
Untuk beberapa saat, Jessy mulai bisa mengendalikan dirinya. Di dekapan suaminya yang sekarang menjadi tempat bersandarnya, air matanya rasanya sudah habis ia keluarkan untuk menangisi cobaan yang ia alami sekarang.
Meskipun Jessy sudah terlihat lebih baik, Nathan masih setia merangkulnya. Memberikan rasa nyaman untuk sang istri.
Mira perlahan mendekati di mana Jessy berada. "Sayang!" panggilnya sedikit gugup. Namun putri sambungnya itu hanya diam, bahkan sama sekali tidak menoleh kearahnya. "Tenanglah Nenek pasti--"
"Lebih baik Mama temani saja dia, karena dia lebih membutuhkan." Jessy menyela ucapan Mira. Bahkan ia masih tidak mau menatap ke arah Mira, pandangannya sekarang kosong, pikirannya melayang jauh. Tapi ia masih ingat, kejadian apa yang menyebabkan Neneknya seperti ini.
Mira melipat bibirnya kuat-kuat, ia tau yang di maksud adalah Tasya namun ia tidak mau menyebut namannya.
"Ma, biar Nathan yang berjaga di sini. Mama pulang saja sudah malam," Nathan menimpali. Ia bisa merasakan jika istrinya tidak nyaman melihat keluarganya berada di sana.
Mira hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju, namun hatinya juga merasa sakit melihat putrinya seperti ini.
*
*
Di kamar, Mira hanya bisa menatap putrinya dengan sendu, ia tidak mengira kejadiannya akan seperti ini. Setelah tau kejadian apa yang sebenarnya terjadi, tentu saja dengan memaksa agar putrinya itu bercerita.
"Sayang, kenapa kamu melakukan ini?" Air mata Mira jatuh begitu saja. "Kamu anak yang baik, tidak seharusnya melakukan hal seperti ini, apalagi dengan saudara sendiri."
Tasya tersenyum kecut, meskipun ia sudah melihat hasil dari perbuatannya namun masih saja merasa jika semua orang tidak adil terhadapnya. "Siapa yang Mama maksud?" tanya nya lirih. "Mama tahu, dulu aku mendapatkan apa saja yang aku minta. Mama selalu memberikannya." Ia mengingat kehidupannya dulu sebelum ibunya menikah kembali. "Dan kasih sayang Mama hanya untukku."
"Tapi, sejak Mama menikah kembali Mama selalu saja memikirkan Kak Jessy," Tasya yang mulai menangis.
Mira menggelengkan kepalanya, merasa ucapan putrinya itu tidaklah benar. "Semua itu tidak benar sayang, kasih sayang Mama masih sama tidak ada yang berubah. Dan cobalah lihatlah Papa Danu, ia juga sangat menyayangimu seperti putri kandungnya sendiri." tutur Mira.
Ia tidak menyangka jika putrinya selama ini berfikir jika ia telah pilih kasih, padahal ia hanya berusaha memberikan kasih sayangnya sebaik mungkin pada mereka.
"Tapi kenyatannya memang begitu Ma." Tasya yang menyangkal itu.
__ADS_1
Mira menghembuskan nafasnya pelan, ia sudah tidak tau lagi harus berbuat seperti apa. Ia lalu beranjak dari hadapan putrinya, jangan sampai ia akan melontarkan kata-kata yang nantinya akan membuat putrinya semakin terluka.
"Untuk sementara kamu tinggal di rumah saja," ujar Mira sebelum benar-benar pergi meninggalkan putrinya. Mungkin saat ini keputusan ini yang terbaik.
Tangis Tasya semakin pecah mendengar itu.
Sedangkan Mira, ia sendiri juga terisak di dalam kamarnya. Rasanya ia sudah gagal menjadi seorang ibu, dan sekarang ia harus memberi penjelasan apa jika suaminya pulang?
Karena waktu di perjalanan menuju rumah sakit tadi, ia sudah memberi tahu suaminya jika mantan ibu mertuanya sakit dan harus di larikan ke rumah sakit.
Klek.
"Sayang!" Danu yang baru saja tiba.
Deg.
Tubuh Mira menegang seketika. "M-mas!"
"Ada apa?" Danu terkejut melihat istrinya yang menangis. "Semuanya baik-baik saja kan?" Ia mendekat ke arah istrinya dan memeluknya.
Danu mengurai pelukannya, ia heran kenapa istrinya minta maaf.
"Maafkan aku Mas," hanya kata itu yang mampu ia ucapkan sebagai ganti apa yang di perbuat putrinya. Ingin sekali ia menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun kembali lagi, naluri nya sebagai ibu membuatnya harus melindungi putrinya.
"Katakan, sebenarnya apa yang terjadi?" deaak Danu.
"Maaf, karena aku tidak bisa menjaga ibu." ujarnya. Hatinya semakin sesak, ia sekarang bagaikan buah simalakama.
*
*
__ADS_1
Jessy sedari tadi hanya duduk di depan ruang ICU, di mana Mariam sedang berjuang bertahan hidup di dalam sana.
Nilam dan Tama yang sedari tadi membujuknya untuk beristirahat sama sekali tidak berhasil, padahal malam sudah semakin larut.
Ia sendiri juga belum sempat melihat keadaan sahabatnya setelah di pindah di ruang rawat.
"Mami dan Papi pulang dulu saja, Oma pasti khawatir sekarang di rumah." Nathan yang mengingat keberadaan Oma sendirian di rumah, meskipun masih dengan beberapa pekerja di rumah.
Nilam sendiri juga bingung dengan keadaan sekarang, karena tadi ia sengaja tidak memberitahu Oma tengan keadaan sahabatnya.
Ia kemudian menoleh ke arah menantunya yang hanya diam sedari tadi, bahkan Jessy seperti mayat hidup. Ia menggenggam tangan menantunya. "Sayang, kamu harus kuat. Nenek pasti akan cepat sembuh jika kamu percaya nenek akan kembali sehat." Ia menguatkan menantunya yang begitu rapuh.
Jessy menganggukkan kepalanya, namun pandangannya masih saja tetap sama. Kosong.
Mata Nilam berkaca-kaca melihat itu, menantunya yang biasanya selalu tegar kini terlihat begitu hancur.
Setelah kepergian Nilam dan Tama, suasana semakin sunyi. Tidak ada lagi obrolan di antara pasutri itu, lebih tepatnya Jessy yang hanya diam.
"Kamu mau makan? Dari tadi kamu belum makan?" Nathan menawari. Sudah pukul tiga pagi mereka di sana, dan ia teringat jika istrinya itu sama sekali belum makan mulai berangkat ke acara sekolah.
Jessy menggelengkan kepalanya, tubuhnya sekarang rasanya tidak bisa merasakan sesuatu. Rasa lapar, haus dan lelah semua itu tidak dapat ia rasakan, karena yang ada sekarang hanya ada rasa takut.
Nathan lebih mengeratkan lagi genggaman tangannya pada tangan istrinya. "Bertahanlah sekuat mungkin, jika tidak siapa yang akan menyemangati Nenek untuk sembuh!" katanya.
Jessy mengalihkan pandangannya pada Nathan yang sekarang juga menatapnya. "Nenek pasti sembuh kan?" pertanyaan yang berulang kali ia tanyakan.
"Pasti," jawab Nathan dengan yakin. "Nenek tidak mungkin meninggalkan cucu tersayangnya."
Bibir Jessy yang bergetar menahan tangis mencoba untuk tersenyum, namun lagi-lagi air matanya jatuh begitu saja.
Sebagai suami tentu saja itu adalah hal yang menyakitkan, melihat istri yang begitu ia cintai merasa sangat terluka.
__ADS_1
...----------------...
...Maaf gengs baru up, habis keracunan drakor jadi baru selesai maraton lihatnya π. Mungkin dari kalian ada yang sama kayak aku π β. ...