
Di atas podium Nathan berdiri dengan gagahnya. Beberapa saat lalu kepala sekolah mengumumkan jika ia adalah lulusan terbaik tahun ini.
Rasa bangga tentu saja menyelimuti hati keluarga, melihat putra mereka berhasil dengan nilai terbaik.
"Ehm," Nathan berdehem untuk melegakan tenggorokannya sebelum memulainya. "Terima kasih untuk para guru-guru terhebat saya, telah mendidik saya hingga seperti sekarang ini. Dan untuk keluarga saya," ia menjeda ucapannya. Entah kenapa, matanya begitu saja memanas. Melihat keluarganya yang juga sedang memperhatikannya. "Saya sangat berterima kasih terlahir menjadi putra kalian."
Sontak saja air mata ketiga wanita berbeda generasi itu tidak dapat lagi mereka tahan, rasa haru dan bangga tercampur menjadi satu.
Semua yang berada di dalam aula juga merasakan rasa haru, hingga di detik kemudian suara tepuk tangan bergemuruh.
Baru saja Nathan melangkah berniat pergi ketika ia selesai memberi sambutan, kemudian ia kembali lagi karena sepertinya ia melupakan sesuatu. "Dan untuk!" sontak saja gemuruh tepuk tangan langsung berhenti. Menantikan kelanjutan ucapannya.
"Dan untuk tunangan saya," ucapnya. "I love you," ucapnya tanpa suara. Setelah itu ia turun dari podium.
Tapi semua juga pasti tau arti ucapan Nathan dari gerak bibirnya. Sehingga suasana semakin riuh di buatnya, dan Nathan secara tidak langsung telah menjadikan hari itu menjadi hari patah hati bagi pengagumnya dan pengagum istrinya.
Mata Jessy membulat melihat tindakan suaminya, sejak kapan suaminya itu jadi seromantis ini. Bahkan bisa mengungkapkan rasa cintanya di depan banyak orang. Seketika saja pipinya bersemu merah apalagi Mami Nilam dan Oma yang juga menggoda nya sedari tadi.
*
*
Semenjak pengumuman yang di buat Nathan secara tidak langsung di hari wisuda, Lisa dan Tia sudah tidak berani lagi mengganggu hubungan mereka. Meskipun kedua gadis itu juga merasakan kekecewaan yang sama dengan yang lainnya, kecewa karena idola mereka sudah ada yang memiliki.
Bahkan hubungan mereka tidak hanya sekedar pacaran namun sudah bertunangan yang mereka tau.
"Jessy di acara prom night kamu ikut?" tanya Meili. Besok adalah hari perpisahan yang akan di selenggarakan di sekolah, dan semua murid boleh ikut menghadiri.
"Entahlah, kalau nggak lagi males ya datang." jawabnya. Ia tidak suka suasana ramai seperti itu sebenarnya. "Lo sendiri datang?"
Meili hanya mengangkat kedua bahunya, ia sendiri juga belum tau datang atau tidak. Semenjak ia dan Raka di pantai terakhir kali, juga tidak ada perubahan.
__ADS_1
Sedangkan di bangku Tasya, gadis itu menatap Jessy dengan sendu. Karena setiap melihat kakaknya maka ia akan teringat jika laki-laki yang ia cintai sudah di miliki oleh kakaknya.
Apakah takdir tidak bisa berubah? Agar Nathan bisa menjadi miliknya?
Hingga malam hari tiba, Jessy sedikit heran. Suaminya mulai pagi hingga sekarang sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Nathan hanya menghubunginya lewat telepon.
"Jessy!" teriak Mariam dari luar kamar Jessy.
"Iya," sahut Jessy sembari berjalan membukakan pintu kamar untuk neneknya. "Ada apa Nek?" setelah pintu terbuka. Terlihat Neneknya membawa sesuatu.
"Tadi ada orang yang mengirimkan ini, katanya dari suami kamu." Mariam menyodorkan paper bag pada Jessy.
Di kamar Jessy heran melihat paper bag yang berada di depannya. Untuk apa suaminya mengirimkan itu, padahal tadi ia baru saja menghubunginya dan tidak membicarakan tentang paket yang ia kirimkan.
"Ini apa," gumamnya. Ternyata di dalam paper bag ada sebuah kotak yang lumayan besar. "Gaun!" setelah kotak itu ia buka.
Gaun cantik yang bewarna soft pink, dengan lengan panjang. Dan panjang baju selutut.
Senyumnya terbit begitu tau isi yang ada di dalam surat itu.
Ternyata suaminya menyuruhnya untuk hadir di acara prom night besok.
"Kenapa sih, tambah hari suami gue semakin manis aja." Ia menyadari perubahan suaminya, semakin hari begitu semakin menunjukkan rasa cintanya terhadapnya.
Tidak lama teleponnya berdering, yang ternyata dari suaminya.
"Halo!" jawabnya begitu tersambung.
"Gimana! Suka?"
"Suka, kenapa nggak kamu sendiri yang kirim sendiri ke sini."
__ADS_1
"Maaf, masih ada urusan. Kenapa! Kangen?"
"Nggak!" bohong Jessy. Tapi senyumnya sungguh terlihat jelas.
"Benarkah?"
"Hm."
"Aku jadi ngerasa sedih kalau kamu nggak kangen."
Jelas saja bibir Jessy semakin mengembang setelah mendengar ucapan suaminya. "Salah sendiri kamu nggak datang kesini!" secara tidak langsung Jessy juga mengakui jika ia merindukan suaminya.
"Mungkin nanti malam, aku akan datang ke mimpi kamu sayang."
"Jangan ngegombal deh."
"Serius."
"Iya iya aiklah aku percaya."
Terdengar kekehan dari seberang sana. "Baiklah kalau begitu sampai jumpa besok malam."
"Iya."
Dan sambungan telepon berakhir.
Jessy masih memegangi gaun yang berada di tangannya. Senyumnya sedari tadi tidak pernah luntur, ia tidak pernah membayangkan jika suaminya akan seromantis ini.
...----------------...
...Ayo yang mau ikutan, cepat-cepat ke salon. Biar nggak ketinggalan paa Nathan dan Mommy Jessy. ...
__ADS_1