Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Lodeh Menjadi Rendang


__ADS_3

Meili samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang berbicara, dan itu sepertinya suara laki-laki. Ia mengerjabkan mata, sepertinya ia baru menyadari jika dirinya sudah tertidur cukup lama. Terlihat dari jendela kamar, langit yang berubah menjadi gelap.


Kamar?


Ia langsung membuka matanya lebar-lebar menyadari jika saat ini yang di tempati bukan kamarnya, lalu di mana ia sekarang. "Ini di mana?" bingungnya dengan mengedarkan pandangan.


Kamar yang bercat putih dan abu-abu khas seperti kamar milik pria.


Hingga rasa nyeri di tangan kirinya mengalihkan perhatiannya, betapa terkejutnya ternyata itu adalah jarum infus.


"Ish," Meili mendesis. "Takut jarum suntik, kenapa malah di infus. Untung saja pas nggak sadar."


Klek.


Raka datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan bubur yang masih sedikit mengepul kan asap. "Sudah bangun?" ia berjalan ke arah Meili dan menaruh nampan itu di atas meja kecil samping ranjang gadis itu berbaring.


Tidak ada jawaban dari Meili, gadis itu hanya diam saja. Bahkan sekarang ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Raka menghembuskan nafasnya pelan, gadis di depannya ini sedikit berubah. Suara cerewet yang biasa ia dengar kini seperti lenyap di telan bumi. "Makan dulu!"


Namun Meili masih saja diam. Ia heran kenapa Raka berbuat seperti ini terhadapnya, memberikan perhatian seolah-olah dia memberikan harapan. "Aku mau pulang saja." putusnya, karena ia merasa tidak nyaman berdekatan dengan seseorang yang pernah ia perjuangkan.


Lagi-lagi Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, sisi lain gadis yang biasanya cerewet itu ternyata juga keras kepala.


Kalau saja tadi Meili bisa menjawab saat ia bertanya di mana rumahnya, tentu saja sekarang ia tidak akan berada di apartemennya.


Karena saat Meili menolak untuk pergi ke rumah sakit, Raka memberikan obat pereda sakit yang ada di mobilnya. Memang obatnya bekerja dengan baik, bahkan membuat Meili bisa tertidur. Namun karena terlalu pulas, gadis itu sampai tidak terbangun ketika ia bertanya alamat rumahnya. Hingga terpaksa Raka membawanya ke apartemen jarak terdekat saat itu.


Tidak hanya itu, Raka juga memanggil dokter agar bisa memeriksa kondisi Meili. Dan dokter menyarankan agar Meili mendapatkan infus karena terlalu banyak kehilangan cairan.


"Makanlah!" Setelah mengatakan itu Raka pergi dari sana.


"Dasar tembok," umpat Meili. Melihat sikap Raka yang selalu saja datar. Entah bagaimana bisa ia dulu bisa mengejarnya untuk mendapatkan cintanya.

__ADS_1


*


*


Esoknya, pagi-pagi sekali Jessy sudah berkutat di dapur. Berbekal dari video YouTube di ponselnya, ia ingin membuat sesuatu.


Ia berencana hari ini mengunjungi ibu mertuanya, entah apa yang akan di buatnya.


"Astaga!" Mariam terkejut ketika ia ke dapur dan melihat cucunya sudah berada di sana. Ia heran melihat cucunya sepagi ini sudah berada di dapur, padahal sedang libur sekolah.


Jessy menoleh ke arah Mariam, ia sedikit sebal melihat reaksi neneknya. "Biasa aja mukanya." Neneknya itu melihatnya seperti melihat hantu saja. "Jessy mau ke rumah Mami Nilam," jelasnya.


Mariam hanya terkekeh mendengar itu. "Memangnya kamu mendapatkan hidayah apa sepagi ini sudah berada di dapur?" Ia mendekat ke arah Jessy untuk melihat apa yang cucunya itu masak.


Hingga seketika matanya membulat, saat tau dapur kesayangannya seperti kapal pecah. "Ya ampun! Dapur Nenek kamu bom?" Ia tak habis pikir. Padahal masakan cucunya belum matang, tapi dapurnya seperti habis di landa gempa.


"Nenek, lebih baik nenek membantuku masak agar cepat matang." Jessy tidak memperdulikan ocehan Mariam.


"Mau membuat sup daging!" Sesekali matanya melihat ponselnya yang memutar video memasak.


Lagi-lagi mata Mariam membulat. "Kalau sulit daging kenapa kamu tambahkan santan? Itu namanya jadi sayur lodeh." Cucunya itu sudah mencontek dari YouTube tapi masih saja salah.


"Benarkah?" Jessy langsung berhenti mengaduk masakannya. "Tapi perasaan tadi di suruh tambahkan santan," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah siapa yang salah di sini, Jessy atau videonya.


Mariam menghembuskan nafasnya kasar, kenapa jika soal memasak cucunya itu bod*h sekali. "Ya sudah sana, kamu mandi saja!"ia kemudian mengambil alih. Entah harus di permak seperti apa sup yang di masak Jessy. "pasti ini gara-gara jablai," gumam Mariam.


Sadar atau tidak Mariam mengatakan itu, padahal dirinya sendiri juga jablai.


Beberapa saat kemudian, akhirnya masakan yang tadinya di masak Jessy sudah selesai berkat bantuan Mariam. Cuma bedanya, yang tadinya sup daging, kini menjadi rendang. Karena Mariam hanya mengambil dagingnya saja lalu ia masak kembali.


Jessy sudah terlihat rapi, dan siap berangkat ke rumah mertuanya.


"Salam sama keluarga suami kamu." Mariam sembari memberikan rendang daging yang sudah ia letakkan ke dalam kotak makanan.

__ADS_1


"Iya," sahut Jessy. "Aku pergi dulu Nek," pamitnya.


Di dalam perjalanan Jessy tersenyum dengan pikirannya sendiri, membayangkan halal konyol yang ada di otaknya.


Tidak lama Jessy sudah sampai di rumah Nathan.


"Sayang!" Nilam yang menyambut kedatangannya. Ia memeluk menantunya yang memang beberapa hari ini tidak mengunjunginya. "Ayo masuk, semua sedang sarapan." ajaknya.


Saat sudah di meja makan, Jessy menghampiri papi mertuanya dan juga Oma. Mereka juga senang melihat kedatangan Jessy.


"Mi, titipan dari Nenek." Jessy memberikan rendang dagingnya.


Nilam kemudian membukanya, dan wangi rendang daging pun seketika memenuhi di ruang makan. "Terima kasih sayang, nanti sampaikan juga ya pada nenek."


Jessy menganggukkan kepala, menyanggupi itu.


Di sela-sela makan, Jessy mengedarkan pandangannya. Ia masih tidak menemukan sosok suaminya. Alasan utama ia datang sepagi ini.


"Suami kamu lagi lari pagi," Mami Nilam mengetahui apa yang di cari menantunya. "Mungkin sebentar lagi akan pulang."


Jessy hanya tersenyum kaku karena kepergok oleh ibu mertuanya.


Benar saja tidak lama, Nathan masuk ke dalam rumah dengan keadaan tubuh yang di penuhi keringat.


Gleg.


Jessy hanya bisa menelan saliva nya melihat pemandangan itu. Kenapa suaminya itu dalam keadaan berkeringat saja masih bisa sangat tampan.


"Suami gue kenapa sangat sek*si," batin Jessy.


...----------------...


...Selamat untuk kalian yang merayakan hari raya Natal 🎅. Lope lope buat kalian 🥰...

__ADS_1


__ADS_2