
Setelah hari menjelang sore, rupanya Jessy baru di ijinkan masuk oleh perawat untuk menjenguk Mariam. Dengan langkah perlahan, ia mendekati ranjang di mana neneknya itu berbaring.
Wanita tua yang sering mengusilinya kini berbaring tidak berdaya. Jarum infus yang tertancap di tangannya juga selang oksigen yang membantunya bernafas, melihat keadaan seperti ini ia rasanya masih tidak menyangka.
Baru beberapa jam yang lalu neneknya itu masih berbicara dengannya, dan tiba-tiba sekarang harus terbaring di rumah sakit.
Mariam tersenyum menyambut kedatangan cucu cantiknya.
"Nek!" sapa Jessy kemudian duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak keluar. "Bagaimana keadaan nenek sekarang?" tanya nya lembut.
"Sudah lebih baik," jawab Mariam lirih.
Sesekali Jessy menghembuskan nafasnya pelan untuk melegakan dadanya yang mulai terasa sesak. "Nenek harus cepat sembuh, agar cepat pulang." ujarnya. "Kasian Siti tidak ada yang mengurusi." Ia mencoba menghibur dengan kucing jantan kesayangan Mariam.
Lagi-lagi Mariam tersenyum mendengar itu. "Kalau Nenek tidak ada, seharusnya kamu yang merawatnya."
"Nggak mau, itukan kucing Nenek." tolak Jessy. Namun hatinya mulai sedikit tidak tenang.
"Kalau Nenek sudah tidak ada bagaimana?"
"Nenek jangan bilang begitu!" Pertahanan Jessy sedikit runtuh, terlihat matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Tapi Nenek memang sudah tua, semua orang pasti akan meninggal jika waktunya sudah tiba. Lagi pula Nenek sudah sangat rindu dengan kakek."
Jessy menggelengkan kepalanya merasa tidak setuju dengan ucapan neneknya. "Nggak, Nenek nggak boleh pergi. Di sini Jessy lebih membutuhkan nenek. Sedangkan Kakek sudah ada Mama yang menemani." Air sekarang benar-benar tidak bisa ia bendung.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tanpa sang nenek, baru saja mereka hidup bersama kenapa sekarang harus ada yang pergi.
Mariam menggenggam tangan cucunya. "Kamu sekarang sudah menikah, tanggung jawab Nenek sudah selesai. Nenek yakin suami dan mertua kamu pasti menyayangimu."
Memang benar apa yang di katakan neneknya, suami dan mertuanya begitu menyayanginya. Namun tetap saja keberadaan nenek juga sangat berarti dalam hidupnya.
"Jam besuk pasien sudah selesai." perawat menginterupsi, yang membuat Jessy mau tidak mau harus keluar.
Di luar ruangan ICU, Nathan segera menyambut istrinya dengan pelukan.
Tadi ia bisa menyaksikan interaksi istri dan nenek dari jendela kaca, ia bisa merasakan betapa terpukul nya hati istrinya menghadapi cobaan ini.
"Nenek akan sembuhkan?" entah untuk yang ke berapa kalinya Jessy menanyakan itu, tapi yang pasti ia sebenarnya merasa takut jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada neneknya. "Nenek akan pulang ke rumah kan?"
__ADS_1
Di dekapan suaminya tangis itu pecah.
"Nenek akan baik-baik saja, kita berdoa saja agar nenek cepat sembuh." Nathan sendiri juga tidak tau harus bagaimana lagi untuk menghibur istrinya, ia hanya bisa memberikan ucapan penyemangat agar istrinya tidak putus asa.
*
*
Danu berjalan di tepi danau seorang diri. Ia sepertinya mengenali tempat itu, tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Di kejauhan ia melihat seorang perempuan yang berjongkok di tepi danau sesekali memainkan air danau dengan tangannya.
Terdengar suara tawa kecil dari perempuan itu ketika air yang di mainkan nya mengenai wajahnya.
Langkah Danu semakin dekat dengan perempuan itu.
Melihat tampilan perempuan itu, mengingatkannya pada seseorang. Mulai dari rambut sebahu yang bewarna hitam, dan gaun bewarna peach yang di kenakan nya.
"Apa mungkin?" gumamnya tidak percaya.
Langkah Danu akhir nya berhenti tepat di sebelah perempuan itu, ia tertegun ketika perempuan itu menoleh padanya dengan tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak berubah sejak dulu.
Perempuan yang dulu begitu ia cintai dan yang berhasil membawa seluruh dunianya pergi bersamanya untuk selamanya.
"Mas," Kasih menengadahkan wajahnya ke arah Danu yang masih berdiri di sampingnya. "Sudah lama kita tidak bertemu."
Tidak ada sahutan dari Danu, ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sejak ia di tinggalkan, Kasih sama sekali tidak pernah muncul dalam mimpinya.
Dan setelah sekian tahun ia baru muncul, bahkan ia masih terlihat seperti dulu. Terlihat begitu cantik dengan gaun yang di kenakan nya ketika dulu pergi bersama ke danau mereka berada sekarang.
Setelah beberapa saat terdiam, Danu akhirnya ikut duduk di sebelah Kasih. Entah sebenarnya mimpi atau apa ia tidak tahu.
Pandangan Danu begitu dalam menatap kedalam bola mata Kasih, ia seolah memastikan bahwa di depannya ini adalah benar-benar wanita yang ia cintai.
"Bagaimana kabar kamu Mas?" tanya Kasih.
Danu menganggukkan kepalanya. "Baik." Kasih tersenyum mendengar itu.
"Kalau kabar putri kita bagaimana?"
__ADS_1
Deg.
Tenggorokan Danu rasanya tercekat mendengar pertanyaan Kasih.
Senyum Kasih yang tadi terlihat kini sirna sudah. Tatapan matanya terlihat sendu.
"Mas, apa kamu tau! Cinta pertama seorang putri adalah Papanya." ujar Kasih. "Selama ini aku ikut merasakan apa yang di rasakan putri kita, meskipun aku sudah tidak berada di dekat kalian, namun bukan berarti aku tidak mengetahui keadaan putriku." jelasnya, secara tidak langsung ia mengatakan jika putrinya tidak baik-baik saja semenjak ia pergi.
Danu terdiam mendengar itu, tapi tidak di pungkiri kini ia merasakan rasa bersalah.
"Jika kamu tidak bisa menjaga putri kita, biarkan Jessy bahagia bersama suaminya." kata Kasih.
"Itu seperti kata Ibu." batin Danu
Kini kedua mata sepasang suami istri itu saling pandang. Untuk menyelami perasaan masing-masing.
"Lupakan kejadian yang telah lalu, itu semua sudah menjadi takdirnya."
"Kamu tahu sendiri, aku waktu itu memang sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena sakit yang aku derita."
"Dan di mana seorang Ibu yang tega membiarkan anaknya terluka? Kalaupun waktu itu kamu berada di posisiku pasti akan melakukan hal yang sama."
Air mata Kasih mengalir begitu saja, rasa kecewa dan sakit hati terhadap suaminya memperlakukan putrinya.
"Jangan seperti ini," Danu mencoba mengusap air mata Kasih, namun di tolaknya.
"Jika kamu terus menyakiti putri kita, lebih baik aku membawanya bersamaku."
"Tidak," Danu tidak ingin itu. "Maafkan aku." Ia mencoba menggapai tangan Kasih namun tidak dapat ia pegang.
Perlahan tubuh wanita yang ia cintai itu mulai menghilang, meninggalkannya seorang diri.
"Kasih!" teriak Danu memanggil istrinya, namun wanita itu tetap saja tidak kembali.
Hingga ia beranjak dan mencari keberadaan Kasih ke segala arah, namun ia tidak menemukannya. Air mata mengalir begitu saja, rasa bersalah kini benar-benar ia rasakan. Ia ingin mengucapkan permintaan maaf, namun Kasih sudah pergi tidak kembali.
"Kasih!" Danu tersentak dalam tidurnya, dengan nafas yang memburu.
...----------------...
__ADS_1
...Maaf gengs dah menghilang beberapa hari 🙏, sebenarnya udah dari kemarin mau up tapi ada kecelakaan kecil jadinya ketunda. ...