
Meili membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang. Rumah mewahnya seakan tidak berpenghuni, setiap hari yang ia rasakan hanya kesepian.
Sang Papa sendiri sering meninggalkannya keluar kota, dan ia hanya di rumah dengan beberapa asisten rumah tangga.
Ponsel yang sedari tadi di pegang nya seakan tak berguna, ia mencoba menghubungi Jessy tapi sahabatnya itu sama sekali tidak meresponnya. "Jessy tumben nggak angkat telepon? Biasanya selalu di angkat!" gerutunya.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan matanya masih setia terbuka lebar. Ia kemudian mengambil jaket dan dompetnya tidak lupa dengan kunci mobil.
"Nona mau kemana?" tanya salah satu scurity rumahnya ketika Meili masuk ke dalam mobilnya bersiap pergi.
"Keluar sebentar pak," sahut Meili. Tapi waktu ia akan melajukan mobilnya ia kemudian memanggil scurity itu lagi. "Nggak usah bilang-bilang papa ya! Awas kalau sampai bapak ngadu," pesannya di sertai ancaman. Dan satpam itu hanya menganggukkan kepalanya.
Entah akan kemana Meili pergi, ia hanya berputar putar mengelilingi jalanan tanpa arah. Kehidupannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jessy, ia sering di tinggal sendiri. Dan yang paling membuatnya benci adalah di saat papanya menuntut ia agar mendapatkan nilai yang sempurna dalam semua mata pelajaran dan Meili tidak suka itu.
Hingga akhirnya, mobil Meili berhenti di supermarket 24jam. Ia memutuskan untuk memborong saja snack untuk menemaninya begadang.
Di dalam supermarket, ternyata Meili benar-benar mengisi trolinya dengan penuh snack dan beberapa minuman kemasan.
__ADS_1
Setelah selesai membayar, tujuan Meili sekarang adalah pulang ke rumah.
"Ternyata sudah sangat sepi," Meili mengedarkan pandangannya pada jalanan yang ia lewati. Hanya beberapa orang saja yang masih melintas.
Di saat Meili mengendarai mobilnya, pikiran Meili menerawang jauh. Ia teringat kepada Mamanya yang sudah jarang menghubunginya, mungkin karena sibuk dengan keluarga barunya.
Brak.
Gara-gara tidak fokus menyetir, Meili tidak sengaja menyenggol sepeda motor yang baru menyalip mobilnya. "Mati aku!"
Tanpa pikir panjang Meili langsung keluar untuk melihat keadaan sang pengendara. "Mas, tidak apa-apa?" tanya Meili khawatir pada pengendara sepeda motor yang ternyata dua orang laki-laki. "Maaf saya tidak sengaja," ucapnya dengan panik.
"Lo harus gati rugi!" laki-laki satunya menimpali. "Lo harus ganti dua puluh juta." imbuhnya.
Mata Meili melotot mendengar itu, ia kemudian melihat keadaan sepeda motor yang ternyata baik-baik saja dan hanya beberapa bagian yang pecah itu pun skala kecil. Kedua laki-laki itu juga tidak ada yang terluka, hanya lecet-lecet sedikit.
Rasa takut yang tadi menghampiri Meili seketika berubah jadi rasa kesal. "Mas yang benar saja dong, mas nya mau ganti rugi atau meras?" Sebenarnya Meili masih mampu jika harus mengeluarkan sejumlah uang yang mereka minta, tapi itu tidak masuk akal untuk keadaan mereka yang baik-baik saja.
__ADS_1
"Tadi lo yang nabrak, jadi lo harus tanggung jawab." gertak dua laki-laki itu yang terus menyalahkan Meili. Mereka yakin jika di lihat dari penampilan Meili adalah anak orang kaya.
"Tapi mas nya juga tadi tiba-tiba nyalip," Meili membela diri. "Saya mau tanggung jawab bawa mas berdua ke rumah sakit dan untuk sepeda motornya akan saya biayai servis nya." putus Meili.
Kedua laki-laki itu saling pandang seperti mengisyaratkan sesuatu, kemudian mantap Meili dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada senyuman aneh yang terlihat di wajah mereka.
"Ok kalau lo nggak mau ganti rugi, gimana kalau lo nemenin kami berdua. Setelah itu kita anggap impas," setelah berkata seperti itu dua lelaki itu tertawa.
Meili merasakan bulu kuduknya merinding, apalagi melihat kedua ekspresi laki-laki di hadapannya yang begitu menyeramkan. Ia sudah merasakan tidak aman, apalagi jalan yang semakin sepi. "Kalian jangan kurang ajar ya!" bentak Meili. "Kalau kalian tidak mau ya sudah," Meili memutuskan pergi dari sana.
Tapi baru saja ia membuka pintu mobil, kedua laki-laki itu mencekal tangan Meili. "Nona, kalau berbuat harus berani bertanggung jawab." ucapnya di iringi kekehan.
"Lepas!" Meili menyentak tangan laki-laki itu tapi tidak berhasil. Mereka bahkan mencengkeram kuat tangan Meili.
"Kalau galak seperti ini, tambah semakin menggemaskan." Para lelaki itu bahkan tidak peduli dengan Meili yang meronta ingin melepaskan diri. "Kita akan bermain cepat, paling setengah jam kita berdua sudah selesai."
Meili yang mendengarkan perkataan mereka semakin di landa rasa takut, sekarang masa depannya sedang di ambang batas. "Tolong!" teriak Meili. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
__ADS_1
...----------------...
...Di episode berikutnya akan ada kejutan, untuk episode ini di isi sama Meili dulu biar alurnya bisa alus ke episode berikutnya 😁...