidak merasa.
Meili mecebikkan bibirnya. "Halah masih aja ngeles!" cibirnya. "Normal kali cemburu sama suami sendiri, asal jangan sama suami orang."
Hingga saat acara serah terima jabatan selesai, semua murid membubarkan diri untuk menuju kelasnya masing-masing.
Semua anggota OSIS kelas tiga telah menanggalkan jabatannya, di gantikan oleh adik kelas mereka. Dan dari sekian banyaknya anggota OSIS, terlihat Tasya yang sedikit kecewa karena ia sudah tidak bisa lebih dekat dengan seseorang yang telah mencuri hatinya. Meskipun kedekatan mereka hanya sebatas membahas kegiatan OSIS.
Disaat Jessy bersama Meili berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. "Meili, gue ke toilet dulu!" ucapnya setelah membaca pesan di ponselnya. Tanpa menunggu jawaban dari Meili ia pergi begitu saja dari sana.
Tapi bukannya menuju kelas, Jessy justru berjalan menuju halaman belakang.
"Akh," Jessy terkejut ketika seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Apalagi orang itu kemudian memeluknya dari belakang.
Baru saja Jessy akan mengarahkan sikunya ke belakang, ia mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal. Sontak saja ia langsung menghentikannya seketika.
"Kenapa?" ternyata Nathan adalah pelakunya. Sejak acara berlangsung tadi sebenarnya ia memperhatikan istrinya, dan ia melihat wajah istrinya yang sedang menahan kesal.
Meskipun suaminya tak melakukan apa-apa, tapi mengingat siswi-siswi tadi yang begitu mengagumi suaminya sontak saja rasa kesal itu juga ikut ia rasakan pada Nathan.
__ADS_1
"Lepas!" Jessy tidak berniat menjawab pertanyaan suaminya. "Ini di sekolah, nanti ada yang lihat."
"Jawab dulu pertanyaan ku ada apa?" Nathan membalikkan posisi Jessy hingga menghadapnya. Dan terlihat wajah masam istrinya yang masih terlihat cantik. Ia kemudian mengarahkan wajah Jessy agar menghadapnya, hingga tatapan mereka saling bertemu.
Jessy yang melihat itu membuang nafasnya pelan.
"Iya karena kamu terlalu tampan, hingga semua siswi mengidolakan mu." jawabnya dalam hati.
Nathan merasa gemas, karena melihat istrinya yang hanya diam saja. Tapi ia tahu jika istrinya itu masih kesal. Apalagi dengan bibirnya yang mengerucut seperti sekarang.
Cup.
Nathan mengecupnya sekilas.
Tentu saja itu membuat mata Jessy melotot, ia tidak menyangka jika suaminya itu berani melakukan hal seperti itu di sekolah.
"Apa masih kesal?" tanya Nathan lembut. "Kalau kamu lagi kesal, kelihatan semakin cantik. Jadi ingin --" Nathan tidak meneruskan ucapannya tapi ia kembali mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir pink istrinya.
Nathan seketika menghentikan aksinya, ia tersenyum mendengar itu. Ia kemudian membawa Jessy kedalam pelukannya. "Jangan marah, nanti cantiknya hilang." Ucapnya itu jelas saja langsung membuatnya mendapat pukulan dari Jessy di punggungnya.
Jessy sendiri merasakan kesal dan malu secara bersamaan. Entah kenapa suaminya itu sekarang sangat pandai menggombal.
Nathan kemudian melepas pelukannya. Ia mengajak istrinya untuk kembali ke kelas, hingga sampai akhirnya mereka harus berpisah karena kelas mereka berlawanan arah.
Meili mengerutkan keningnya melihat raut wajah Jessy yang berubah, tadi terakhir mereka bertemu sahabatnya itu masih berwajah masam dan sekarang setelah kembali malah terlihat baik-baik saja.
Setelah duduk di kursinya, senyum Jessy tiba-tiba hilang ketika ia menyadari Meili yang sedari tadi menatapnya. "Kenapa?"
Meili menggelengkan kepalanya dengan senyum kaku di bibirnya. "Fix, Jessy memang aneh!" batinnya.
__ADS_1
Bukan hanya Meili yang melihat perubahan pada Jessy, tapi Tasya pun juga. Ia melihat kakaknya yang beberapa hari ini terlihat ceria, tidak seperti dulu lagi.
*
*
Baru saja Jessy merapikan bukunya bersiap untuk pulang, ia merasakan ponselnya berdering. Dan saat ia melihatnya, seketika dahinya berkerut merasa heran. Mami Nilam menelpon? Bukankah ia sebentar lagi akan pulang! Karena malam ini Jessy masih menginap di rumah mertuanya.
"Iya Mi?" Ketika panggilan tersambung.
"Kamu sudah mau pulang sayang?" tanya Mami Nilam dari sebrang sana.
"Iya, ini sudah mau pulang. Apa Mami perlu sesuatu?"
"Tidak, tapi Mami mau ajak kamu keluar. Tapi kamu jangan bilang sama suami kamu. Apa Meili bisa mengantar kamu ke Ma xxx?"
Jessy kemudian menoleh pada Meili yang baru selesai membereskan bukunya. "Meili bisa antar gue nggak?"
Meili sebenarnya sedikit heran dengan permintaan Jessy, karena ia tahu jika sahabatnya itu tadi pagi berangkat bersama suaminya dan tentu saja seharusnya juga pulang dengan suaminya. Tapi ia tidak mau ambil pusing memikirkan itu. "Bisa," jawab Meili. Ia sendiri juga tidak punya acara setelah ini.
Jessy kemudian kembali pada sambungan telponnya. "Bisa Mi."
"Ya sudah, kalau begitu Mami juga akan berangkat sekarang. Kamu dan Meili hati-hati di jalan ya."
"Iya."
Setelah sambungan terputus, Jessy segera mengirimkan pesan pada Nathan. Memberitahunya jika ia akan pergi bersama Meili.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu mertuanya itu tiba-tiba mengajaknya bertemu.
__ADS_1
...----------------...
...Hayo mau ada apa ❓Akan terjadi konspirasi kah, antara ibu mertua dan menantu?...