Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Memberi Semangat


__ADS_3

Di sela-sela belajarnya, sesekali Raka melirik ponselnya. Sudah beberapa hari benda pipih itu tidak lagi berisik seperti biasanya. Padahal dulu ia seperti di teror.


Jika dulu Raka sedikit merasa kesal karena ponselnya yang sering berbunyi, sekarang ia seperti merasa ada sesuatu yang hilang.


Ia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya kasar. "Gue kenapa?" Bahkan ia sendiri tidak tau apa yang dia rasakan.


Di sisi lain, sang peneror sendiri sedang menikmati malam nya bersama Jessy. Siapa lagi kalau bukan Meili.


Meili dan sahabatnya itu berada di angkringan yang sering di kunjungi Jessy. Di depannya pun sudah tersaji berbagai macam aneka sate dan dua nasi kucing.


Tapi sayangnya, makanan itu seperti hanya pajangan bagi mereka. Mereka sibuk menatap layar ponselnya masing-masing dan juga dengan pikiran yang entah melayang kemana.


Jika Meili, ia memang memutuskan untuk menghindar saja dari Raka. Ia tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Meskipun ia tidak tau hubungan apa yang di miliki oleh Raka dan Tasya, ia lebih memilih mundur.


Karena bagi Meili, jika dirinya di bandingkan dengan Tasya tentu dirinya tidak ada apa-apa nya. Tasya yang begitu pintar, kepribadian yang sopan apalagi memiliki paras cantik.


Sedangkan dirinya, boro boro pintar. Bisa naik kelas saja sudah syukur. Dan mengenai kepribadian, tentu ia sangat berbanding terbalik dengan Tasya.


Jika Meili menyerah sebelum berperang, lain halnya dengan Jessy. Karena kejadian terakhir bersama suaminya, ia memutuskan untuk tidak menginap lagi di rumah Mami Nilam dan membiarkan suaminya belajar dengan sepenuh hati.


Sia sia saja ia sudah melakukan hal yang memalukan, namun tidak membuahkan hasil. Yang ada ia justru dongkol di buatnya.


Ia berpikir mana ada kucing yang nolak di kasih ikan, tapi ternyata kucingnya sepertinya sedang berpuasa.


Jessy dan Meili sama-sama menghembuskan nafasnya kasar, hingga kemudian mereka saling tatap menyadari perbuatan mereka. Di detik berikutnya mereka tertawa bersama.


"Lagi galau?" tanya Jessy. Padahal dirinya sendiri juga merasakan itu.


"Nggak, emang galau sama siapa?" sahut Meili dengan cuek.


"Tentu saja dengan Raka."


"Aku sama Kak Raka nggak ada hubungan."

__ADS_1


"Masak?"


"Iya. Lagi pula sepertinya Kak Raka suka sama Tasya deh."


"Tasya?"


"Iya. Karena waktu itu aku nggak sengaja ngeliat mereka berdua bersama."


"Meili, bersama bukan berarti punya hubungan."


"Tapi kelihatannya seperti itu."


Jessy menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata sahabatnya itu sudah menyerah, padahal dulu selalu mengucapkan jika ia pejuang cinta.


"Sejak dulu beginilah cinta penderitaannya tiada akhir," gumam Meili dengan lesu.


Jessy berdecak kesal melihat kelakuan sahabatnya itu.


Cintanya sudah tidak terbalas oleh lelaki pujaannya, namun cinta itu masih tertanam begitu dalam di hatinya.


"Andai saja masih ada kesempatan kembali," harapnya. Berharap hati Nathan masih bisa untuknya.


Sungguh, ia sudah menjaga hatinya untuk Nathan. Hingga ia menolak cinta Raka yang sudah lama menunggunya.


*


*


Keesokan paginya, Jessy masih saja bergulung di balik selimutnya. Sudah beberapa hari ia merasakan susah untuk tidur, hingga malam sangat larut baru bisa membuatnya terlelap.


Ia sejenak merasakan seperti ada seseorang yang naik di sisi ranjangnya.


Nenek?

__ADS_1


"Nek, pergilah. Jessy masih ngantuk!" Tanpa membuka mata Jessy semakin menyembunyikan dirinya di dalam selimut, ia bahkan seperti kepompong.


"Nek!" rengek nya lagi. Ia merasakan tidak bisa bergerak kerena neneknya itu sepertinya memeluknya dari balik selimut.


"Ya ampun Nenek!" Jessy sedikit merasa kesal. "Jessy baru tidur beberapa jam," gerutunya.


Dan ia semakin kesal ketika mendengar suara orang tertawa.


Jessy yang sudah terlanjur kesal, akhirnya membuka selimutnya. "Nek--"


Matanya langsung melotot ketika tau seseorang yang mengganggunya ternyata bukan Mariam, melainkan suaminya.


"Nenek sedang memasak," ujar Nathan dengan senyum menyebalkan. Ia sengaja pagi-pagi sekali berangkat sekolah karena ingin mampir terlebih dahulu untuk melihat keadaan istrinya.


Meskipun setiap hari sudah melihatnya dari VC tapi tetap saja ada yang kurang menurutnya. Apalagi hari ini adalah hari terakhir ujian sekolahnya.


Jessy menatapnya sebal, apalagi melihat wajah suaminya mengingatkannya kembali kejadian beberapa hari yang lalu. "Aku ngantuk." ia lalu bersembunyi kembali di balik selimut.


"Hei, apa tidak mau memberiku semangat? Hari ini, hari terakhir aku ujian." Nathan berujar.


"Semangat ya ujiannya!" kata Jessy dari balik selimut.


"Bukan begitu!" Nathan menarik selimut Jessy, hingga memperlihatkan wajah bagun tidur istrinya yang masih saja tetap terlihat cantik.


"Lalu bagaimana?" ingin sekali Jessy melempar bantal pada wajah tampan suaminya itu.


Cup.


Nathan memberikan kecupan singkat di bibir Jessy. "Seperti itu," di iringi senyum puas di wajah tampannya.


...----------------...


...Si Jessy mah repot! Katanya kangen, tapi di samperin malah sebel. ...

__ADS_1


__ADS_2