Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Nafkah


__ADS_3

"Jessy cepatlah! Kalau tidak kamu akan terlambat!" Entah sudah yang ke berapa kalinya Mariam memanggil cucunya itu, tapi tidak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar dari kamar.


Padahal Nathan sampai sudah menyelesaikan sarapannya.


Pagi-pagi sekali supir yang di suruh mami Nilam datang membawakan seragam sekolahnya serta perlengkapan yang lainnya.


Sedangkan di dalam kamar, Jessy terus mondar-mandir. Padahal ia sudah sedari tadi rapi dengan seragam sekolahnya. Apalagi kalau bukan berniat menghindari suaminya, akibat drama pagi yang begitu membuatnya serasa di lempar dalam jurang yang paling dalam.


Malu.


Hanya kata itu yang terus berputar-putar di otaknya.


"Ini semua gara-gara nenek!" kesal Jessy.


Karena sebenarnya tadi ia sudah berencana ingin berangkat sekolah sendiri, tapi neneknya dengan seenaknya menyuruh berangkat dengan Nathan. Dan sialnya, Nathan begitu saja mengiyakan.


Klek.


Pintu tiba-tiba terbuka begitu saja dari luar, terlihat suaminya yang datang menghampiri. "Lo nggak mau berangkat? Atau memang niat telat berangkat sekolah? Biar dapat hukuman dari gue!" Nathan yang tersenyum miring melihat Jessy salah tingkah karena kedatangan nya.


"Siapa bilang?" Jessy membuang mukanya. Kemudian mengambil tasnya dan berjalan mendahului Nathan.


Sedangkan Nathan semakin tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang lucu.


Di dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Apalagi Jessy yang sama sekali tidak berani melihat wajah suaminya, sehingga ia lebih memilih melihat jalan yang di lalui mobil mereka.


"Stop!" Tiba-tiba Jessy ingin berhenti.


Nathan menoleh ke arah istrinya, dan menepikan mobilnya. "Kenapa?" herannya.


"Gue turun di sini aja," ujar Jessy dan berniat turun dari mobil. Padahal sekolah masih beberapa meter lagi.


"Tunggu!" sergah Nathan, yang membuat Jessy mengurungkan niatnya.


Dengan sedikit gugup ia menoleh pada Nathan. Ia takut akan terjadi seperti yang di cerita novel-novel, di mana cowok yang mencegahnya akan tiba-tiba menciumnya.


Tapi kenyataanya, Nathan mengambil sesuatu dari dompetnya, dan menyerahkannya pada Jessy. "Ini, buat lo."


Jessy menautkan kedua alisnya, merasa heran kenapa Nathan memberinya ATM.


"Nafkah," kata Nathan. Melihat Jessy yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Huh!" Jessy yang masih belum paham.


"Sekarang lo tanggung jawab gue," ucap Nathan. "Gue harap lo udah nggak mau nerima jatah uang bulanan dari papa Danu. Meskipun yang gue kasih nggak sebanyak yang di kasih sama papa, tapi setidaknya itu cukup buat kebutuhan lo." jelas Nathan.


Ia sadar tanggung jawabnya menjadi suami, karena dari itu ia memulainya dari memberi nafkah istrinya.


"Tapi bukanya sama aja, lo kan juga dapat uang dari papi Tama!" sahut Jessy.


"Ini uang gue sendiri." Nathan langsung menaruhnya di tangan Jessy. "Lo jadi turun apa nggak!" Nathan melihat jam tangannya. "Sudah hampir telat."


Jessy berdecak kesal mendengar itu. Tadi bukannya Nathan yang mencegahnya untuk turun. "Iya," sungutnya. Kemudian turun dari mobil.


Setelah mobil Nathan pergi dari sana, Jessy memandangi ATM yang berada di tangannya. "Kalau bukan dari papi Tama? Terus dari mana?" penasarannya. Hingga kemudian sesuatu melintas di pikirannya. "Dia gak ngepet kan?"


Entah kenapa Jessy mendapatkan pikiran konyol seperti itu.


Setelah tersadar, Jessy langsung menyimpan ATM nya lalu berjalan ke arah sekolah.


Baru saja Jessy akan memasuki gerbang sekolah, terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Jessy!"


"Mama," gumam Jessy.


Mira sengaja menunggu kedatangan Jessy setelah tadi mengantarkan Tasya.


Jessy akhirnya membelokkan langkahnya ke arah Mira.


"Oh sayang!" Mira memeluk erat Jessy. "Mama kangen sekali," ucapnya.


Sedangkan Jessy, gadis itu hanya membalas pelukan Mira.


"Mama bagaimana kabarnya?" Setelah pelukan mereka terlepas.


"Baik sayang," jawab Mira. "Kamu sendiri bagaimana?"


"Baik juga Ma," Jessy tersenyum tipis.


Mira kemudian memandang lekat jessy. "Sayang, maafkan Mama yang tidak bisa datang ke acara pernikahan kamu." ucapnya dengan menyesal. Kalau saja Tasya tidak dalam keadaan demam, pasti ia akan ikut menyaksikan acara bersejarah putrinya.


Jessy tersenyum. "Tidak apa-apa Ma, lagi pula Jessy juga sudah sangat berterima kasih karena Papa mau datang menikahkan Jessy."

__ADS_1


Padahal tanpa ada yang menyadari, hati Jessy begitu terluka. Mengingat bagaimana Danu meninggalkannya begitu saja.


Jawaban Jessy seperti seperti cambukan bagi Mira. Bagaimana seorang anak bisa sangat berterima kasih karena papa nya telah menikahkannya, bukankah itu memang kewajiban bagi semua orang tua. Ia sendiri juga merasa tidak enak, karena waktu itu ia tau jika Tasya terus daja menelpon Danu untuk menyuruhnya agar cepat pulang.


"Maaf," lirih Mira. Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Tidak apa-apa, Ma." Jessy meyakinkan Mira, tapi itu justru membuat Mira semakin bersalah.


Hingga kemudian Jessy harus mengakhiri pertemuan mereka, karena sebentar lagi akan masuk sekolah. "Ma, Jessy masuk dulu." pamitnya, kemudian mencium punggung tangan Mira dan berlalu dari sana.


Sedangkan Mira menatap sendu ke arah punggung Jessy yang semakin menjauh.


Di dalam kelas, baru saja melihat kedatangan Jessy. Meili sudah menampakkan wajah kepo nya.


"Jessy!" panggil Meili.


Jessy hanya menatap sekilas ke arah Meili, kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi yang biasa ia tempati.


"Jess!" panggil Meili lagi. Gadis itu sedikit gemas karena Jessy sama sekali tidak menanggapinya.


"Apaan?" jawab Jessy malas.


"Gimana?" tanya Meili.


"Apanya?" Jessy tidak mengerti.


"Malam pertama dengan kak Nathan," bisik nya.


Mata Jessy melotot mendengar pertanyaan Meili. Jessy kemudian menyentuh kening Meili. "Pantes," ucapnya.


Sekarang giliran Meili yang bingung dengan ucapan Jessy. "Kenapa?" Ia juga menyentuh keningnya sendiri.


"Anget," jawab Jessy.


Mata Meili melotot mendengar itu, ia tahu arti kata anget yang di maksud Jessy. "Enak aja," sungutnya tidak terima.


Jessy tidak memperdulikan Meili yang kesal terhadapnya.


Tapi ia juga sedikit lega karena di awal ia masuk sekolah tadi tidak ada kabar tentang pernikahannya. Berarti Meili bisa menutup mulutnya. Karena Jessy sudah mewanti wantinya agar tidak mengatakan kepada siapa pun. Dan ia juga menceritakan, bahwa Tasya juga tidak tahu tentang pernikahannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2