Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Perlu Gue Bantu Lepas?


__ADS_3

Jessy menatap tidak percaya pada sahabatnya itu, meskipun ia tau Meili selalu saja menempel padanya tapi ia tidak menyangka jika sahabatnya itu sampai membolos demi ke rumah sakit.


Hingga hari beranjak siang, Jessy terlihat sedikit membaik. Wajah cantiknya juga sudah tidak terlihat pucat, apalagi Mami Nilam yang dengan telaten membantu Jessy membersihkan diri. Meskipun sudah ada perawat yang siap membantu, tapi Mami Nilam ingin melakukannya sendiri. Baginya merawat menantunya sama saja merawat putrinya sendiri, tidak ada perbedaan antara menantu dan anak.


"Nah, sudah cantik." Mami Nilam melihat hasil karya nya yang begitu memukau setelah berhasil mengikat rambut Jessy. Padahal hanya mengikat rambut, tapi itu membuat Mami Nilam begitu senang. Apalagi ia yang sedari dulu memang menginginkan seorang putri, dan sekarang terwujud oleh kehadiran Jessy.


"Terima Kasih Mi," ucap Jessy. Meskipun Mama Mira juga baik terhadapnya, tapi dengan perlakuan Mami Nilam membuatnya seperti mendapatkan seorang ibu kembali.


Mami Nilam menggeleng. "Sesudah kewajiban orang tua untuk merawat anaknya," tuturnya lembut. "Bahkan tidak mengharapkan ucapan Terima kasih atau balasan."


Bibir Jessy semakin melengkung membentuk senyuman, sungguh Tuhan sangat baik mengirimkan keluarga seperti mertuanya.


Nathan yang duduk di sofa juga ikut tersenyum melihat istri dan maminya yang saling menyayangi.


Sedangkan Meili, jangan tanyakan gadis itu. Karena gadis itu sekarang sedang tertidur di sofa seberang Nathan. Karena semalam ia tidak bisa tidur memikirkan keadaan sahabatnya dan sekarang justru ia yang tertidur karena sudah merasa lega melihat keadaan Jessy yang sudah baik-baik saja.


Papi Tama tidak bisa untuk berlama-lama menemani menantunya, karena ia harus memimpin rapat di perusahaan.


Di sekolah, Tasya melihat dua bangku yang kosong di sebelahnya. Sebenarnya ia sedikit khawatir ketika tau jika Jessy tidak masuk hari ini, apalagi mengingat semalam kakaknya itu memakan makanan pedas. "Semoga saja tidak ada apa-apa," gumamnya.


*


*


Di kantin sekolah saat jam istirahat sudah di penuhi oleh murid yang sedang mengisi perut mereka. Tak terkecuali juga Tasya.


Dari jauh, Tasya melihat rombongan Ariel cs. Ia merasakan sedikit gugup, bertemu dengan Nathan membuatnya sedikit berdebar. Apalagi setelah mengetahui jika hubungan Jessy dan Nathan yang ia yakini tak lebih hanya sebatas teman saja, karena kakaknya itu telah memiliki seorang tunangan.

__ADS_1


Tapi ketika Ariel dan kawan-kawan sudah mulai duduk, Tasya sama sekali tidak melihat kehadiran Nathan. Ia mulai menebak-nebak, jika Nathan tidak masuk sekolah maka tepat sekali bersamaan dengan Jessy juga Meili.


Padahal terakhir kali mereka bertemu malam kemarin tidak ada yang aneh.


"Loh, Nathan Mana?" Lisa dan Tia yang menghampiri bangku Ariel cs. Seperti biasa mereka akan tebar pesona untuk mencari perhatian pada siswa tampan.


Ariel menoleh pada Lisa yang berdiri di sampingnya. "Nathan tidak masuk," jawabnya singkat. Ariel sedang tidak mood untuk berbicara, setelah tadi ia mencari tahu tentang keberadaan pujaan hatinya yang ternyata juga tidak masuk.


"Benarkah! Apa dia sakit?" tanya Lisa lagi. Bila di bandingkan dengan sahabat Nathan lainnya, memang Nathan la yang menjadi incaran pertamanya. Selain Nathan yang paling tampan, sikap dinginnya yang menjadi tantangan bagi Lisa.


"Tidak, hanya ada urusan keluarga." Kali ini Reza yang menjawab. Jika Ariel tidak semangat meskipun ada dua gadis cantik, berbeda dengan Reza. Memang benar Reza juga menyukai Jessy, tapi kalaupun ia di kasih seorang Lisa, maka ia pun tak menolak.


Sedangkan Raka, ia tak jauh beda dengan Nathan. Sikapnya selalu datar, meskipun di hadapkan dengan perempuan cantik. Karena di hatinya masih tersimpan satu nama seorang gadis.


Setelah mendengar penjelasan dari Ariel dan Reza, Lisa dan Tia segera beranjak dari sana. Dua gadis itu duduk begitu saja, di depan meja Tasya tanpa permisi. "Sayang sekali ya, Nathan tidak masuk!" keluh Lisa. "Padahal cuma dia penyemangat gue di sekolah," imbuhnya.


Tia tau sebenarnya Tasya juga mendengarkan pembicaranya dengan Lisa, meskipun Tasya berpura-pura sibuk dengan makanannya. Hingga ia mempunyai ide untuk mengerjainya sekalian, karena Tia yakin jika Tasya sebenarnya juga menyukai Nathan.


Mata Lisa membulat mendengar itu, tetapi ia kemudian tau setelah melihat ekor mata Tia yang melirik ke arah Tasya. "Jangan-jangan mereka janjian lagi?" tebak Lisa. Ia mengikuti permainan Tia.


"Apa mereka sebenarnya mempunyai hubungan?" Tia memulai menyalakan api gosipnya. "Karena kalau di lihat-lihat mereka berdua semakin dekat," imbuhnya.


Tasya yang mendengar pembicaraan kedua gadis itu, tidak ambil pusing. Karena dia percaya kalau Jessy dan Nathan tidak akan pernah bersama, melihat status Jessy yang sudah bertunangan.


*


*

__ADS_1


Malam hari, Jessy terlihat gelisah. Sedari tadi ia sebenarnya ingin sekali pergi ke kamar mandi, jika tidak ia akan mengompol di ranjang.


Jika tadi ada Mami Nilam dan Meili yang membantunya. Tapi sekarang hanya ada suaminya yang menjaganya.


Hingga di titik batasnya, Jessy sudah tidak lagi bisa menahannya. Diam-diam ia turun dari ranjang, dan mulai menarik tiang infusnya.


"Mau kemana?" Nathan menyadari pergerakan istrinya. Ia sedari tadi duduk di sofa dengan mengotak atik laptop untuk mengecek pendapatan konternya.


Jessy jelas saja langsung berhenti bergerak, dengan ragu-ragu ia menoleh ke arah Nathan. "Gue... mau ke kamar mandi," cicitnya. Dan melanjutkan kembali niatnya.


"Kenapa nggak bilang!" Nathan segera beranjak dan berjalan ke arah istrinya. "Seharusnya, infusnya di matikan dulu." Nathan kemudian menghentikan tetesan infus Jessy, agar saat di buat gerak darah tidak naik.


"Aaaaa," Jessy terkejut ketika Nathan begitu saja mengangkatnya. "Lo mau ngapain?"


"Pegang," Nathan menyuruh Jessy memegang botol infus yang ia lepas dari tiang penyanggahnya dan ia taruh di perut Jessy. Ia kemudian membawa Jessy ke dalam kamar mandi dan mendudukkan nya di atas kloset.


"Kenapa?" Nathan heran melihat Jessy yang hanya diam saja.


Jessy menatap sebal pada suaminya, kenapa harus pakai tanya. "Lo keluar dulu," ucapnya. "Mana bisa jika lo masih ada di sini," sungutnya.


Nathan tersenyum tipis. "Kenapa? Lo malu sama suami sendiri!" sindirnya. "Apa perlu gue bantu lepas?"


Jelas saja ucapan Nathan membuat mata Jessy melotot. "Yyyyaaaaaahhhh," teriaknya.


Nathan hanya tersenyum, kemudian ia keluar dan menunggu di depan pintu kamar mandi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2