Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Di saat perjalanan pulang, seperti dugaan Jessy sebelumnya. Suaminya itu pulang bersamanya, sedangkan Meili ia di jemput oleh supir rumahnya.


Tidak ada percakapan di saat perjalanan pulang itu, tapi yang jelas pikiran Jessy melayang jauh. Di mana dia merasakan sakit kembali di dalam hatinya, sakit yang tak terlihat tapi menusuk hingga ke relung hati yang terdalam.


Tanpa sadar ia melingkarkan tangannya pada pinggang Nathan yang sedang melajukan motornya, dan kemudian ia menyandarkan kepalanya pada punggung hangat yang semoga bisa menopang dirinya yang kini sedang rapuh.


Nathan mengarahkan ekor matanya pada tangan istrinya yang sekarang sedang melingkar pada perutnya. Ia tau suasana hati Jessy yang sedang tidak baik-baik saja.


Jessy hanya bisa memejamkan matanya, menikmati angin malam yang menerpa wajah ayunya. Sudah tidak ada air mata lagi yang bisa ia keluarkan untuk menangisi nasibnya, sudah cukup lama air matanya mengering.


"Lo ngantuk?" Nathan merasakan pegangan tangan Jessy yang sedikit mengendur. Ia langsung menyentuh tangan istrinya, dan betapa terkejutnya, ia merasakan tangan Jessy yang dingin serta berkeringat. "Lo sakit?"


"Nggak!" sahut Jessy seperti gumaman. Matanya masih terpejam, rasa sakit di hatinya mengalahkan rasa sakit di perutnya yang sedari tadi sudah di rasakan oleh tubuhnya.


"Ayo kita ke rumah sakit." Nathan tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan istrinya.

__ADS_1


"Nggak usah, gue nggak apa-apa." tolaknya dengan nada suara yang masih sama.


Tanpa menunggu persetujuan istrinya Nathan tetap melajukan motornya menuju ke arah rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu lama, Nathan sudah memasuki pelataran rumah sakit.


Jessy seketika membuka matanya, saat ia merasakan motornya sudah berhenti. Dan betapa terkejutnya, ternyata ia tidak berhenti di rumah neneknya atau rumah mertuanya, melainkan rumah sakit. "Udah gue bilang, gue nggak apa-apa!" kesal Jessy melihat suaminya yang tidak menghiraukan ucapannya.


Nathan memaksa Jessy untuk turun dari motor tanpa mendengarkan ocehannya. "Lo bilang nggak sakit, tapi wajah lo pucat."


"Tapi --"


Bruk.


Jessy pingsan di dalam pelukan Nathan. Samar-samar Jessy mendengar suaminya itu yang memanggilnya, tapi matanya terlalu berat untuk terbuka kembali.

__ADS_1


"Jessy!" Nathan mencoba membangunkan istrinya, tapi tak kunjung juga tersadar. Akhirnya ia memilih menggendong Jessy dan membawanya masuk kedalam rumah sakit.


Nathan menunggu di luar ruang pemeriksaan, sekarang yang dia rasakan adalah perasaan khawatir. Berharap Dokter tidak memberikannya kabar buruk.


"Andai saja." Nathan menyunggar rambutnya kasar. Sekarang hanya ada rasa penyesalan di dalam hatinya, jika saja ia mengetahuinya lebih cepat tentang nasi goreng yang ternyata pedas itu pasti tidak akan terjadi seperti ini.


Meskipun ia masih belum menyadari perasaan apa yang sekarang dia rasakan untuk istrinya, tapi melihat Jessy seperti ini, sungguh itu membuat hatinya juga ikut terluka.


Sekarang Nathan hanya bisa berdoa, berharap semuanya akan baik-baik saja.


Hingga tak lama ruangan pemeriksaan Jessy terbuka, nampak sosok Dokter yang memeriksa Jessy keluar.


Nathan langsung saja mendekati Dokter itu untuk menanyakan keadaannya. "Dokter bagaimana keadaanya?"


Dokter itu melihat Nathan yang begitu khawatir. "Kamu siapanya pasien?" Dokter itu memastikan lebih dahulu. Tidak mungkin ia memberikan informasi keadaan pasian kepada sembarang orang.

__ADS_1


"Saya suaminya." jawab Nathan.


...----------------...


__ADS_2