
...AWAS AREA 21+...
Setelah mendapat nasehat dari Papi Tama, Nathan semakin mengerti bahwa menjalani rumah tangga memang tidak semudah yang di pikirkan. Apalagi rumah tangganya yang masih seumur jagung, ia masih harus belajar banyak tentang hal itu.
Ia tadi juga sempat kesal dengan istrinya, di saat makan malam Jessy justru dengan sengaja tebar pesona dengan teman-teman nya. Meskipun mereka adalah sahabatnya, tapi tetap saja ia merasa tidak suka.
Tapi kini ia mengerti, istrinya bersikap seperti itu mungkin hanya ingin menunjukkan jika Jessy tidak suka melihat ia dan Tasya tadi pagi.
Mendengar pintu yang terbuka, Nathan yang berada di balkon sudah menebak itu adalah kehadiran istrinya. Karena jika orang lain, mereka akan mengetuk pintu lebih dahulu.
Ia menoleh ke arah pintu kamar, dan mendapati istrinya yang berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi.
Tanpa banyak berfikir Nathan langsung berjalan menghampiri Jessy dan memeluknya dari belakang. Ia mencoba meminta maaf dan menjelaskan apa maksud ia menerima kado dari Tasya.
Nathan yakin istrinya mempunyai hati yang baik, dan benar saja tak lama ia sudah melihat sikap Jessy kembali seperti semula meskipun istrinya itu berpura-pura masih kesal terhadapnya. Terbukti ketika Jessy masuk ke dalam kamar mandi dengan pipi bersemu merah karena tadi sempat ia goda.
Akhirnya Nathan memutuskan untuk berganti pakaian sebelum tidur, tapi ketika membuka lemari lagi-lagi ia penasaran dengan paper bag yang ia lihat pagi tadi.
Nathan mengambil paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Betapa terkejutnya setelah ia mengetahui jika itu adalah lingerie. "Apa ini punya Jessy?" ia menelan saliva nya susah paya. Tentu saja ia langsung teringat bentuk tubuh polos istrinya ketika dulu ia tak sengaja melihatnya, dan pikiran-pikiran kotor mulai bersarang di kepalanya.
Cepat-cepat Nathan mengembalikan lingerie itu ke dalam lemari, dan ia langsung berbaring di ranjang sebelum istrinya keluar dari kamar mandi. Ia memainkan ponselnya untuk mengalihkan pikirannya.
Tapi itu tak membuatnya berhasil, apalagi ketika istrinya sudah berbaring di sampingnya ia semakin menggila. Membayangkan bagaimana jadinya jika Jessy mengenakan lingerie itu? Kulit putih mulus yang terbalut kain tipis bewarna merah.
Hingga akhirnya Nathan sudah sampai di batas akhir pertahanannya, ia tak mampu lagi untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya.
*
*
__ADS_1
"Ap -- ungh." Baru saja Jessy ingin bertanya, tapi ia merasakan tangan suaminya yang sudah meremas salah satu asetnya. Hingga tanpa sadar ia mengeluarkan suara yang begitu merdu di telinga Nathan.
Kesadaran Jessy mulai tak terkendali, sentuhan-sentuhan yang di berikan suaminya mulai membuatnya melayang.
Melihat Jessy yang mulai terusik kesadarannya, Nathan segera beranjak dan berpindah mengungkung tubuh istrinya. Tidak ada kata di bibir keduanya, namun tatapan mata mereka yang saling terkunci mengisyaratkan penuh arti.
Entah siapa yang memulainya, bibir keduanya kini sudah saling menempel menikmati rasa manis yang ada. Tangan kekar itu bahkan masih nyaman menggenggam apa yang tadi dia dapatkan.
Jika tadi remasan itu sedikit halus, kini lama-kelamaan itu menjadi sedikit lebih keras dengan datangnya rasa panas yang menjalar di tubuh Nathan. Ia mengakhiri cium*nnya dan menatap wajah cantik istrinya yang sekarang masih memejamkan mata dengan nafas yang memburu seperti dirinya.
Sedetik kemudian, Jessy membuka matanya dan hanya wajah suaminya yang memenuhi pandangannya.
"Apa aku boleh jika meminta hak ku sekarang?" Suara Nathan terdengar sedikit serak, ia seperti menahan sesuatu.
Jessy semakin di buat gelisah dengan itu, ingin sekali ia menolaknya. Tapi kenapa tubuhnya berkata lain? Jessy begitu saja menganggukkan kepalanya.
Di wajah tampan Nathan hanya terlihat matanya yang sayu, dan tentu saja terlihat betapa ia menginginkan istrinya untuk menjadi miliknya seutuhnya. Senyum tampannya sempat terlihat setelah mendapat ijin dari istrinya, sebelum. ia melanjutkan tindakannya ke tahap selanjutnya.
Tangan kekar itu menyusup begitu saja di balik piyama Jessy, ia ingin merasakan langsung menggenggam salah satu bulatan itu tanpa penghalang.
"Engh," lenguhan itu lolos dari bibir Jessy. Ia sedikit meremang merasakan tangan suaminya benar-benar menyentuh bulatannya tanpa penghalang.
Entah bagaimana caranya, kini Nathan sudah berhasil melepas apa yang menempel pada tubuh istrinya hingga Jessy terlihat seperti bayi yang baru lahir.
Sontak saja Jessy memalingkan wajahnya ke arah lain, rasa malu seketika merasuki nya. Apalagi ia juga melihat suaminya yang kini juga melepas pakaiannya sendiri.
Nathan yang sekarang benar-benar di kendalikan oleh gairah kemabli menyatukan bibirnya, ia semakin pintar bermain dengan benda yang tersakiti manis itu.
Perlahan tapi pasti, bibir Nathan mulai turun ke leher Jessy. Dan tentu saja ia akan memberikan tanda kepemilikannya di sana.
__ADS_1
"Akh," pekik Jessy merasakan suaminya menghisap lehernya dengan kuat. Di barengi tangan kekar Nathan yang semakin kasar bermain di kedua bulatannya.
Setelah puas memenuhi leher istrinya dengan tanda kepemilikannya, ia semakin turun hingga sampai di dua bulatan yang sejak tadi menjadi mainannya. Terlihat jelas jika istrinya juga sedang terbakar gairah, karena ujung dari bulatannya yang sudah mengeras.
Nathan mulai mengulang masa kecilnya dengan menyesap salah satu bulatan itu, meskipun tidak ada asi yang keluar tapi itu begitu nikmat ia rasakan.
Jessy semakin menggelinjang di buatnya, suara suara aneh itu terus saja keluar dari mulutnya. Rasa aneh itu sekarang berubah menjadi rasa nikmat yang susah di jelaskan.
Setelah puas Nathan menikmati dua bulatan milik Jessy, ia kini akan memulai aksi puncaknya. Ia kembali menatap wajah ayu istrinya yang sedari tadi hanya bisa terpejam menikmati aap yang ia lakukan. "Sekarang aku akan memulainya, aku akan melakukanya dengan perlahan." ijin Nathan.
Mata indah itu seketika terbuka, ia menatap lekat wajah tampan suaminya. Jessy hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.
Perlahan tapi pasti, Nathan mulai mengarahkan miliknya ke tempat bersarang yang seharusnya. Ia perlahan mulai mendorongnya, tapi baru saja masuk ia sudah mendengar ringisan dari istrinya. "Tahanlah," ucapnya.
Jessy sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika ia merasakan milik suaminya mulai memasukinya. Dan ia hanya bisa merasakan sakit.
Nathan kembali menautkan bibirnya agar istrinya sedikit melupakan rasa sakit akibat ulahnya. Tapi sedetik kemudian miliknya di bawah sana merasakan menyentuh sesuatu seperti menghalanginya. Tanpa aba-aba Nathan Nathan langsung mendorong miliknya sedikit keras hingga bisa melawati apa yang selama ini istrinya jaga.
"Akh," Jessy merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya di bawah sana benar-benar terasa sangat sakit, hanya air mata yang keluar dari matanya menggambarkan betapa sakit yang ia rasakan.
Nathan sejenak diam dan mendiamkan miliknya, ada sedikit rasa bersalah karena membuat istrinya merasakan sakit karena ulahnya. "Maafkan aku," ucapnya. ia memeluk erat tubuh istrinya. "I love you," bisik nya. Dan itu adalah pertama kalinya ia mengungkapkan kata cinta untuk seorang wanita yang sekarang telah menjadi istrinya seutuhnya.
Jessy tidak tau harus berkata apa, ia merasakan sakit dan bahagia datang bersamaan.
Hingga di detik berikutnya, di dalam kamar itu hanya ada suara suara indah yang mengalun dari pasangan suami istri itu. Mereka sama sama mencari kenikmatan dunia yang baru saja mereka rasakan.
Dan tubuh Nathan ambruk di atas tubuh Jessy ketika ia sudah mendapatkan pelepasan pertamanya. "Terima kasih telah menjaganya untuk ku."
...----------------...
__ADS_1
...Nah udah aku kasih ya adegan pemersatu emak emak, jika kalau menurut kalian kurang panas itu karena sedikit aku rem karena mengingat usia mereka yang sangat muda. Jadi ya standar standar aja π€. Kalau kalian ingin yang lebih panas, kalian bisa baca yang di kisah anaknya Mommy Jessy aja ya π. Jangan lupa untuk kasih dukungan π...