
Sore hari semua keluarga sudah bersiap untuk pulang, termasuk pengantin baru.
Sebenarnya mami Nilam dan papi Tama sudah menawarkan pengantin baru itu untuk tinggal sehari lagi di vila, tapi Jessy menolaknya. Dengan alasan besok ia tidak mau membolos sekolah.
Padahal yang sebenarnya, ia takut jika hanya berdua saja di vila bersama suaminya. Bukanya ia berpikiran yang tidak-tidak tentang Nathan, tapi ia tau jika hanya seorang perempuan dan laki-laki di dalam satu tempat ia takut ada hantu yang muncul menjadi pihak ke tiga.
"Sayang, kamu beneran nggak mau nginep di sini?" Nilam mempertanyakan kembali. Siapa tau menantunya itu berubah pikiran.
Jessy tersenyum, kemudian menggeleng. "Tidak, Mi. Mungkin lain kali saja," tolak nya halus.
"Ya sudah kalau begitu." Nilam yang menyerah akhirnya.
Semuanya kemudian menuju mobil masing-masing. Seperti yang di bicarakan sebelumnya, pengantin baru itu akan satu mobil di tambah dengan Meili. Dan Nathan sebagai supirnya.
Sedangkan para tetua memilih mobil terpisah, mereka yakin jika para anak muda itu tidak akan nyaman jika berada satu mobil.
"Lo mau ngapain?" Nathan melihat jessy membuka pintu mobil belakangnya.
Meili yang juga akan membuka pintu belakang mobil, mengurungkannya. Ia melihat dua pasang manusia itu saling tatap.
"Ya mau masuk lah, emang mau ngapain lagi!" jawab Jessy.
"Gue bukan supir!" cetus Nathan. "Pindah depan," perintahnya seakan tidak mau di bantah.
Jessy berdecak kesal mendengarnya, tapi tak urung juga ia berpindah duduk depan di samping Nathan.
Di dalam perjalanan, hanya terdengar suara cempreng Meili yang terus berceloteh. Menanyakan ini dan itu pada Jessy. Ia tidak berani mengajak Nathan mengobrol. Meskipun ia cukup lama mengenal Nathan, nyatanya ia masih kaku jika bertemu Nathan. Karena apalagi kalau bukan sikap datarnya.
Hingga hari menjelang malam mobil yang di kendarai Nathan masuk ke dalam pelataran rumah Mariam, setelah tadi lebih dahulu mengantarkan Meili pulang.
Jessy turun dari mobil begitu saja tanpa memperdulikan Nathan, mungkin ia sedang lupa statusnya sekarang.
Nathan yang melihat tingkah istrinya hanya menggelengkan kepala, kemudian juga ikut turun.
Di dalam rumah terlihat Mariam yang sudah lebih dulu sampai dan sedang menata makanan yang dipesannya tadi diatas meja.
__ADS_1
"Nathan, ayo makan dulu!" ajak Mariam.
"Iya Nek." jawab Nathan yang kemudian duduk.
Setelah Nenek dan Nathan selesai makan malam, ternyata Jessy tak kunjung datang. Gadis itu sejak datang tadi langsung menuju kamarnya dan tidak keluar lagi.
"Kenapa istrimu tidak keluar dari kamar!" heran Mariam. Padahal tadi ia sudah menyuruhnya makan, tapi kata Jessy ia ingin ganti baju lebih dulu. "Coba kamu lihat di kamarnya," pintanya pada Nathan. "Kamarnya di lantai dua pojok kiri."
"Iya, kalau begitu Nathan permisi dulu." pamitnya dan beranjak dari sana.
Setelah cucu menantunya itu pergi, Mariam terkikik sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.
Nathan yang sudah berdiri di depan pintu kamar Jessy, mencoba mengetuknya. Tapi tidak ada sahutan atau tanda-tanda pintu itu akan terbuka.
Ia akhirnya memutuskan memutar handle pintu itu, dan benar saja kamar Jessy tidak terkunci.
Baru saja Nathan masuk, aroma parfum yang biasa di gunakan Jessy sudah menusuk indra penciuman nya. Wangi vanila yang begitu manis.
Saat baru masuk ternyata matanya menangkap keberadaan Jessy yang sudah terlelap di ranjang, bahkan hanya menggunakan handuk kimono.
Nathan melihat pemandangan indah itu dari kepala hingga kaki. Pemandangan itu sebenarnya sungguh menggoda, di mana kimono itu sedikit tersingkap di bagian bawah sehingga sedikit menampilkan paha mulus Jessy. Dan di bagian kimono atasnya pun yang sedikit longgar, hingga menampakkan belahan dadanya. Laki-laki mana yang tidak akan tergoda.
Tapi pesan papi Tama membuatnya hanya bisa menikmati pemandangan indah itu, bukan merasakannya.
"Nathan, setelah nanti kamu menikah usahakan kamu jangan menyentuh istrimu dulu. Papi tau pasti kamu mengerti maksud papi. Meskipun itu sudah menjadi hak mu, tapi istrimu masih sekolah. Dan kalau pun kamu tidak tidak bisa menahannya, usahakan Jessy jangan hamil terlebih dahulu sebelum lulus sekolah."
Papi Tama berpesan seperti itu karena ia tahu, mungkin saja putranya itu sewaktu-waktu meminta haknya kepada istrinya. Apalagi ikatan mereka yang sudah halal.
Nathan dengan segera membenarkan posisi tidur Jessy, dan menyelimuti nya hingga sebatas dada. Kemudian ia juga membaringkan tubuhnya di samping istrinya yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
Nathan memandangi wajah ayu istrinya yang terlelap.
Cantik.
Hingga tak lama, matanya juga terpejam menyusul Jessy mengarungi alam mimpi.
__ADS_1
Di pagi hari Jessy mulai menggeliat, merenggangkan tubuhnya. Entah kenapa tidurnya semalam terasa begitu nyenyak dan nyaman.
Bahkan guling nya sekarang begitu hangat, Jessy semakin mengeratkan rangkulannya. "Nyamannya," gumamnya masih dengan mata terpejam. Rasanya ia benar-benar tidak ingin bangun.
Jessy terus membenamkan wajahnya ke guling yang ia peluk, ada wangi yang berbeda dari biasanya tapi ia menyukainya. "Enak," ucapnya dan terus menghirupnya.
Sedangkan yang menjadi guling Jessy, sedari tadi ia hanya diam memperhatikan tingkah konyol istrinya.
Nathan sebenarnya sudah bangun, tapi kemudian ia baru menyadari jika istrinya itu sedang memeluknya erat. Hingga niat untuk bangun ia urungkan, dan lebih menikmati tingkah lucu istrinya.
"Apa sudah puas tidurnya?" tanya Nathan.
Jessy menggelengkan kepalanya. "Belum," jawabnya manja. "Masih ngantuk," imbuhnya dengan mata terpejam. Ia sekarang bahkan menggesek-gesekkan hidungnya di dada Nathan.
Nathan yang di perlakukan seperti itu, sontak saja membuat yang berada di dalam sana mulai terusik. Meskipun setiap pagi keadaanya memang sudah On. Tapi dengan kelakuan istrinya yang seperti ini membuat sensasi yang berbeda, tentu saja ia laki-laki normal.
Dengan sedikit mendekatkan wajahnya, Nathan mulai berbisik di telinga Jessy. "Apa begitu nyaman?"
"Uhm," hanya gumaman yang keluar dari mulut Jessy. Tetapi kenyataannya memang begitu. Hingga kemudian, ia sedikit meremang ketika merasakan lehernya di terpa udara yang hangat.
Jessy sedikit membuka matanya. Ia sepertinya melihat bayangan suaminya. Dan beberapa kali ia mengerjapkan matanya, barulah matanya terbuka sempurna ketika ia menyadari kalau itu bukan hanya sekedar bayangan suaminya. Tapi benar-benar suaminya yang berada di dekatnya. Apalagi sekarang ia merasakan Nathan berada di ceruk lehernya.
"Nathan lo!" Jessy langsung melepaskan rangkulannya. Tapi kini justru giliran Nathan yang mendekapnya erat. "Lepas!"
"Kenapa? Tadi lo yang mau!" ucap Nathan dengan posisinya yang sama. Bahkan ia tersenyum miring tanpa di ketahui oleh Jessy.
Mata Jessy melotot tidak percaya. "Nggak mungkin!" Ia sekuat tenaga untuk lepas dari suaminya. Tapi kemudian ia membeku ketika ia merasakan suaminya memberi kecupan di lehernya.
Ketika Nathan yang menyadari bahwa istrinya itu sudah tidak lagi memberontak, ia menarik diri dan memandang wajah ayu itu yang masih membeku. "Jangan coba-coba, untuk menggoda." ucapnya kemudian ia beranjak dari sana.
Sedangkan Jessy masih di atas ranjang dengan ke Keterkejutannya.
...----------------...
...Jadi ngebayangin, gimana kalau aku aja yang jadi Jessy hahahahaha. Kalau sudah masuk dalam ikatan yang halal gini, othor susah ngerem buat nulis di bagian ***-*** ðŸ¤. Maklum otak othornya udah tercemar 🤣...
__ADS_1