Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Menyentuh Lainnya


__ADS_3

Seperti rencana sebelumnya, Jessy sudah bersiap untuk pulang ke rumah Mariam. Setelah acara makan bersama yang begitu hangat, ia seperti mendapatkan susana keluarganya kembali yang telah lama hilang.


"Sayang apa kamu benar-benar akan pulang?" Nilam menatap Jessy dengan tatapan memohon. Ia sebenarnya sungguh tidak rela jika menantunya itu pergi, apalagi baru saja pulang dari rumah sakit. Ia masih ingin merawat menantunya sampai benar-benar pulih.


Jessy hanya memberikan senyuman manis. Ibu mertuanya itu sudah beberapa kali menanyakan hal yang sama. "Lain kali Jessy akan menginap, Mi." Ia tahu Nilam masih berat untuk melepasnya.


"Tapi --"


"Mi." Papi Tama menginterupsi seraya merangkul bahu Nilam. "Sudahlah, mungkin menantu kita juga kangen dengan neneknya." Papi Tama memberi pengertian, dan hanya mendapat helaan nafas pelan dari Nilam.


"Ya sudah, kalau begitu." putus Nilam akhirnya. "Kalau begitu, kamu harus jaga diri kamu baik-baik ya." Yang mendapat anggukan dari Jessy.


Kemudian mereka semua bergantian memeluk Jessy, sebelum Jessy benar-benar pulang. Sayang sekali Meili harus pulang ketika di tengah acara makan bersama tadi, karena mendapat telepon dari papanya yang tumben sekali pulang lebih awal dari biasanya.


Setelah semua sudah selesai berpamitan, kini Jessy akan pulang di antar oleh suaminya.


Ketika di dalam perjalanan, suasana di dalam mobil hanya ada keheningan. Mereka berdua tidak ada yang memulai obrolan.


Tak lama, mereka sudah sampai di rumah Mariam.

__ADS_1


"Mau apa?" Jessy melihat Nathan memegang tangannya ketika ia baru saja turun dari mobil.


Nathan menghembuskan nafasnya pelan, tadi ketika di rumahnya ia di gandeng oleh Mami Nilam ia tidak protes. Tapi ketika ia yang akan memapahnya istrinya justru bertanya kenapa. "Biar lo nggak jatuh."


Mata Jessy membulat mendengar itu. Memangnya dia habis kecelakaan parah hingga suaminya itu takut ia terjatuh ketika berjalan. "Udah deh, nggak usah ngadi ngadi." cetus Jessy.


Yang benar saja, pikir Jessy.


"Udah deh, nggak ada penolakan. Dan nggak usah protes." tegas Nathan, hingga akhirnya ia akhirnya menggandeng tangan Jessy.


Tanpa banyak bicara akhirnya Jessy mengikuti langkah Nathan. Hingga di depan pintu Jessy menghentikan langkahnya.


"Lepas dulu tangannya!" Jessy melirik ke arah tangan Nathan yang menggandeng tangannya. "Malu jika di lihat nenek," imbuhnya.


Sebenarnya kata malu hanya alasan bagi Jessy, karena yang sebenarnya adalah jantungnya yang sedari tadi berdetak lebih kencang. Semenjak melihat Nathan yang begitu peduli terhadapnya ketika ia sakit dan juga ucapan mamanya yang selalu terngiang di ingatannya menimbulkan rasa yang berbeda di hatinya.


Nathan kemudian juga mengarahkan arah pandangannya pada tautan tangannya, dan kembali menatap Jessy. "Memangnya kenapa? Hanya berpegangan tangan. Bahkan jika gue menyentuh di bagian yang lainya, nenek juga tidak akan protes." Nathan terlihat santai ketika mengucapkan itu.


Sedangkan Jessy merasakan pipi dan telinganya yang sudah memanas. Tidak tahukah suaminya itu jika ucapannya membuat otaknya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Lo --" sungut Jessy untuk menutupi rasa malunya.


Klek.


"Loh kalian sudah sampai?" Mariam yang menghentikan perdebatan suami istri itu. Padahal ia tadi berniat keluar rumah karena ingin menunggu tukang bakso langganannya, tapi justru melihat cucu dan suaminya berdiri di depan pintu. "Kenapa tidak langsung masuk?"


Jessy hanya tersenyum kaku mendengar pertanyaan Mariam. "Baru saja mau masuk Nek, tapi Nenek yang duluan keluar. Coba saja Nenek masuk lagi, nanti pasti Jessy yang duluan masuk." jawab Jessy.


Mariam yang mendengar penuturan cucunya sedikit bingung, tapi anehnya dia menurut dengan ucapan Jessy. Mariam masuk kembali dan menutup pintunya.


Jessy yang masih di luar sontak saja tertawa tertahan, melihat Mariam yang ternyata mengikuti ucapannya. Kemudian ia segera membuka pintu dan melihat Mariam yang masih berdiri di depan pintu. "Tuh kan, Jessy duluan." kata Jessy, kemudian melenggang masuk di ikuti suaminya yang masih memegang tangannya.


Nathan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua wanita berbeda usia itu. "Nathan masuk dulu Nek." pamitnya sebelum benar-benar beranjak dari sana.


Mariam menganggukkan kepalanya mendengar itu, tapi ia seperti memikirkan sesuatu. "Kok ada yang aneh?" ketika ia belum sadar jika di kerjai oleh Jessy.


Hingga di detik berikutnya, matanya melotot ketika kesadarannya sudah kembali setelah tadi sempat berceceran. "Cucu kurang ajar!" teriak Mariam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2