
Jessy masih terkejut dengan kenyataan yang ada. Baru saja ia mengetahui kenyataan kalau konter yang sekarang ia datangi adalah milik suaminya. Pantas saja suaminya itu bisa memberikannya ATM dengan alasan nafkah.
Konter itu sendiri di bangun Nathan sejak dua tahun yang lalu, bermodalkan tabungannya yang selama ini ia kumpulkan selama beberapa tahun. Dan belum lagi ia sesekali membantu bekerja di salah satu bengkel ayah temannya sebelum ia memiliki usaha konter.
Usahanya harus jatuh bangun sebelum berhasil seperti sekarang. Beruntung nya usaha Nathan masih bisa bertahan melewati itu semua. Dan sekarang bahkan ia tak perlu menyewa ruko, karena ruko yang sekarang ia tempati adalah miliknya sendiri.
Meskipun konter Nathan masih belum memiliki cabang, tapi yang sekarang cukup ramai. Terbukti dari ia memiliki lima pegawai.
"Ni minum," Nathan menyerahkan satu kaleng minuman dingin kepada Jessy. "Kalau lo ngantuk, tidur aja. Gue masih ada kerjaan."
Nathan kemudian duduk di sofa sambil memeriksa beberapa berkas hasil penjualan di konternya, selama beberapa hari belakangan ini ia tidak datang ke konternya karena sibuk ikut membantu Papi Tama mengurusi pernikahan nya.
Jessy yang duduk di ranjang, terus saja mengamati wajah Nathan yang serius memeriksa kerjaannya. Hingga beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepalanya ketika menyadari kekonyolan nya. Padahal tidak ada yang salah jika ia mengagumi wajah tampan suaminya.
Hingga tiga puluh menit berlalu, Nathan masih saja membolak-balikkan kertas yang berada di tangannya. Sedangkan Jessy yang sedari tadi menunggu di ranjang dengan memainkan ponselnya sudah mulai merasa bosan. Minuman yang tadi di berikan Nathan pun sudah beranak dua yang telah Jessy habiskan.
"Kalau tau begini, buat apa dia ngajak gue ke sini?" batin Jessy kesal. Ia cuma menjadi pajangan ketika Nathan sibuk dengan kerjaannya.
Jessy terus saja berguling-guling di kasur, dan tak lupa kakinya yang mulai sering ia hentakkan di ranjang.
Nathan yang mengetahui itu hanya menyunggingkan senyumnya, tapi ia tau jika gadis yang ia ajak itu sudah mulai bosan.
Hingga di detik berikutnya, Nathan menaruh berkas tadi yang ia periksa. "Ayo kita pulang," ajaknya. Ia langsung berdiri dan mengambil tasnya.
Jessy yang tadinya berguling-guling di kasur seketika bangun saat mendengar ajakan Nathan. Dengan semangat empat lima ia langsung beranjak dari ranjang. "Kenapa nggak dari tadi!" gerutunya lalu berjalan mendahului Nathan.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang terkadang kekanak-kanakan. Semakin ia dekat dengan istrinya, semakin ia tahu jika sisi cuek yang di perlihatkan Jessy ternyata hanya untuk menutupi tingkah kekanak-kanakan nya.
__ADS_1
Saat melewati para pegawai Nathan, Jessy hanya tersenyum ramah yang di balas juga oleh pegawai Nathan. Kemudian melanjutkan jalanya untuk menuju mobil suaminya.
Nathan yang baru turun, kemudian menghampiri pegawainya. "Saya pulang dulu, nanti laporannya seperti biasanya saja ya!" pesannya.
"Baik, Mas." jawab salah satu pegawai yang biasa merekap pemasukan konter.
Saat di perjalan pulang, nyatanya Jessy sudah terlelap. Rupanya gadis itu sedari tadi ingin cepat pulang karena sudah di landa rasa kantuk.
Hingga mobil yang di kendarai Nathan sudah tiba di rumah Mariam, gadis itu masih saja terbuai dengan mimpinya.
Nathan akhirnya lebih memilih menggendong Jessy untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
"Loh Jessy kenapa?" Mariam sedikit terkejut melihat Nathan menggendong Jessy.
"Tidak apa-apa Nek, hanya ketiduran." jelas Nathan.
Mariam yang mendengar itu menghembuskan nafasnya lega. "Ya sudah, kamu bawa saja ke kamar."
Dengan hati-hati Nathan menaruh Jessy di atas ranjang, seolah-olah istrinya itu adalah barang yang mudah pecah. Sejenak ia memandangi wajah ayu yang masih terpejam. "Lo semakin cantik kalau lagi tidur," ucapnya. Kemudian merapikan rambut Jessy yang sedikit terburai.
Hingga di detik berikutnya ia beranjak dari sana, karena untuk saat ini ia masih belum bisa untuk tinggal bersama istrinya.
Waktu malam tiba, Jessy tiba-tiba terbangun. Ia melihat sekitar dan menyadari jika dirinya sekarang sudah berada di kamar. "Kok, gue udah ada di kamar!" gumamnya. Dan di kamar itu hanya ada di sendiri tanpa suaminya. Tapi itu membuat Jessy bisa bernafas lega karena ia tidak akan tidur dengan Nathan.
Jessy memutuskan untuk keluar kamar setelah beberapa saat lalu selesai membersihkan diri.
Dari lantai atas terdengar suara Mariam yang berteriak.
__ADS_1
"Siti!" teriak Mariam.
Jessy yang mendengar itu kemudian menghampirinya. "Nenek cari siapa? Ada bibi baru lagi?"
Karena bibi yang biasa membantu di rumah Mariam namanya bukan Siti.
"Bu--"
Belum juga Mariam menjawab, tapi yang di carinya sudah muncul.
Meow.
"Siti!" Mariam segera menggendongnya. "Kenapa kamu ngumpet!" kesalnya. Karena sedari tadi ia sudah mencarinya tapi belum ketemu.
Mata Jessy melotot menyadari ternyata yang di cari Mariam adalah seekor kucing. "Jadi ini Siti?" sungutnya.
Mariam tersenyum, kemudian mengangguk. "Bagaimana? Ganteng kan!" tanya nya.
Mata Jessy semakin membulat mendengar pertanyaan Mariam. "Nek, namanya Siti. Tapi kenapa tampan?" ia yang tak habis pikir.
"Dia memang laki-laki, nih!" Mariam mengangkat ekor kucing itu ke atas. "Dua telur puyuh," ia memperlihatkan pada cucunya itu.
"Ya ampun," Jessy menepuk keningnya melihat kelakuan Nenek nya.
"Asal kamu tau, bahkan nanti telur suamimu juga bisa berubah. Yang asalnya telur puyuh, bisa jadi telur angsa kalau ulernya sudah bangun." ucapnya sambil terkikik, kemudian pergi dari sana dengan menggendong Siti. Meninggalkan Jessy yang hanya terbengong.
...----------------...
__ADS_1
...Mudah mudahan masuk di tanggal hari ini ya😁...
...Kamis 23.17...