Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Minta Maaf


__ADS_3

Setelah suasana yang begitu haru dimana Nathan yang mengucapkan kata terima kasih untuk sang Ibu, dan beberapa saat kemudian mereka melanjutkannya dengan acara makan bersama.


"Ayo silahkan di makan, jangan sungkan." Papi Tama mempersilahkan semua tamu.


Seakan lupa dengan kehadiran teman-teman Nathan, Jessy melakukan kewajibannya jika makan bersama suaminya. Ia sudah berdiri di samping Nathan dan bersiap untuk mengambilkan makanan. "Mau makan apa?" tanya nya datar.


Meskipun tadi ia sempat ikut tersentuh melihat perlakuan Nathan terhadap Mami Nilam, tapi sekarang ia sudah mode singa betina kembali. Ingatan suaminya menerima hadiah dari gadis lain masih terbayang di ingatannya meskipun gadis itu adalah adiknya sendiri.


Nathan sendiri juga lupa dengan kehadiran teman-teman nya, karena sedari tadi yang mencuri perhatiannya adalah sikap istrinya yang berubah. Ia tadi sudah mencoba mendekati Jessy, namun istrinya itu selalu saja menghindar. Ia sadar jika semua itu karena kejadian pagi tadi di sekolah.


Sebenarnya Nathan tidak ada niat untuk menerima kado dari Tasya, ia hanya menghargai karena Tasya adalah adik dari istrinya. Bahkan kado dari Tasya hanya Nathan taruh di dalam mobilnya tanpa ingin ia buka.


"Ayam dan udang bakar saja," jawab Nathan dengan terus memandang wajah Jessy.


Jessy langsung saja mengambilkan apa yang di inginkan oleh sang suami. Tangannya dengan terampil mengambil nasi, ayam dan udang bakar. Piring yang sudah terisi makanan lalu ia berikan kepada Nathan. "Ini"


"Terima kasih," kata Nathan tapi tidak ada sahutan dari sang istri.


Semua tindakan Jessy dan Nathan menjadi pusat perhatian Raka, Ariel dan Reza. Mereka tidak habis pikir jika kedekatan Jessy dan Nathan sudah sejauh itu, padahal jika di sekolah mereka terlihat biasa saja. Karena terlalu sibuk memperhatikan dua anak manusia itu, mereka sampai lupa untuk mengisi piring.


Jessy yang hampir duduk di kursinya, tidak sengaja melihat piring ketiga sahabat suaminya itu masih kosong. Hingga kemudian di otaknya muncul suatu ide. "Apa kalian mau di ambilkan juga?" tanya Jessy dengan tersenyum manis. Sungguh sangat berbeda ketika ia melayani suaminya tadi.


Reza dan Ariel tentu saja menganggukkan kepalanya dengan cepat, bahkan mereka berdua juga ikut tersenyum. Bagi mereka jarang sekali melihat melihat gadis cantik di depannya itu tersenyum.


"Tidak, terima kasih." Raka yang menolak tawaran Jessy.


Hingga akhirnya Jessy mengambilkan makanan untuk Ariel dan Reza. Bahkan suaranya terdengar sangat lembut ketika ia menanyakan lauk apa yang kedua cowok itu inginkan.


Jessy tidak tahu saja jika perbuatanya mendapat tatapan tajam dari sang suami.


Beberapa saat, makan malam telah selesai. Ketiga teman Nathan memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Ariel dan Reza masih ingin di sana, tentu saja semua itu karena keberadaan Jessy yang masih ada di sana. Namun Raka memaksa mereka untuk pulang, padahal mereka juga ingin menanyakan hubungan apa yang di miliki oleh Nathan dan Jessy.


Sekarang Nathan berada di ruang kerja bersama Papi Tama. Tadi Papi Tama memanggilnya karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan nya.

__ADS_1


Kini dua lelaki berbeda generasi itu duduk di sofa, dan menikmati kopi hitam yang di buatkan oleh Nilam.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan istrimu?" Ketika makan malam berlangsung Papi Tama tidak sengaja melihat interaksi anak dan menantunya yang terlihat tidak seperti biasanya. "Papi tidak mau ikut campur, hanya saja jika ada masalah cepat di selesaikan agar tidak berlarut-larut." nasehatnya.


Nathan hanya menghembuskan nafasnya pelan. "Hanya kesalahpahaman saja Pi," jawabnya. Ia sendiri setelah ini akan mengajak istrinya untuk berbicara agar masalahnya cepat selesai.


"Minta maaf lah, meskipun kamu tidak salah. Harga diri seorang laki-laki tidak akan jatuh hanya karena meminta maaf, apalagi dengan istrinya sendiri." tuturnya. "Apalagi jika itu bisa memperbaiki hubungan kalian." Papi Tama yang sudah menjalani rumah tangga belasan tahun tentu tahu bagaimana asam manisnya perjalanan hidup.


"Iya Pi," sahut Nathan.


*


*


Setelah di rasa cukup malam Mami Nilam menyuruh Jessy untuk kembali ke kamarnya. "Sayang kembalilah ke kamar untuk istirahat, Meili saja juga sudah kembali ke kamar. Ini sudah malam, besok kamu bisa kesiangan bangunnya."


Sedari tadi Jessy menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan ibu mertuanya, itu semua ia lakukan agar ia tidak bertemu dengan suaminya. Sebenarnya ia ingin sekali tidur dengan Meili di kamar tamu, tapi ia takut jika mertuanya mengetahui. Lalu apa yang harus ia katakan, sedangkan suaminya sendirian di kamar.


Neneknya sendiri memilih untuk pulang, setelah acara makan malam tadi selesai. Meskipun Oma memaksanya untuk menginap tapi Mariam tetap memilih untuk pulang kerumahnya, dengan alasan ia tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak di rumahnya sendiri.


Langkah Jessy semakin berat kala langkahnya semakin dekat dengan kamarnya. Ia perlahan membuka pintu kamarnya, dan terlihat lampu kamarnya masih terang, itu berarti penghuni kamar itu masih belum ada yang terlelap.


Jessy mengarahkan pandangannya ke segala arah, dan mendapati jendela menuju balkon terbuka. Ia berfikir pasti suaminya sedang berada di sana. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar agar tidak menimbulkan bunyi.


Tidak kalah dengan maling, Jessy berjalan mengendap menuju kamar mandi. Ia berencana diam-diam masuk ke dalam kamar kemudian tidur tanpa harus ketahuan oleh suaminya.


Baru saja Jessy memegang handle pintu kamar mandi, tangan kekar sudah melingkar di tangannya. "Maaf," ucapnya yang tak lain adalah Nathan.


Jessy terkejut bukan main, bagaimana suaminya itu mengetahui keberadaan nya padahal ia sudah masuk secara diam-diam.


Mendengar istrinya yang tidak bersuara, Nathan semakin erat memeluknya. "Aku tidak ada maksud menerima hadiah dari Tasya, aku menerimanya hanya menghargai dia adik kamu." jelasnya. Meskipun istrinya itu tidak meminta penjelasan tapi ia yakin jika Jessy marah karena kejadian tadi pagi.


"Itu semua bukan urusanku." Meskipun bibir Jessy berkata seperti itu, tapi tidak dengan keadaan hatinya yang masih terbakar cemburu.

__ADS_1


Cemburu?


"Aku mohon jangan marah lagi!" Nathan semakin yakin jika istrinya memang di landa cemburu. "Dan jangan cemburu," imbuhnya.


Jessy langsung saja melepaskan tangan suaminya dan menghadap Nathan. "Siapa yang marah? Siapa yang cemburu!" Jessy berbicara tanpa berani menatap mata suaminya. "Nggak ada yang seperti itu." Setelah mengatakan itu Jessy segera masuk kedalam kamar mandi. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan debaran jantungnya yang berdegup kencang setelah ia ketahuan cemburu oleh suaminya.


"Apa bener gue cemburu?" tanya Jessy pada dirinya sendiri. Ia masih saja menyangkal hal itu.


Nathan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang terkadang seperti anak kecil. Sudah ketahuan jika sedang cemburu masih saja tidak mengakuinya. Bahkan ia bisa melihat jelas jika pipi istrinya yang bersemu merah.


Sudah hampir tiga puluh menit Jessy di dalam kamar mandi, akhirnya ia memutuskan keluar. Sedari tadi ia mencoba meredam rasa malunya.


Jessy melihat suaminya yang sudah berbaring di ranjang dengan ponsel di tangannya. Tanpa melihat ke arah Nathan, Jessy berjalan menuju lemari untuk mengambil baju tidurnya. Karena tadi terlalu terburu-buru ia sampai lupa untuk membawa baju ganti.


Dan betapa terkejutnya Jessy saat membuka lemari, ia melihat lingerie yang kemarin di belikan oleh Mami Nilam kini sudah keluar dari paper bag. Padahal ia ingat betul, ia menaruh lingerie itu masih di dalam paper bagian. Lalu siapa yang membukanya?


Jessy hanya bisa menelan saliva nya dengan susah paya, ia tidak tau nasibnya akan seperti apa jika memang benar suaminya lah yang melihat.


Setelah selesai ganti baju, kaki Jessy semakin berat untuk mendekat ke arah ranjang. Ia langsung memejamkan mata ketika sudah berhasil berbaring di ranjang tanpa hambatan.


Tapi sedetik kemudian ia tersentak kaget, saat merasakan kini Nathan yang telah memeluknya. Apalagi ia bisa merasakan nafas Nathan yang menerpa tengkuk lehernya. Hingga mata yang baru saja terpejam kini terbuka kembali.


"Tidak adakah kado kedua untukku?" tanya Nathan. Bahkan ia memberikan kecupan kecupan kecil di leher Jessy.


"Huh!" Jessy masih belum mengerti apa yang di maksud suaminya. Apalagi tubuhnya kini sedekit meremang setelah menerima perlakuan dari suaminya. Ia menoleh ke arah suaminya yang kini begitu dekat dengannya.


"Apa kamu tidak berniat memberiku kado lagi?" tanyanya lagi. Tangan yang tadi melingkar di perut ramping kini perlahan naik, ia mencari sesuatu yang pernah ia rasakan dulu. Benda yang begitu pas di gengaman tangannya.


"Ap -- ungh." Baru saja Jessy ingin bertanya, tapi ia merasakan tangan suaminya yang sudah meremas salah satu asetnya. Hingga tanpa sadar ia mengeluarkan suara yang begitu merdu di telinga Nathan.


SKIP 😁, masih siang.


...----------------...

__ADS_1


...Maaf kemarin nggak bisa up, nggak tau kenapa kepalaku pusing banget. Ternyata waktu priksa, tensi darahnya yang naik-naik ke puncak gunung😅🙏...


__ADS_2