
Nathan menggeliat dari tidurnya, ketika ponselnya berdering kembali.
Beberapa saat lalu, sebenarnya ia menyadari jika ada seseorang yang menelpon nya. Tapi rasa kantuk masih mendominasi hingga membuatnya tetap melanjutkan tidurnya.
Dengan mata terpejam, Nathan menggapai ponselnya yang berada di atas nakas. Ia memicingkan mata ketika tau Ariel yang menghubunginya.
Baru saja ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya, terdengar dari sebrang sana Ariel sudah menyemprot nya.
"Sorry, gue baru bangun." jawabnya dengan suara serak.
Lagi-lagi Ariel mengoceh dengan jawaban Nathan, bahkan Ariel memberitahunya jika Jessy juga belum datang.
Nathan melirik ke arah gadis yang sedang tidur terlelap di sampingnya, bahkan juga memeluknya dengan erat seakan gadis itu takut akan di tinggal oleh Nathan. Siapa lagi kalau bukan istrinya.
Kemarin adalah waktu Jessy mengunjungi mertuanya, berhubung Mami Nilam tau Jessy juga akan ikut pergi bersama Nathan esok harinya, maka Mami Nilam menyuruhnya menginap.
Meskipun Jessy sudah menolak secara halus, tapi nyatanya ia masih kalah dengan rayuan maut mertua dan Oma nya.
Setelah mengambil perlengkapan yang akan ia bawa pergi, akhirnya Jessy benar-benar menginap di rumah mertuanya.
Tapi bagi Jessy menginap di rumah mertuanya bukan hal yang mudah, ia harus ekstra waspada. Apalagi kejadian terakhir saat ia tidur dengan Nathan.
Saat di dalam kamar Nathan pun, Jessy selalu salah tingkah. Ia bahkan melakukan hal-hal konyol demi tidak berdekatan dengan suaminya.
Nathan sendiri yang melihat kelakuan aneh istrinya hanya tersenyum geli, ia tau penyebab kenapa istrinya itu sampai seperti itu. "Kalau lo ngantuk tidur aja," kata Nathan. Apalagi sekarang sudah tengah malam. "Gue nggak bakalan ngapa-ngapain lo," sindirnya dengan tersenyum tipis.
Jessy yang duduk sofa, hanya membulatkan matanya. Perkataan suaminya seakan sudah tau apa yang menjadi keresahannya. Ia tidak membalas ucapan Nathan, tapi kemudian ia beranjak dan berjalan menuju ranjang, di mana Nathan sudah sedari tadi berbaring di sana dengan buku di tangannya.
Dengan mengambil guling dan memeluknya, Jessy tidur dengan membelakangi suaminya. Meskipun ia sudah berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja ia tidak bisa untuk terlelap.
Sepertinya bukan karena tidak mengantuk yang membuatnya sulit tidur, terlihat dari matanya yang sedikit berair. Tapi tentu saja berdekatan dengan suaminya seperti ini yang membuatnya sulit terlelap meskipun sudah di dera rasa kantuk.
Hampir saja mata indah itu terpejam, tapi langsung terbuka kembali ketika merasakan pergerakan dari sisi ranjang sebelahnya.
Pikirannya seketika menjalar ke mana-mana.
Hingga jam dua pagi Nathan juga tidak bisa tidur, karena merasakan pergerakan dari Jessy yang sedari tadi tidak bisa diam.
Nathan menghembuskan nafasnya pelan. Ia kemudian mendekat ke arah istrinya yang masih membelakanginya. Tangannya langsung melingkar ke pinggang ramping Jessy. Dan seketika ia bisa merasakan tubuh istrinya yang menegang.
__ADS_1
"Kalau lo nggak tidur sekarang, gue bisa ngelakuin sesuatu yang lebih dari ini." bisik nya.
Mendengar bisikan suaminya, membuat tubuh Jessy meremang. Tapi rasa gugup jelas lebih mendominasi nya.
Akhirnya Jessy dengan terpaksa memejamkan matanya, dengan posisi Nathan yang memeluknya dari belakang.
Tidak lama Nathan mulai mendengar dengkuran halus dari Jessy. Ia tersenyum samar melihat itu. "Kalau dari tadi lo bisa tidur dengan di peluk, kenapa nggak bilang dari tadi!" Setelah itu ia juga menyusul Jessy ke alam mimpi.
Hingga di pagi hari, meskipun awal mereka tidur Nathan yang memeluk Jessy. Tapi sekarang posisi itu berubah.
Jessy sendiri menggeliat karena mendengar suara berisik. Ia masih belum menyadari di mana ia sekarang.
Nathan sendiri yang sedang menjawab telepon dari Ariel segera mengakhirinya. "Ia gue siap-siap," ujar Nathan. Bahkan terdengar di seberang sana Ariel masih saja terus mengoceh.
"Nek, jangan berisik." ucap Jessy. Bahkan ia semakin mencari posisi nyaman dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan. "Lebih baik Nenek ajak saja si Siti jalan-jalan," sambungnya.
Nathan langsung menekan tombol merah ketika melihat ponselnya masih terhubung dengan Ariel. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Kemudian membalas pelukan Jessy dan menepuk ringan punggung gadis itu. "Kalau lo nggak mau bangun sekarang, kita bisa kesiangan. Atau bagaimana jika kita mandi bersama supaya bisa mempersingkat waktu?" usulnya.
"Mandi," gumam Jessy. Ia kemudian perlahan membuka matanya, rasa-rasanya itu bukan suara Neneknya.
Saat kesadarannya sudah terkumpul seratus persen, Jessy seketika terjingkat kaget. Apalagi dengan posisinya sekarang, tentu saja Jessy langsung melepaskan seketika dan kabur ke arah kamar mandi.
"Aaaaaaaa."
Di lain tempat, Ariel sedang menatap layar ponselnya. Di mana sambungan teleponnya yang sudah berakhir beberapa saat lalu, ia sedang menerka-nerka kejadian apa yang sebenarnya terjadi di seberang sana.
"Kenapa?" tanya Reza melihat Ariel yang diam saja.
Yang lainya juga menunggu jawaban dari Ariel.
Ariel kemudian menatap ke arah Reza. "Nathan ternyata baru bangun, awas saja kalau nanti dia sudah datang!" Ariel yang terlihat kesal tapi di dalam hatinya ia akan meminta penjelasan dari sahabatnya itu langsung.
"Gil*, tumben banget tuh anak jam segini baru bangun!" Reza juga yang tak habis pikir. Tapi Ariel hanya mengangkat kedua bahunya.
Setelah pengantin baru itu menyelesaikan membersihkan diri, sekarang mereka sudah bersiap-siap pergi.
"Kalian nggak sarapan dulu?" Mami Nilam mengantar mereka hingga ke garasi.
"Nggak usah, Mi. Kita sudah kesiangan," jawab Jessy.
__ADS_1
"Padahal Mami tadi memang sengaja nggak membangunkan kalian, karena takut kalian masih tidur." ujar Mami Nilam sedikit menyesal. Karena niat hati membiarkan pasangan itu tidur, takut akan mengantuk di perjalanan.
"Tidak apa-apa Mi," Jessy meyakinkan.
"Kunci motor!" Nathan menadahkan tangannya ke arah Jessy.
Jessy yang mendengar ucapan Nathan menautkan kedua alisnya. "Kita mau pergi pakai motor?"
"Iya," jawab singkat Nathan.
"Loh kenapa nggak bawa mobil?" tanya Mami Nilam.
"Udah lama Nathan nggak naik motor," sahut Nathan.
Nilam hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban putranya, memang sudah lama ia tidak melihat anaknya naik motor. "Ya sudah, Hati-hati di jalan kalau begitu." pesannya.
"Iya, Mi."
Jessy akhirnya menyerahkan kunci motornya pada Nathan.
Nathan kemudian memindah tas ranselnya ke arah depan, agar tidak memakan tempat untuk Jessy.
Perlahan motor Jessy pergi meninggalkan halaman rumah mertuanya.
"Telpon Meili, suruh bilang pada yang lainnya agar berangkat lebih dulu." kata Nathan sedikit berteriak.
"Kenapa?" heran Jessy.
"Nanti kita langsung ke sana," jawab Nathan.
Jessy akhirnya menuruti kata Nathan untuk menelpon Meili dan memberitahunya seperti kata suaminya. Meskipun di sebrang sana Meili menanyakan alasannya, tapi Jessy langsung mematikan sambungan telpon nya.
"Pegangan," kata Nathan yang lebih mirip seperti sebuah perintah. Apalagi istrinya sedari tadi menjaga jarak duduk dengannya, ia tidak mau terjadi sesuatu nantinya.
"Nggak," jawab Jessy cepat. Ia tidak mau menempel pada punggung Nathan, bisa-bisa asetnya dua bulatan itu juga akan menempel.
Nathan yang mengetahui sifat keras kepala istrinya, langsung saja menarik gas motor yang membuat Jessy tiba-tiba tersentak kaget. Hingga mau tidak mau Jessy reflek melingkarkan tangannya pada pinggang Nathan.
...----------------...
__ADS_1
...Aku juga mau di bonceng 😁...
...Sabtu 23.04...