Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Main


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Saat hari menjelang sore, inilah waktu yang di nanti-nantikan semua murid. Semua berhamburan keluar dari kelas masing-masing saat bel pulang sekolah berbunyi.


"Tasya," panggil Meili.


Tasya yang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas kemudian menoleh. "Apa?"


"Ayo main ke rumah Jessy!" ajaknya. Sebenarnya ia sendiri penasaran kenapa mereka saudara tapi tidak tinggal bersama, ingin bertanya tapi takut menyinggung nya.


"Aku tidak bisa," tolak Tasya. "Hari ini aku ada bimbel."


Setelah mengucapkan itu Tasya berdiri dari duduknya. "Aku pulang dulu," pamitnya.


"Oh... baiklah." sahut Meili melihat punggung Tasya yang sudah menjauh.


"Jessy, ayo!" ajak Meili semangat.


Jessy berdecak kesal melihat Meili. Padahal tadi ia sudah melarangnya untuk bermain ke rumahnya, tapi sama sekali tidak di dengarkan nya.


Hingga akhirnya Meili mengendarai mobilnya mengikuti motor Jessy dari belakang.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai.


Mariam yang tadinya menyirami tanaman anggrek kesayangan nya langsung menghentikannya ketika ia melihat mobil asing ikut masuk ke pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Jessy dan Meili mendekat ke arah Mariam dan mencium punggung tangannya.


"Wah... ada tamu rupanya!" seru Mariam. Ia senang melihat Jessy yang mengajak temannya bermain ke rumah.


"Apa Nenek tidak keberatan, Meili main ke sini?" Ujar Meili.


Mariam tertawa mendengar itu. "Mana mungkin Nenek keberatan! Nenek malah senang rumah ini akan semakin ramai."


Jessy memutar bola matanya malas melihat kelakuan dua perempuan itu. "Gimana nggak ramai, yang satu rembo dan satunya lagi beo." gumamnya, kemudian masuk kedalam rumah.


"Hei... kamu bicara apa?" tanya Mariam sambil berteriak. Tapi cucunya itu tetap melangkah masuk ke dalam rumah. "Dia sangat nakal," ujarnya pada Meili.


"Tapi dia sangat baik, Nek." kata Meili.


Mariam menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Meili. "Iya dia sangat baik."


"Ayo," sahut Meili kemudian menggandeng tangan Mariam berjalan masuk ke rumah.


Mariam tertawa melihat sikap Meili yang cepat akrab dengan orang baru.


Di dapur, Mariam senang dengan adanya Meili. Ternyata gadis muda itu pandai memasak. "Kamu pintar memasak," pujinya.


Mendengar pujian itu, Meili merasa sangat senang. "Karena kalau di rumah kebanyakan main sama bibik," ujarnya kemudian tertawa.


Mariam menautkan kedua alisnya mendengar jawaban Meili. "Memangnya--"

__ADS_1


"Nek, apa sudah matang makanannya?" tanya Jessy yang baru datang.


"Kamu ini!" kesal Mariam. "Seharusnya kamu juga membantu Nenek memasak, biar suamimu nanti semakin nyaman tinggal di rumah."


Jessy melotot mendengar itu, apa nenek nya itu tidak sadar kalau ada temannya.


"Benar itu," timpal Meili. Kemudian Mariam dan Meili tertawa bersama.


"Sepertinya kalian sangat cocok," ucap Jessy dan memilih pergi meninggalkan dua perempuan itu yang sekarang semakin tertawa.


Beberapa saat kemudian, makanan sudah tertata rapi di atas meja makan.


Ketiga perempuan beda generasi itu menikmati makan dengan di selingi canda tawa. Lebih tepatnya hanya Mariam dan Meili yang berisik.


Sedangkan Jessy hanya menyimak.


Tidak lama bel rumah Mariam berbunyi.


"Biar aku saja yang membuka pintunya," Meili kemudian berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.


"Siapa Nek?" tanya Jessy. Ia heran, jarang-jarang ada tamu di rumah nenek nya.


Mariam mengangkat kedua bahunya. "Entahlah!"


Ketika Meili membuka pintu, betapa terkejutnya melihat siapa yang datang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2