
Beberapa hari berlalu.
Semenjak ia bertemu Kasih di dalam mimpi, ia mulai menata hatinya kembali agar seperti dulu. Menyayangi putrinya seperti saat masih mereka bersama dulu.
Namun sepertinya luka yang ia berikan sudah cukup dalam menancap ke hati putrinya, hingga setiap ia ingin bertemu selalu saja Jessy menghindar.
Sedangkan Tasya, gadis itu setelah sadar ia masih terdiam sama sekali tidak mau berbicara. Meskipun Mira sudah berusaha untuk mengajaknya berbicara, namun gadis itu masih saja diam.
Setelah mengetahui kenyataan jika putri sambungnya menginginkan Nathan, Danu awalnya juga tidak percaya.
Marah?
Tentu saja ia marah mendengar itu, namun ia menyadari jika ini semua salah satu penyebabnya juga karenanya yang tidak memperhatikan kedua putrinya. Apalagi ia sudah bersikap tidak adil dengan Jessy.
Jika di tanya siapa yang salah, tentu ia juga bersalah dalam masalah ini.
Ia dan Mira sudah berkonsultasi dengan psikiater, dan ternyata Tasya mengalami depresi.
"Sayang, tolong kamu jangan lakukan hal seperti ini lagi ya!" Mira menggenggam tangan Tasya. "Mama takut jika harus kehilangan kamu." Meskipun ia berbicara seperti dengan angin karena Tasya hanya diam, tapi ia tidak menyerah mengembalikan putrinya agar seperti dulu.
Meskipun itu sangat berat, Mira akan tetap berusaha. Baginya tugas seorang Ibu adalah mengembalikan senyum putrinya.
Apalagi kata Dokter mereka harus selalu memberikan dukungan mental kepada Tasya, agar perlahan gadis itu melupakan ambisi yang seharusnya tidak terjadi.
Mira hanya menghembuskan nafasnya pelan, rasanya dadanya cukup sesak melihat keadaan putrinya untuk saat ini. Ia kemudian menghampiri suaminya yang duduk di kursi tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Mas," ia kemudian duduk di samping suaminya. "Maaf, aku sudah gagal menjadi istri sekaligus ibu." ujarnya menyesal. Entah sudah ke berapa kalinya Mira terus menyalahkan dirinya, bahkan ia sudah menyerahkan semua keputusan kepada suaminya jika ingin berpisah darinya.
Danu yang tadi sedang memijat pangkal hidungnya karena rasa pusing yang mulai mendera kepalanya kini mengalihkan pada Mira. "Sudahlah, ini semua bukan salahmu. Ini semua terjadi juga karena kesalahanku yang tidak memperhatikan kedua putriku hingga menjadi seperti ini."
Ia sudah memutuskan untuk tetap melanjutkan rumah tangganya, ia sudah pernah kehilangan orang yang ia sayang, jadi ia tidak ingin kembali kehilangan.
Ia akan memperbaiki semuanya meskipun ia tau akan sulit.
*
*
Di rumah sakit lainnya, Jessy masih setia menunggu sang Nenek. Tentu ia juga di temani oleh suaminya dan mertua yang bergantian menemani.
"Nak, pulanglah dulu." bujuk Papi Tama. Ia begitu kasihan melihat menantunya yang sekarang terlihat begitu menyedihkan. Wajah yang semakin hari terlihat semakin tirus, lingkaran hitam yang menghiasi mata indahnya.
Sedari tadi bukan hanya Papi Tama yang membujuknya untuk pulang beristirahat, tapi juga suaminya. Namun ia masih tidak mau meninggalkan neneknya sendirian, meskipun ia hanya bisa melihatnya dari luar.
Keadaan nenek masih tidak menunjukkan perkembangan, itulah yang membuatnya tidak berani menjauh dari sana. Karena ketakutan terbesarnya ia tidak akan bisa menemani nenek di saat-saat terakhirnya jika itu benar-benar terjadi.
"Kalau kamu sendiri tidak istirahat, nanti kamu sakit." Nathan masih berusaha membujuk istrinya, padahal ia masih mampu jika harus menyewa hotel untuk mereka istirahat.
"Iya, nanti saja." sahut Jessy.
Nathan menghembuskan nafasnya pelan, jika sudah begini ia memang tidak bisa lagi untuk memaksa istrinya.
__ADS_1
Dari kejauhan, terlihat Meili berjalan bersama Raka menghampiri ke arah Jessy berada.
"Jessy!" Meili langsung memeluk sahabatnya itu. Ia tahu keadaan nenek dari Raka, rasa sedih juga ia rasakan. Mengingat betapa baiknya nenek terhadap dirinya.
"Kamu pulang hari ini?" Jessy melihat Raka membawa tas yang lumayan cukup besar.
Meili menganggukkan kepalanya. "Iya," sahutnya. "Keadaan nenek?"
"Keadaan nenek baik-baik saja," jawab Jessy. Meskipun ada sedikit keraguan dalam dirinya.
"Iya, nenek pasti baik-baik saja." Meili mencoba menguatkan hati sahabatnya. Karena ia sendiri juga membuang rasa takut nya jauh-jauh kalau membayangkan hal buruk itu terjadi.
Dengan hadirnya Meili di sana setidaknya sedikit mengubah suasana hati Jessy yang selalu saja di liputi rasa takut.
Tapi tidak lama setelah itu, semua orang yang berada di sana seketika menghentikan obrolan lalu mendekat ke arah jendela. Mereka terkejut melihat Dokter dan perawat yang berlari menuju ranjang Mariam berada.
Terlihat Dokter sedang melakukan tindakan terhadap Mariam.
Layar monitor yang menampilkan tanda detak jantung Mariam menunjukkan peningkatan drastis.
"Nek!" Rasa takut mulai kembali menghantui Jessy. Melihat pemandangan di depan matanya sungguh membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa, selain hanya berdoa agar neneknya bisa selamat.
Air matanya mengalir begitu saja, bahkan tangannya yang menyentuh jendela mulai bergetar.
"Aku mohon, untuk kali ini jangan ambil orang yang ku sayangi."
__ADS_1
Hanya itu yang terucap dalam hatinya.
...----------------...